Tantangan Penanganan Kekerasan Seksual di Perguruan Tinggi
- 05 Agt 2026 11:47 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Penanganan kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi menuntut komitmen kelembagaan yang kuat dan keberanian untuk meruntuhkan stigma sosial, dibahas dalam Dialog Interaktif Aspirasi Sumut di Programa 1 LPP RRI Medan FM 94,3 MHz. Rabu ( 5/8/2026 ) pagi dengan narasumber Abdurrahman Zuhdi, S.I.Kom., M.I.Kom. (Ketua PPKPT UMSU) dan Dr. Wenggedes Frensh, S.H., M.H. (Satgas Penanganan 3 Dosa Dunia Pendidikan Universitas Medan Area) membedah berbagai kendala nyata yang dihadapi civitas academica dalam menciptakan iklim kampus yang aman dan inklusif.
“ Tantangan utama yang mengemuka adalah kuatnya relasi kuasa antara pelaku dan korban, yang sering kali memicu fenomena gunung es. Banyak penyintas memilih bungkam karena takut memengaruhi kelangsungan studi, karier akademik, atau mendapat stigma dari lingkungan sekitar. Pihak Satgas UMA dan PPKPT UMSU menegaskan pentingnya menjamin kerahasiaan identitas, pendampingan psikologis, serta kepastian perlindungan hukum agar korban memiliki keberanian untuk melapor tanpa rasa takut akan intimidasi atau balasan balik, “ ujar Abdurrahman Zuhdi.
Sedangkan Wenggedes Fresh yang juga menjadi narasumber mengatakan bahwa implementasi regulasi pencegahan kekerasan seksual dan penanganan "3 Dosa Besar Pendidikan" (kekerasan seksual, perundungan, dan intoleransi) di perguruan tinggi harus dibarengi dengan transparansi prosedur dan objektifitas tim penangan. Proses verifikasi laporan dilakukan secara independen tanpa membedakan status sosial atau jabatan pihak yang terlibat. Sanksi administratif maupun tindakan hukum yang tegas diberikan untuk memberikan efek jera sekaligus menegaskan ketidakpencerminan toleransi terhadap segala bentuk pelecehan di area kampus.
“ Pencegahan yang efektif membutuhkan konsistensi edukasi dan pembentukan sistem pelaporan yang mudah diakses oleh seluruh mahasiswa dan staf akademik. Langkah preventif seperti sosialisasi batas-batas sentuhan, etika berinteraksi di lingkungan kampus, serta edukasi mengenai bodily autonomy menjadi pilar utama untuk membangun budaya kampus yang saling menghormati dan responsif terhadap keselamatan bersama, ungkap Wenggedes Fresh.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....