Tetebatu Mulai dari Ulem-Ulem sampai Rumah Adat

  • 29 Okt 2023 17:54 WIB
  •  Mataram

KBRN, Lombok Timur: Desa Tetebatu tercatat sebagai desa di bawah kaki Gunung Rinjani. Masuk Kecamatan Sikur, Tetebatu sebagai tempat peristirahatan di ketinggian 600 Mtere Dari Permukaan Laut (MDPL).

Selain tercatat sebagai desa di bawah Rinjani, Tetebatu juga masuk dalam handbook perjalanan wisata dunia. Tetebatu dikenal karena kultur masyarakatnya yang masih tradisional. Di Tetebatu ada Wisma dr Soedjono atau hotel pertama di Desa Tetebatu. Wisma ini sama umurnya dengan usia Pemerintah Kabupaten Lombok Timur.

Wisma Soedjono adalah bngunan tempat beristirahat dr Soedjono. Terdiri dari empat unit kamar, satu ruang tamu, dan satu unit ruang keluarga plus dapur. Ketika ingin masuk ke wisma, pengunjung diminta untuk membuka alas kaki lebih dulu. Terdapat ruang privasi yang tidak boleh dimasuki oleh pengunjung.

Pengelola Wisma Soedjono menyediakan buku tamu. Setelah itu, pengunjung diajak pengelola untuk mengetahui prestasi dr Soedjono. Diantaranya Sejarah prestasi dan layanan kesehatan dr Soedjono, dan ide pertama nama Rumah Sakit Soedjono Selong. Dr Soedjono dikenal publik sebagai Bapak Pemberantas Kolera di Lombok.

“Atas prestasinya, Soedjono diberikan Bintang penghargaan pada 15 Oktober 1929,” kata Fenty, salah seorang pengunjung wisma kepada RRI, Minggu (29/10/2023).

Tetebatu menjadi desa terbaik yang mewakili Indonesia dalam ajang penilaian WTO tahun 2021. Terpilihnya Tetebatu karena masih mempertahankan alam, pepohonan dan rumah adat. Ketegori hutan dan iklim pun disandangnya selain sebagai destinasi kesehatan lingkungan serta budaya. Diantaranya destinasi wisata Ulem-Ulem.

Kehadiran wisatawan lokal dan mancanegara sangat penting di Tetebatu. Kehadiran mereka dapat memberi keuntunan bagi pemilik penginapan dan pemandu wisata. Wisatawan biasa mendatangi rumah adat beserta peninggalannya yang lokasinya tepat di depan Kantor Desa Tetebatu. Peninggalan rumah adat terbilang lengkap.

Ada peralatan agama dan adat. Ada sorban dan Al Quran kuno yang ditulis dengan tangan serta sampul dari kulit onta. Al Quran kuno yang dimaksud terdiri dari 30 Juz. Ada pula minyak sebagai obat yang ketika habis dibuat lagi oleh Masyarakat Tetebatu. Sempat bersaing di lomba desa UNWTO, Tetebatu kini tetap meminta dukungan Masyarakat luas sebagai desa wisata.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....