Jelang MotoGP 2026, Aruna Senggigi Pastikan Harga Kamar Hotel Tetap Rasional

  • 16 Sep 2026 14:36 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • MotoGP 2026 di Nusa Tenggara Barat menjadi sorotan utama industri pariwisata untuk peningkatan kunjungan wisatawan ke Lombok.
  • Harga tiket pesawat dan tarif kamar hotel dinilai sebagai faktor krusial yang dapat mempengaruhi keputusan wisatawan untuk berkunjung ke lokasi sirkuit.
  • Keberhasilan MotoGP sebagai penggerak pariwisata tidak hanya bergantung pada penyelenggaraan balapan, tetapi juga dukungan ekosistem pariwisata seperti kuliner, kesenian, transportasi, akomodasi, dan aksesibilitas.

RRI.CO.ID, Lombok Barat — Perhelatan MotoGP 2026 di Nusa Tenggara Barat kembali menjadi perhatian pelaku industri pariwisata. Selain kesiapan destinasi dan akses menuju kawasan sirkuit, harga tiket pesawat serta tarif kamar hotel menjadi faktor yang dinilai dapat memengaruhi minat wisatawan datang ke Lombok.

General Manager Aruna Senggigi Resort & Convention, Yeyen Heryawan, mengatakan keberhasilan momentum MotoGP sebagai penggerak pariwisata tidak hanya ditentukan oleh penyelenggaraan balapan. Sejumlah unsur lain, mulai dari kuliner, kesenian, transportasi, akomodasi hingga aksesibilitas, turut menentukan pengalaman wisatawan.

Menurutnya, MotoGP seharusnya dapat dikemas sebagai momentum promosi pariwisata yang lebih luas. Wisatawan yang datang menyaksikan balapan diharapkan tidak langsung meninggalkan NTB, tetapi melanjutkan perjalanan untuk menikmati berbagai destinasi yang tersedia di Lombok.

"Faktor lainnya adalah kesenian, transportasi, harga tiket, amenitas, jumlah hotel, juga aksesibilitas kendaraan yang bisa menuju ke venue seperti MotoGP," ujarnya, Rabu 16 September 2026.

Yeyen menilai promosi yang lebih luas diperlukan agar MotoGP tidak hanya dipandang sebagai agenda olahraga, tetapi juga menjadi pintu masuk wisatawan untuk mengenal NTB. Bahkan, promosi tersebut menurutnya dapat diperluas hingga pasar mancanegara.

"Kalau memang dikemas secara bagus, promosinya juga bisa diluaskan lagi, mungkin bisa sampai mancanegara. MotoGP bisa menjadi agenda untuk mengikuti balapan sekaligus setelah itu langsung liburan di NTB, khususnya di Lombok," katanya.

Di tengah perhatian terhadap potensi lonjakan kunjungan, persoalan tarif kamar hotel juga menjadi sorotan. Yeyen memastikan Aruna Senggigi tidak menetapkan harga secara sembarangan hanya karena adanya momentum MotoGP.

Ia mengatakan tarif kamar tetap disesuaikan dengan kondisi permintaan pasar. Hingga saat ini, menurut dia, harga kamar masih berada dalam kondisi normal dan kebutuhan terhadap tamu yang menginap selama momentum MotoGP masih terbuka.

"Kalau harga kamar kita tetap normal, tidak ada yang dibilang tinggi. Kita selalu menyesuaikan demand atau permintaan," tegasnya.

Kondisi serupa, kata Yeyen, juga terlihat dari sejumlah hotel di kawasan Mataram yang menurut pengamatannya belum menunjukkan kenaikan tarif secara berlebihan. Situasi tersebut sekaligus menunjukkan masih perlunya promosi yang lebih agresif untuk menarik wisatawan menginap selama MotoGP berlangsung.

"Beberapa kawan-kawan kita di Mataram juga belum terlalu tinggi. Intinya masih butuh tamu yang ingin menginap saat MotoGP," ucapnya.

Sementara untuk tiket pesawat, Yeyen justru menilai persoalannya berbeda. Ia melihat harga penerbangan menuju NTB bahkan sebelum momentum MotoGP sudah relatif tinggi. Kondisi itu disebutnya dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keputusan wisatawan untuk datang.

"Tiket pesawat sebelum MotoGP saja sekarang sudah tinggi menurut saya. Pasti tentunya banyak faktor, terutama naiknya harga avtur dan perang yang masih belum berkesudahan," katanya.

Menurut Yeyen, tingginya biaya penerbangan dapat menjadi salah satu faktor eksternal yang memengaruhi jumlah penonton MotoGP. Karena itu, menurutnya, persoalan akses menuju NTB perlu menjadi perhatian bersama agar momentum olahraga internasional tersebut dapat memberikan dampak lebih besar terhadap sektor pariwisata daerah.

Di sisi lain, ia menilai pengaturan tarif hotel tidak cukup hanya dengan menetapkan batas harga. Pelaku usaha perhotelan juga harus mempertimbangkan biaya operasional, kualitas layanan, serta kemampuan memberikan pengalaman yang sepadan kepada wisatawan.

"Kalau harga kamar, expense atau cost harus kita jaga. Kita juga tidak mau menaikkan rate kamar menjulang tinggi, tetapi kita tidak bisa memberikan yang terbaik untuk tamu," menegaskan.

Menurutnya, kenaikan tarif tetap merupakan bagian dari mekanisme pasar apabila permintaan meningkat. Namun, kenaikan harga perlu diikuti pelayanan yang sesuai sehingga wisatawan tidak merasa dirugikan.

"Kalau tergantung demand, kalau demand-nya tinggi ya silakan," katanya mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....