Dari Jawa ke Rinjani, Pak Wahyu Pilih Jalan Hidup Menjaga Hutan
- 20 Agt 2026 09:35 WIB
- Mataram
Poin Utama
- telaga biru desa perian
- wisata alam telaga biru desa perian lombok timur
- kuliner viral desa perian montong gading lombok timur
rri.co.id-mataram: Sahabat Sasambo, melanjutkan perjalanan Obrolan Budaya Pro 4 RRI Mataram yang tayang melalui channel YouTube RRI Mataram Official, kali ini saya, Omink Chan, mengajak Anda melihat Telaga Biru dari sudut pandang yang berbeda. Jika sebelumnya rekan saya Dika Swara berbincang mengenai perjalanan pengembangan Telaga Biru, kali ini saya bersama Wahyu Hening Kartiko, Polhut Ahli Pertama sekaligus Kepala Resort Tetebatu di lingkup Taman Nasional Gunung Rinjani atau TNGR. Dari Pak Wahyu, kita akan mengenal lebih jauh bagaimana kawasan konservasi dijaga di tengah berkembangnya aktivitas wisata.
Sahabat Sasambo, sebelum masuk lebih jauh membicarakan hutan, saya terlebih dahulu ingin mengenal sosok Pak Wahyu. Dari namanya saya sudah menduga bahwa beliau bukan berasal dari Lombok. Dugaan itu ternyata benar. Pak Wahyu mengatakan dirinya berasal dari Jawa Timur, tetapi sudah sangat lama tinggal di Lombok.
Ketika saya bertanya sejak kapan berada di Lombok, jawabannya cukup mengejutkan. Pak Wahyu mengatakan dirinya sudah berada di Lombok sejak 1992. Artinya, meskipun bukan kelahiran Lombok, perjalanan hidupnya sudah cukup panjang bersentuhan dengan masyarakat dan alam di Pulau Lombok.
Perjalanannya bersama Taman Nasional Gunung Rinjani sendiri dimulai pada 2018. Pak Wahyu menceritakan ketika itu terdapat formasi kebutuhan dari Kementerian Kehutanan. Ia kemudian mengikuti proses pendaftaran dan akhirnya diterima untuk menjalankan tugas di lingkungan Taman Nasional Gunung Rinjani.
Saya kemudian penasaran, mengapa Pak Wahyu memilih menjadi seorang polisi hutan atau Polhut? Menurutnya, latar belakang pendidikannya memang dekat dengan dunia alam karena dahulu ia menempuh pendidikan di bidang biologi. Ketertarikannya kepada alam kemudian mendorongnya memilih pekerjaan yang memungkinkan dirinya ikut menjaga kawasan hutan.
Pak Wahyu juga bercerita bahwa pekerjaan sebagai Polhut membutuhkan kondisi fisik yang cukup kuat. Pada masa memilih pekerjaan tersebut, kondisi fisiknya mendukung untuk menjalani aktivitas lapangan. Dengan ketertarikan pada alam sekaligus kesiapan fisik itulah akhirnya ia merasa lebih cocok menjalani tugas sebagai polisi hutan.
Nah, Sahabat Sasambo, dari cerita singkat tersebut saya mulai melihat bahwa pekerjaan menjaga hutan bukan semata mengenakan seragam dan berpatroli. Ada hubungan antara pengetahuan tentang alam, kecintaan terhadap lingkungan, dan kesiapan berada di lapangan. Lantas, sebenarnya apa saja tugas seorang polisi hutan dan seberapa penting perannya bagi kelestarian kawasan konservasi? Itu yang kemudian saya tanyakan kepada Pak Wahyu.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....