Bukan Cuma Spot Foto, Telaga Biru Siapkan Kejutan Budaya

  • 20 Agt 2026 09:35 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • telaga biru desa perian
  • wisata alam telaga biru desa perian lombok timur
  • kuliner viral desa perian montong gading lombok timur

rri.co.id-mataram: Sahabat Sasambo, sampailah kita pada bagian akhir rangkaian perjalanan saya bersama Hasbi dalam Obrolan Budaya Pro 4 RRI Mataram yang tayang melalui channel YouTube RRI Mataram Official. Setelah mendengar bagaimana Telaga Biru bermula dari reban, diperkenalkan lewat media sosial, dibangun dengan swadaya, hingga mulai ramai pada 2026, saya menanyakan satu hal terakhir kepada Hasbi: seperti apa Telaga Biru yang ingin mereka wujudkan pada masa mendatang?

Hasbi mengatakan bahwa dirinya bersama teman-teman memiliki konsep untuk meningkatkan daya kunjungan. Namun, Sahabat Sasambo, konsepnya tidak semata-mata menambah bangunan atau membuat spot baru. Ia justru ingin menghadirkan sesuatu yang dapat membawa pengunjung kembali mengenang masa-masa ketika mereka masih kecil. Gagasan tersebut diarahkan pada permainan-permainan tradisional serta suasana kehidupan masyarakat yang dahulu akrab dalam keseharian.

Selain permainan, Hasbi juga ingin mengangkat unsur budaya. Menurutnya, ide-ide tersebut masih berada dalam proses dan tentu membutuhkan waktu untuk diwujudkan. Ia menyadari bahwa mengembangkan konsep baru tidak dapat dilakukan secara instan. Seperti perjalanan Telaga Biru selama ini, semua tetap memerlukan proses, kerja bersama, kesiapan fasilitas, serta dukungan berbagai pihak.

Saya pun ikut mendoakan agar rencana tersebut dapat berjalan lancar. Sebab jika gagasan itu terwujud, Telaga Biru tidak hanya menjadi tempat orang datang untuk berfoto atau menikmati air yang jernih. Kawasan ini dapat menjadi ruang yang mempertemukan wisata alam dengan ingatan tentang permainan masa kecil, tradisi lokal, kuliner, serta kehidupan masyarakat Sasak di sekitar Gunung Paok.

Menjelang akhir obrolan, saya kembali mengingatkan Sahabat Sasambo bahwa perjalanan Telaga Biru membutuhkan waktu yang sangat panjang. Hasbi dan teman-temannya menghabiskan sekitar sembilan tahun untuk melalui berbagai tahap. Jadi tempat yang sekarang terlihat semakin tertata itu, kata saya kepada Hasbi, bukan muncul “ujuk-ujuk” begitu saja. Ada gotong royong, perdebatan, keterbatasan biaya, pengorbanan pengelola, hingga dukungan Taman Nasional yang menjadi bagian dari prosesnya.

Cerita Telaga Biru pun ternyata belum berhenti pada wisata alam. Hasbi memberi tahu saya bahwa mereka sudah mulai menciptakan kuliner sendiri. Informasi itu tentu langsung membuat saya penasaran. Kalau sebelumnya kita sudah mengenal kopi tebuk yang diproses secara tradisional, kini ada pula kuliner yang dikembangkan sebagai bagian dari pengalaman pengunjung. Kehadiran kuliner sekaligus membuka peluang bagi UMKM untuk tumbuh bersama destinasi.

Sahabat Sasambo, perjalanan bersama Hasbi memberi kita satu gambaran bahwa sebuah destinasi dapat tumbuh dari sesuatu yang sangat sederhana: kebutuhan air masyarakat, bendungan tanah dan karung, sebuah foto di Facebook, video di YouTube, serta keberanian anak-anak muda memberikan nama Telaga Biru. Dari sana lahir perjuangan sembilan tahun yang terus berlanjut hingga hari ini. Dan selepas berbincang dengan Hasbi, perjalanan saya belum selesai, karena berikutnya saya akan mengajak Sahabat Sasambo mengenal lebih dekat pelaku UMKM dan kuliner yang hadir di kawasan Telaga Biru.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....