Rela Tak Menerima Upah demi Menata Telaga Biru

  • 20 Agt 2026 09:37 WIB
  •  Mataram

rri.co.id-mataram: Sahabat Sasambo, kelanjutan cerita Hasbi dalam Obrolan Budaya Pro 4 RRI Mataram di channel YouTube RRI Mataram Official membawa saya pada sisi pengorbanan para pengelola Wisata Alam Telaga Biru. Setelah berhasil mempertahankan gagasan pengembangan wisata, tantangan berikutnya adalah pembiayaan. Fasilitas sederhana sekalipun membutuhkan bahan dan biaya. Sementara pada masa itu, Telaga Biru belum memiliki pemasukan besar seperti sebuah destinasi wisata yang sudah mapan.

Hasbi mengatakan bahwa dari hasil yang diperoleh, pengelola berusaha menyisihkan bagian khusus untuk penataan kawasan. Prioritas mereka bukan langsung menikmati seluruh pendapatan yang ada, melainkan mengembangkan Telaga Biru lebih dahulu. Prinsipnya sederhana: hasil yang diperoleh dikembalikan untuk memperbaiki dan menambah fasilitas agar tempat tersebut semakin baik pada masa mendatang.

Pengorbanannya tidak kecil, Sahabat Sasambo. Hasbi mengatakan terkadang orang-orang yang bertahan mengelola Telaga Biru bahkan tidak menerima upah selama satu bulan. Mereka sadar bahwa destinasi tersebut masih berada dalam tahap proses. Menurut Hasbi, ia mengajak teman-temannya menggunakan hasil yang diperoleh untuk pengembangan lebih dahulu sehingga pada masa mendatang Telaga Biru dapat memberikan manfaat yang lebih baik.

Hasbi bahkan menggambarkan kondisi pada masa itu dengan cerita sederhana. Kadang dalam dua minggu, yang dapat dinikmati teman-teman pengelola hanya sekadar beberapa batang rokok. Meski kondisi ekonomi pengelolaan masih sangat terbatas, banyak di antara mereka yang tetap memilih bertahan. Dari semangat itulah, fasilitas sedikit demi sedikit mulai muncul, termasuk pengaturan kawasan dan tempat parkir.

Dalam proses selanjutnya, pengelola juga mulai berkomunikasi dengan pihak Taman Nasional Gunung Rinjani. Hasbi menegaskan bahwa pihak Taman Nasional memberikan dukungan yang sangat besar terhadap aktivitas mereka. Ia bahkan beberapa kali menyampaikan rasa terima kasih karena pengelola diberikan ruang untuk berkreasi mengembangkan kawasan wisata.

Namun dukungan itu tentu berjalan bersama tanggung jawab menjaga alam. Hasbi menyampaikan prinsip yang menurut saya sangat penting, Sahabat Sasambo: kreativitas boleh berkembang selama tidak merusak hutan. Dalam penjelasannya, pihak Taman Nasional pada dasarnya mendukung kreativitas masyarakat selama kegiatan yang dilakukan tetap baik dan menjaga kawasan. Artinya, pengembangan wisata harus berjalan berdampingan dengan perlindungan lingkungan.

Perlahan, hasil perjuangan tersebut mulai terlihat. Foto-foto Telaga Biru semakin beredar, orang mulai datang satu per satu, dan kawasan yang dahulu hanya reban untuk kebutuhan air berubah menjadi tempat yang semakin dikenal. Perubahan jumlah pengunjung juga membawa peluang ekonomi baru. Sahabat Sasambo, setelah bertahun-tahun sulit mencari segelas kopi di sekitar lokasi, kini mulai muncul pedagang dan UMKM yang ikut tumbuh bersama ramainya Telaga Biru.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....