Cidomo Gili Trawangan,Warisan Kearifan Lokal yang Tetap Bertahan

  • 30 Jul 2026 13:28 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Di tengah pesatnya perkembangan transportasi modern, Gili Trawangan di Kabupaten Lombok Utara justru mempertahankan identitasnya sebagai pulau bebas kendaraan bermotor. Di pulau wisata kelas dunia ini, suara deru mesin digantikan oleh derap langkah kuda yang menarik cidomo, moda transportasi tradisional yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat dan daya tarik wisata.

Bagi wisatawan yang pertama kali menginjakkan kaki di Gili Trawangan, cidomo bukan sekadar alat transportasi. Kereta kuda berwarna-warni yang dihiasi ornamen khas Lombok itu menghadirkan pengalaman berbeda, mengajak pengunjung menikmati suasana pulau dengan ritme yang lebih tenang, alami, dan ramah lingkungan.

Nama cidomo merupakan akronim dari tiga kata, yakni cikar, dokar, dan mobil (atau montor dalam bahasa Sasak). Kendaraan ini memadukan bentuk cikar, fungsi dokar sebagai angkutan penumpang, serta penggunaan roda mobil sehingga lebih kuat dan nyaman dibandingkan dokar tradisional beroda kayu.

Sejarah pasti kemunculan cidomo di Lombok belum diketahui secara pasti. Namun, berbagai literatur menyebut kendaraan ini berkembang sebagai hasil adaptasi masyarakat terhadap kebutuhan transportasi lokal. Di Gili Trawangan sendiri, cidomo mulai digunakan secara luas sejak awal berkembangnya sektor pariwisata pada dekade 1980-an dan hingga kini tetap menjadi moda transportasi utama.

Keunikan Gili Trawangan terletak pada kebijakan yang tidak memperbolehkan kendaraan bermotor beroperasi di dalam pulau. Wisatawan maupun masyarakat hanya menggunakan tiga moda transportasi, yakni berjalan kaki, bersepeda, dan cidomo.

Kebijakan tersebut membuat kualitas udara tetap terjaga sekaligus menghadirkan suasana yang lebih nyaman bagi wisatawan. Tidak mengherankan jika banyak wisatawan mancanegara menyebut pengalaman menaiki cidomo sebagai salah satu aktivitas yang wajib dicoba saat berkunjung ke Gili Trawangan.

Bagi masyarakat lokal, cidomo merupakan sumber penghidupan yang telah diwariskan lintas generasi. Banyak kusir yang telah menjalani profesi ini selama puluhan tahun. Selain mengantar wisatawan menuju hotel, pelabuhan, maupun pusat kuliner, mereka juga menjadi "wajah pertama" yang menyambut tamu ketika tiba di pulau.

Tidak sedikit kusir cidomo yang bahkan belajar bahasa Inggris secara otodidak agar mampu berkomunikasi dengan wisatawan asing. Hal tersebut menunjukkan bahwa transportasi tradisional pun mampu beradaptasi dengan tuntutan industri pariwisata modern.

Keberadaan cidomo merupakan bentuk nyata kearifan lokal masyarakat Lombok dalam menjaga keseimbangan antara aktivitas ekonomi dan kelestarian lingkungan. Di tengah tren kendaraan listrik dan teknologi transportasi modern, cidomo justru menawarkan konsep mobilitas rendah emisi yang telah diterapkan jauh sebelum isu lingkungan menjadi perhatian dunia.

Namun demikian, pelestarian cidomo tidak cukup hanya mempertahankan keberadaannya. Aspek kesejahteraan kuda, kesehatan hewan, kebersihan lingkungan, hingga peningkatan pelayanan kepada wisatawan juga perlu menjadi perhatian bersama agar transportasi tradisional ini tetap berkelanjutan.

Penelitian terbaru mengenai transportasi cidomo di Gili Trawangan merekomendasikan pengelolaan yang semakin profesional melalui koperasi, peningkatan standar kesejahteraan kuda, serta edukasi kepada para kusir agar keberlanjutan pariwisata dan kesejahteraan masyarakat dapat berjalan beriringan.

Meski transportasi modern berkembang sangat cepat, cidomo membuktikan bahwa moda tradisional masih memiliki nilai ekonomi yang tinggi apabila dikelola dengan baik. Justru keunikan inilah yang menjadi pembeda Gili Trawangan dibanding banyak destinasi wisata lainnya.

Wisatawan tidak hanya membeli jasa transportasi, tetapi juga menikmati pengalaman budaya, keramahan masyarakat, serta suasana pulau yang tenang tanpa polusi kendaraan bermotor.

Melestarikan cidomo berarti menjaga identitas Gili Trawangan sebagai destinasi wisata berkelanjutan sekaligus mempertahankan warisan budaya masyarakat Lombok agar tetap hidup dan relevan bagi generasi mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....