Penting! Ketelitian Seorang Chef, Dari Takaran hingga Penyajian
- 30 Jun 2026 20:17 WIB
- Mataram
Poin Utama
- wisata ntb
- PARIWISATA BUDAYA NTB
rri.co.id- Mataram: Masih bareng saya, Dika Swara. Sahabat RRI, selama berada di dapur Selong Selo Resort, saya jadi semakin memahami bahwa menjadi seorang chef ternyata jauh lebih rumit daripada yang selama ini saya bayangkan. Banyak orang melihat hasil akhirnya berupa makanan yang cantik dan menggugah selera, tetapi sedikit yang mengetahui bagaimana proses panjang di baliknya. Mulai dari menimbang setiap bahan, mengatur komposisi bumbu, memastikan tingkat kematangan yang pas, hingga menyusun hidangan agar terlihat menarik di atas meja. Semua dikerjakan dengan penuh ketelitian. Hal inilah yang membuat saya penasaran dan kembali berbincang dengan Chef Cipto mengenai proses yang mereka jalani setiap hari.
Chef Cipto kemudian mengajak saya melihat proses pembuatan salah satu kue tradisional yang sedang dipersiapkan. Saat itu saya memperhatikan setiap adonan ditimbang menggunakan timbangan digital. Tidak ada yang dilakukan dengan perkiraan semata. Bahkan ukuran satu butir klepon pun sudah memiliki standar tersendiri. "Kalau untuk klepon, biasanya adonannya sekitar lima belas gram, kemudian isi gula merahnya juga sudah ada ukurannya. Jadi hasilnya nanti seragam, baik bentuk maupun rasanya," jelas Chef Cipto. Saya pun tersenyum karena baru menyadari bahwa di balik kue kecil yang tampak sederhana ternyata ada hitungan yang sangat detail.
Menurut Chef Cipto, konsistensi adalah salah satu hal yang paling penting dalam dunia kuliner. Wisatawan yang datang hari ini harus mendapatkan rasa yang sama ketika kembali berkunjung beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun kemudian. Karena itulah setiap resep selalu memiliki standar yang harus dipatuhi. "Kalau takarannya berubah sedikit saja, hasil akhirnya juga bisa berbeda. Makanya semua harus disiplin mengikuti standar resep yang sudah dibuat," ungkapnya. Dari penjelasan itu saya semakin memahami bahwa menjadi chef bukan hanya mengandalkan bakat memasak, tetapi juga membutuhkan kedisiplinan yang tinggi.
Saya kemudian teringat dengan cerita Chef Radit di awal pertemuan kami. Ia sempat bercanda bahwa dulu memilih sekolah kuliner karena mengira tidak akan banyak pelajaran berhitung. Namun kenyataannya justru sebaliknya. "Awalnya saya pikir masuk dunia kuliner enggak banyak hitung-hitungan. Ternyata semua harus dihitung, mulai dari bawang, garam, sampai setiap gram bumbu harus tepat," katanya sambil tertawa. Cerita itu membuat suasana obrolan menjadi lebih santai, tetapi sekaligus menunjukkan bahwa dunia dapur ternyata penuh dengan ketelitian yang tidak banyak diketahui orang.
Tidak hanya soal ukuran bahan, ketelitian juga terlihat saat proses mencicipi makanan. Chef Radit menjelaskan bahwa sebelum sebuah hidangan disajikan kepada tamu, mereka selalu melakukan pengecekan rasa terlebih dahulu. Apalagi untuk menu yang banyak dipesan wisatawan asing. "Kami selalu tes dulu. Kalau ada yang kurang pas, langsung diperbaiki sebelum keluar ke tamu. Jadi setiap piring yang disajikan benar-benar sudah melewati proses pengecekan," ujarnya. Baginya, kualitas tidak boleh bergantung pada keberuntungan. Semua harus dipastikan sejak awal agar setiap tamu mendapatkan pengalaman terbaik.
Hal lain yang juga menarik perhatian saya adalah bagaimana kedua chef ini begitu menghargai proses belajar. Chef Cipto mengatakan bahwa menjadi chef tidak pernah berhenti belajar karena selera tamu selalu berkembang. Mereka harus terus mencoba, mengevaluasi, dan memperbaiki setiap hidangan tanpa melupakan identitas kuliner Lombok. "Setiap hari pasti ada pelajaran baru. Kadang kami mendapatkan masukan dari tamu, kadang dari pengalaman memasak sendiri. Semua itu menjadi bekal untuk terus meningkatkan kualitas," tuturnya. Saya melihat semangat itulah yang membuat dapur Selong Selo Resort terus berkembang tanpa meninggalkan akar budayanya.
Dari obrolan hari ini saya semakin menghargai profesi seorang chef. Ternyata di balik sepiring makanan yang tersaji cantik, ada ilmu, ketelitian, kesabaran, dan tanggung jawab yang sangat besar. Setiap gram bumbu memiliki peran, setiap langkah memasak memiliki alasan, dan setiap sajian membawa nama baik dapur yang menyediakannya. Tidak heran jika Chef Radit dan Chef Cipto begitu menjaga setiap proses yang mereka lakukan. Karena bagi mereka, makanan bukan sekadar hidangan, melainkan bentuk penghormatan kepada tamu sekaligus kebanggaan terhadap kuliner Lombok yang mereka perkenalkan kepada dunia. Saya Dika Swara, akan kembali menemani Sahabat RRI dalam cerita terakhir perjalanan kita dari Selong Selo Resort pada artikel berikutnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....