Ayam Taliwang Menjadi Menu Andalan Wisatawan Mancanegara

  • 30 Jun 2026 12:58 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • wisata ntb
  • budaya

rri.co.id-Mataram : Sahabat RRI, saya Dika Swara. Kali ini saya mengajak semuanya berjalan-jalan ke salah satu resort yang menawarkan panorama luar biasa di Lombok, yaitu Selong Selo Resort. Selain terkenal dengan pemandangan bukit yang langsung menghadap ke laut, ternyata resort ini juga memiliki daya tarik lain yang tidak kalah menarik, yakni sajian kuliner khas Lombok yang berhasil memikat wisatawan dari berbagai negara. Rasa penasaran membawa saya menuju area outdoor kitchen, tempat para chef setiap hari menyajikan hidangan terbaik bagi para tamu. Di sinilah saya bertemu dengan Chef Radit yang sedang sibuk menyiapkan salah satu menu andalan mereka, Ayam Taliwang.

Saat saya mendekat, aroma bumbu yang sedang diulek langsung memenuhi udara. Di atas meja sudah tersusun cabai merah, bawang merah, bawang putih, terasi, tomat, dan berbagai rempah khas Nusantara. Saya pun membuka obrolan dengan sebuah pertanyaan sederhana. Mengapa di resort yang sebagian besar tamunya berasal dari mancanegara justru Ayam Taliwang menjadi menu favorit. Chef Radit tersenyum sebelum menjawab. "Ayam Taliwang ini memang salah satu menu bestseller kami. Hampir semua tamu yang datang ingin mencoba makanan khas Lombok. Mereka penasaran seperti apa cita rasa yang selama ini hanya mereka dengar dari cerita atau internet," ungkapnya.

Mendengar penjelasan itu saya semakin memahami bahwa kuliner ternyata menjadi salah satu cara terbaik untuk memperkenalkan budaya kepada wisatawan. Chef Radit bercerita bahwa meskipun tamu berasal dari berbagai negara, mereka tetap ingin menikmati makanan yang benar-benar mencerminkan identitas Lombok. Karena itu, dapur Selong Selo tetap mempertahankan resep tradisional. "Kami tidak mengubah bumbu utamanya. Semua bahan tetap autentik. Yang kami sesuaikan hanya tingkat kepedasannya supaya lebih nyaman dinikmati tamu asing," jelasnya. Menurutnya, menjaga keaslian rasa jauh lebih penting dibanding mengikuti selera pasar secara berlebihan.

Hal lain yang menarik perhatian saya adalah proses pembuatan bumbu. Di tengah dapur modern dengan berbagai peralatan canggih, Chef Radit masih menggunakan ulekan batu untuk menghaluskan bumbu Ayam Taliwang. Saya pun bertanya mengapa cara tradisional itu masih dipertahankan. Ia menjawab dengan penuh keyakinan. "Kalau diulek pakai batu, aroma rempahnya lebih keluar dan rasanya jauh lebih autentik dibanding diblender. Banyak tamu yang bahkan memperhatikan proses ini dan bilang rasanya memang berbeda." Dari jawaban itu saya menyadari bahwa sebuah cita rasa tidak hanya ditentukan oleh resep, tetapi juga oleh cara mengolahnya.

Chef Radit juga berbagi cerita tentang reaksi wisatawan saat pertama kali mencicipi Ayam Taliwang. Katanya, banyak tamu yang awalnya sedikit ragu karena melihat warna sambalnya yang begitu merah menyala. Namun setelah mencoba suapan pertama, ekspresi mereka langsung berubah. "Mereka sering bilang ternyata makanan Indonesia enak sekali. Bahkan banyak yang kembali memesan Ayam Taliwang keesokan harinya karena merasa ketagihan," ujarnya sambil tersenyum. Pengalaman seperti itulah yang membuat dirinya semakin bangga bisa memperkenalkan makanan khas Lombok kepada dunia.

Perjalanan saya di dapur Selong Selo kemudian berlanjut bersama Chef Cipto yang menangani berbagai sajian tradisional lainnya. Menurut Chef Cipto, makanan bukan hanya soal mengenyangkan perut, tetapi juga menjadi media untuk memperkenalkan budaya. "Setiap tamu yang menikmati makanan khas Lombok sebenarnya sedang belajar tentang budaya masyarakat kita. Dari bahan-bahan lokal, cara memasak, sampai penyajiannya, semuanya memiliki cerita," tuturnya. Saya mengangguk setuju. Tidak semua orang bisa memahami budaya melalui bahasa, tetapi hampir semua orang bisa mengenalnya lewat makanan yang mereka nikmati.

Dari kunjungan kali ini saya membawa satu kesimpulan sederhana. Ayam Taliwang bukan lagi sekadar makanan khas Lombok, melainkan telah menjadi duta budaya yang memperkenalkan Nusa Tenggara Barat kepada wisatawan dunia. Di balik setiap sajian tersimpan kerja keras para chef yang tetap menjaga resep warisan leluhur sambil menyesuaikan penyajian agar bisa dinikmati oleh tamu dari berbagai negara. Semoga semakin banyak kuliner tradisional Indonesia yang mampu tampil di panggung internasional tanpa kehilangan jati dirinya. Saya Dika Swara, pamit dari Selong Selo Resort. Sampai bertemu lagi dalam perjalanan budaya dan kuliner berikutnya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....