Konservasi Laut Jadi Magnet Wisatawan Menginap di Seven Secrets Lombok
- 28 Jun 2026 12:50 WIB
- Mataram
Poin Utama
- Menjaga laut kini menjadi bagian dari pengalaman wisata yang ditawarkan Seven Secrets Lombok.
- Wisatawan mulai mencari pengalaman yang memiliki nilai lebih, termasuk keterlibatan dalam menjaga lingkungan.
- Marketing Manager Booking.com, Ayuk Yulianingsih, menilai tren wisata berkelanjutan kini semakin menjadi pertimbangan wisatawan dalam memilih akomodasi.
RRI.CO.ID, Lombok Utara – Menjaga laut kini menjadi bagian dari pengalaman wisata yang ditawarkan Seven Secrets Lombok. Melalui kegiatan Ocean & Art: Therapy by the Sea, hotel di kawasan Nipah, Lombok Utara itu tidak hanya mengajak komunitas melakukan restorasi terumbu karang, tetapi juga menjadikan aktivitas lingkungan sebagai daya tarik baru bagi wisatawan.
General Manager Seven Secrets, Hanny Zulfina, mengatakan konsep pariwisata saat ini tidak lagi hanya mengandalkan kemewahan fasilitas hotel. Wisatawan mulai mencari pengalaman yang memiliki nilai lebih, termasuk keterlibatan dalam menjaga lingkungan.

“Hotel yang bagus bukan hanya tentang fasilitas, tetapi bagaimana memberikan dampak kepada masyarakat dan lingkungan,” kata Hanny kepada RRI, Sabtu 27 Juni 2026.
Menurut dia, kegiatan konservasi laut menjadi salah satu alasan wisatawan tertarik datang. Para tamu tidak hanya menikmati panorama pantai Nipah, tetapi juga bisa melihat langsung upaya menjaga ekosistem laut.
Kegiatan seperti penanaman terumbu karang, kata Hanny, membuat wisatawan merasa menjadi bagian dari perjalanan konservasi. Mereka bisa melihat perubahan kawasan laut dari waktu ke waktu.
“Ketika tamu datang dan bisa melihat hasil dari apa yang mereka ikut lakukan, itu menjadi pengalaman yang berbeda,” ujarnya.
Seven Secrets mencatat tren positif dari meningkatnya minat wisatawan terhadap konsep wisata berkelanjutan. Hanny menyebut tingkat hunian hotel mengalami pertumbuhan setelah berbagai aktivitas yang melibatkan lingkungan dan komunitas dilakukan.
Ia mengatakan sejak 2024 hingga 2025 terjadi peningkatan kunjungan yang cukup signifikan. Bahkan hingga pertengahan 2026, okupansi hotel disebut telah meningkat sekitar 80 persen dibanding periode sebelumnya.
Menurut Hanny, wisatawan kini tidak hanya mencari tempat menginap, tetapi juga aktivitas yang memberi pengalaman baru. “Mereka ingin tahu apa yang bisa dilakukan di sebuah destinasi, bukan hanya datang lalu pulang,” katanya.
Selain konservasi laut, hotel juga menggandeng masyarakat lokal dalam operasionalnya. Mulai dari penggunaan bahan pangan lokal hingga penyerapan tenaga kerja dari sekitar kawasan Nipah.
Hanny mengatakan keberlanjutan menjadi bagian penting dari strategi pengembangan pariwisata ke depan. Menurut dia, menjaga alam bukan hanya tanggung jawab lingkungan, tetapi juga investasi bagi industri wisata.
“Kalau alamnya terjaga, wisatawan akan terus datang. Karena yang mereka cari adalah pengalaman yang otentik,” ujar Hanny.
Marketing Manager Booking.com, Ayuk Yulianingsih, menilai tren wisata berkelanjutan kini semakin menjadi pertimbangan wisatawan dalam memilih akomodasi. Menurut dia, wisatawan tidak hanya mencari tempat menginap yang nyaman, tetapi juga ingin mengetahui dampak positif yang diberikan sebuah properti terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.
“Sekarang banyak wisatawan yang mulai melihat bagaimana sebuah akomodasi menjalankan praktik keberlanjutan. Mereka ingin punya pengalaman yang lebih bermakna saat berlibur,” kata Ayuk.
Menurutnya, kolaborasi antara industri perhotelan, komunitas, dan platform digital menjadi penting untuk memperkuat ekosistem pariwisata berkelanjutan di NTB. Ia menilai kegiatan seperti yang dilakukan Seven Secrets dapat menjadi contoh bagaimana sektor pariwisata tumbuh dengan tetap menjaga alam.
“Ketika sebuah destinasi mampu menjaga lingkungan dan melibatkan masyarakat lokal, itu menjadi nilai tambah yang membuat wisatawan semakin tertarik datang,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....