Seven Secrets Hadirkan “Terapi Laut” di Nipah, Gabungkan Seni dan Restorasi Karang
- 28 Jun 2026 12:48 WIB
- Mataram
Poin Utama
- Ocean & Art: Therapy by the Sea, Seven Secrets menggabungkan edukasi lingkungan, seni, hingga restorasi terumbu karang di kawasan Nipah, Lombok Utara.
- Restorasi terumbu karang juga menjadi daya tarik baru bagi wisatawan.
- Marketing Manager Booking.com, Ayuk Yulianingsih, menilai tren wisata berkelanjutan semakin diminati wisatawan.
RRI.CO.ID, Lombok Utara – Seven Secrets By Hanging Gardens, berkolaborasi dengan Indonesia Biru, menggelar event bertajuk World Ocean Day, dengan tema Ocean Art & Therapy. Event ini mengajak para tamu dan komunitas terlibat langsung dalam upaya menjaga ekosistem laut melalui seni, edukasi, dan restorasi terumbu karang.
Kegiatan yang digelar dalam rangka memperingati Hari Laut Sedunia itu menjadi salah satu aksi konservasi terbesar yang dilakukan di Lombok tahun ini. Puncak kegiatan dari acara Ocean Art & Teraphy, adalah Talk Show, yang di hadiri oleh beberapa pembicara yang ahli di bidang masing-masing, Seven Secrets Selaku Hotel Luxury yang membawa upaya Sustainability dalam standard nya, Booking.com selalu platform pemesanan kamar terbesar di dunia, Indonesia Biru, selalu Marine Enthusiast, dan yang terakhir Wise Step, Komunitas berbasis pemberdayaan masyarakat.
Ketua Event Ocean Art & Therapy, Fahmi Sulukinaja, mengatakan kegiatan itu menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai pihak agar kepedulian terhadap laut semakin luas. “Tujuannya bukan hanya merayakan Hari Laut Sedunia, tetapi juga mengajak banyak pihak ikut menjaga laut, khususnya kawasan Nipah,” kata Fahmi, Sabtu 27 Juni 2026.

Dalam kegiatan tersebut, peserta mengikuti sejumlah aktivitas, mulai dari cyanotype painting atau seni cetak menggunakan cahaya matahari hingga penanaman terumbu karang (coral restoration). Fahmi menyebut kegiatan restorasi kali ini menjadi salah satu yang terbesar dilakukan di kawasan tersebut sepanjang tahun ini.
Menurut dia, kondisi laut di kawasan Nipah masih tergolong baik. Namun, keberlanjutan ekosistem laut tetap membutuhkan perhatian agar tidak rusak akibat aktivitas yang tidak bertanggung jawab. “Nipah harus dijaga. Kita ingin masyarakat sadar bahwa laut adalah aset bersama yang harus dipelihara,” ujarnya.
Ia mengatakan pengembangan wisata laut tidak cukup hanya dengan membangun fasilitas. Menurut dia, pariwisata harus berjalan berdampingan dengan upaya menjaga alam.
Hal senada disampaikan General Manager Seven Secrets, Hanny Zulfina. Ia mengatakan tidak semua akomodasi wisata memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.

“Hotel yang bagus bukan hanya soal fasilitas, tetapi bagaimana destinasi itu memberikan timbal balik kepada masyarakat dan lingkungan,” katanya.
Menurut Hanny, kegiatan seperti restorasi terumbu karang juga menjadi daya tarik baru bagi wisatawan. Mereka tidak hanya datang menikmati pantai, tetapi bisa ikut terlibat dalam menjaga ekosistem laut.
Ia menyebut kawasan Nipah memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata kelas dunia tanpa menghilangkan karakter alamnya. “Banyak tamu melihat Nipah seperti destinasi impian. Lautnya masih sangat terjaga dan ini yang harus kita pertahankan,” ujar Hanny.
Selain menjaga lingkungan, Seven Secrets juga mengembangkan konsep wisata yang melibatkan masyarakat sekitar. Mulai dari penggunaan bahan pangan lokal hingga keterlibatan warga sebagai pekerja di sektor pariwisata.
Sementara itu, Marketing Manager Booking.com, Ayuk Yulianingsih, menilai tren wisata berkelanjutan semakin diminati wisatawan. Ia mengatakan banyak pelancong kini mulai mempertimbangkan aspek lingkungan sebelum memilih tempat menginap.
Menurut dia, platform digital juga mulai mendorong akomodasi yang menerapkan praktik keberlanjutan melalui sertifikasi dan penanda khusus. “Wisatawan sekarang tidak hanya mencari tempat yang nyaman, tetapi juga ingin tahu kontribusi apa yang bisa mereka berikan terhadap lingkungan,” katanya.
Ayu menilai NTB masih memiliki peluang besar untuk mengembangkan konsep wisata berkelanjutan. Namun, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat.
“Kesadaran tentang sustainability di NTB masih perlu terus dibangun. Kolaborasi menjadi kunci agar pariwisata tumbuh tanpa merusak alam,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....