Okupansi Hotel Turun Tak Merata, Pelaku Usaha Wajib Cerdas Baca Pasar Global

  • 16 Apr 2026 17:14 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Barat - Industri perhotelan di Indonesia tengah menghadapi dinamika yang tidak merata di berbagai daerah. Ketua Umum Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA), Dr. I Gede Arya Pering Arimbawa, menegaskan penurunan tingkat hunian hotel tidak terjadi secara merata di seluruh daerah di Indonesia. Menurutnya, masih ada sejumlah hotel yang mampu mempertahankan bahkan meningkatkan okupansi di tengah tekanan industri pariwisata saat ini.

“Kenapa saya katakan setiap hotel yang terdampak, karena masih ada yang tidak terdampak. Jadi tidak bisa kita rata-ratakan semua hotel mengalami penurunan,” ujar Gede Arya saat konfrensi pers di Merumatta Hotel, Kamis 16 April 2026.

Ia menjelaskan, kondisi di lapangan menunjukkan adanya disparitas kinerja hotel antar wilayah. Beberapa destinasi wisata utama seperti Bali dan kawasan Gili masih mencatat kunjungan wisatawan, meskipun tidak semua hotel menikmati tingkat hunian yang sama.

“Ada hotel yang penuh okupansinya, ada juga yang mengalami penurunan,” katanya menegaskan.

Berdasarkan pengalamannya melakukan kunjungan ke delapan hingga sembilan provinsi, Arya melihat langsung bagaimana pelaku industri perhotelan di daerah berjuang menghadapi penurunan jumlah tamu. Namun demikian, ia menekankan pentingnya sikap pantang menyerah dalam menghadapi situasi tersebut.

“Kita tidak boleh patah arang. Kita harus punya strategi untuk meningkatkan hunian, sekaligus strategi bertahan saat hunian turun,” ucapnya.

Ia juga menyoroti perubahan perilaku wisatawan global yang kini semakin dinamis dan sulit diprediksi. Menurutnya, pasar wisatawan mulai bergeser, di mana wisatawan dari Selandia Baru mulai meningkat, disusul munculnya pasar baru seperti Islandia.

“Dulu kita banyak mengandalkan wisatawan Amerika atau Australia, tapi sekarang kita lihat New Zealand mulai muncul, bahkan Iceland juga. Ini sesuatu yang tidak kita prediksi sebelumnya,” katanya.

Dalam situasi ini, Arya menilai peran kepemimpinan menjadi sangat krusial dalam menentukan arah strategi perusahaan. Ia mengajak seluruh pelaku industri untuk aktif berdiskusi dan mencari solusi bersama daripada terjebak dalam kondisi terpuruk.

“Di sinilah peran pemimpin. Kita harus melihat apa yang bisa kita lakukan, bukan hanya fokus pada masalah,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan keberlangsungan usaha sangat bergantung pada kemampuan masing-masing hotel dalam mengelola strategi bisnis secara mandiri. Mulai dari menjaga operasional tetap berjalan, membayar kewajiban seperti listrik, hingga memastikan kesejahteraan karyawan tetap terjaga.

“Survival itu bergantung pada diri kita sendiri, bagaimana kita menyusun strategi agar perusahaan tetap berjalan dan karyawan bisa bertahan,” katanya menegaskan.

Ia juga mengingatkan pentingnya evaluasi internal terkait perbandingan antara tingkat hunian, pendapatan, dan pengeluaran. Menurutnya, setiap manajemen hotel harus mampu membaca kondisi keuangan secara cermat dan mengambil langkah efisiensi yang tepat.

“Yang perlu kita lihat adalah perbandingan antara hunian, pendapatan, dan pengeluaran. Mekanisme di dalam perusahaan harus didiskusikan secara matang bersama tim,” ucapnya.

Menutup pernyataannya, Arya berharap seluruh pelaku industri perhotelan dapat terus beradaptasi dan berinovasi dalam menghadapi dinamika pasar yang terus berubah.

“Kita harus menyelami kondisi perusahaan masing-masing dan mencari strategi terbaik untuk bertahan,” katanya mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....