Saepul Basri: Bagaimana ChatGPT Membantu Transformasi Pembelajaran

  • 21 Agt 2023 09:40 WIB
  •  Mataram

KBRN, Mataram: Perkembangan teknologi terus membawa perubahan signifikan dalam berbagai bidang, termasuk dunia pendidikan. Salah satu inovasi terkini yang telah diadopsi oleh banyak tenaga pendidik adalah penggunaan ChatGPT, sebuah aplikasi berbasis Kecerdasan Buatan (AI) yang bertujuan untuk mempermudah interaksi dan pembelajaran antara tenaga pendidik dan siswa. Saepul Basri, M.Ed., tenaga pengajar di SMAN 1 Janapria Lombok Tengah NTB, berbicara tentang pengalaman dan manfaat dari penggunaan ChatGPT dalam konteks pendidikan, Senin (21/08/2023).

Dalam konteks pendidikan, Saepul menilai aplikasi ini dapat menggantikan sebagian peran dan tugas guru dalam menjawab berbagai pertanyaan siswa yang belum terjawab secara cepat, akurat dan privat. ChatGPT dapat dimanfaatkan guru maupun siswa dalam menemukan dan mengelola berbagai sumber belajar dan ChatGPT nyaris dapat menggantikan ketersediaan buku guru maupun buku teks siswa, bahkan dengan bantuan ChatGPT seorang siswa atau guru dapat menerbitkan bukunya sendiri.

"ChatGPT juga dapat secara drastis mengurangi ketergantungan kita terhadap perpustakaan sekolah. Bagi para guru, ChatGPT tidak hanya berfungsi sebagai gudang informasi yang dapat digunakan untuk menjawab semua pertanyaan siswa, tetapi juga dapat dijadikan sumber gagasan dan isnpirasi bagi guru dalam merancang strategi pembelajaran, termasuk mendapatkan ide brainstorming secara instan. Guru BP/BK juga bisa memanfaatkan ChatGPT sebagai sarana konseling untuk siswa, sebagai partner dalam berdiskusi, dan seterusnya." Ujarnya.

Terkait kelebihan dan kekurangan penggunaan ChatGPT dalam pendidikan, Saeful menegaskan bahwa kelebihan ChatGPT terletak pada kemampuannya mengembangkan, memilah dan memilih jawaban atau gagasan secara cepat sesuai pertanyaan dan perintah user. Tetapi ini tidak berarti semua yang dihasilkan ChatGPT itu benar atau merupakan sudut pandang yang paling tepat. Ada banyak kasus di mana ChatGPT tidak mampu memberikan output yang relevan dengan konteks dan nilai-nilai pendidikan.

Sementara itu dalam hal integrasi Chat GPT ke dalam pengalaman pembelajaran kelas, Saeful melihat bahwa penggunaan ChatGPT harus diselaraskan dengan karaktersiktik mata pelajaran yang diampu, disesuaikan dengan konteks dan strategi yang sesuai, dan harus dimonitor sedemikian rupa agar efektif. Output yang dihasilkan ChatGPT juga perlu diverifikasi dan diklarifikasi oleh untuk menjaga siswa dari misinterpretasi dan misinformasi, menghindari penyebaran hoax dan deep-fake materials.

Kemudian Saeful juga menyinggung perbedaan antara ChatGPT dan asisten virtual lainnya dimana Asisten virtual lain menurutnya tidak dapat mengembangkan informasi dan gagasan melebihi kemampuan ChatGPT. Salah satu karakteristik AI adalah dapat menyesuaikan diri dengan berbagai input yang diterima sehingga akan terus melakukan up-scaling secara otomatis.

"ChatGPT mampu melakukan adapatasi dan modifikasi, sedangkan asisten virtual lain seperti Google Assistant, Siri dan Alexa itu sudah disetting untuk memberikan jawaban tertentu atas suatu pertanyaan, atau memberikan respon tertentu atas suatu perintah." Ujarnya.

Menyoroti bagaimana privasi dan keamanan siswa terjaga ketika menggunakan ChatGPT di lingkungan pendidikan, pihaknya menyarankan sebaiknya guru mengarahkan siswa untuk mendapatkan segregated-signup, artinya siswa tidak boleh menggunkan akun yang sama untuk keperluan yang berbeda. Misalnya akun yang digunakan untuk keperluan konseling jangan digunakan ketika melakukan share-screen di zoom meeting.

Selanjutnya dalam hal umpan balik individual kepada siswa, pihaknya menekankan pentingnya guru melakukan moderasi sehingga umpan balik yang diberikan tidak asal copy-paste dari ChatGPT melainkan sudah diimbangi dengan kebijaksanaan dan kasih-sayang seorang guru. Menyinggung adanya risiko penggunaan ChatGPT dalam mendorong plagiarisme atau tindakan tidak jujur, Pihaknya merasa bahwa potensi ke arah itu cukup terbuka lebar. Itulah alasan kenapa penggunaan ChatGPT harus ditempatkan pada konteks dan tujuan yang sesuai.

"Kekhawatiran akan resiko-resiko lain yang mungkin timbul dari penggunaan ChatGPT di kelas atau dalam pemberian tugas dan pekerjaan rumah (PR) tidak boleh menyurutkan langkah guru dalam memetik buah kemajuan dan kemudahan-kemudahan yang ditawarkan teknologi terkini." Tambahnya.

Terakhir pihaknya juga menilai tingkat akurasi jawaban yang diberikan oleh ChatGPT dalam konteks pendidikan dirasa sangat memuaskan, baik itu dari unsur literasi maupun esensi cukup bisa diandalkan. Dan kabar baiknya adalah ChatGPT dapat membantu siswa dalam proses riset atau penulisan makalah ilmiah.

"Sangat bisa, dan ini sepertinya akan marak dilakukan di dunia akademik. Karena disamping dapat memberikan ide, gagasan, contoh dan pola penyusunan karya ilmiah yang kita butuhkan, ChatGPT juga dapat membantu menghimpun data sekunder yang sesuai. Banyak pekerjaan teknis lainnya yang bisa dipermudah mulai dari pencarian judul, eksplorasi rancangan masalah/pertanyaan penelitian, eksplorasi metode penelitiannya, pengumpulan data, penulisan makalahnya hingga proses proofreading." Tutup Saepul.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....