Meredam Abrasi, Mencegah Kerusakan Obyek Wisata
- 30 Sep 2026 17:33 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Meredam abrasi pantai di obyek wisata menjadi tantangan semua pihak agar sektor pendapatan utama masyarakat Nusa Tenggara Barat tetap terjaga di tengah upaya pelestarian alam yang berlangsung. Tantangan tersebut bersifat bersama dan secara berkesinambungan.
Abrasi menjadi ancaman terbesar kawasan pesisir Nusa Tenggara Barat kala gelombang pasang menghantam pantai. Abrasi terjadi hampir di setiap pesisir, disebabkan prinsip kekekalan energy yang tidak dapat dihentikan. Melainkan kekuatan tersebut dapat berpindah dari satu pesisir ke pesisir lain.
Dosen Sumber Ekonomi Lingkungan Universitas Muhammadiyah Mataram Harry Irawan Johari mengungkapkan, gelombang laut terjadi, karena kondisi atmosfer yang tak normal, dan menimbulkan tekanan, serta belokan angin penggerak gelombang laut ke wilayah pesisir. Energi gelombang yang terlampau kuat menjadi penyebab rusaknya kawasan pesisir Lombok, meski sempat tertahan tanggul pemecah gelombang yang dibangun pemerintah.
Kerusakan kawasan pesisir NTB dapat dikatakan hampir terjadi secara merata di setiap obyek wisata pantai. Gelombang menyebabkan abrasi, dan menghancurkan tanggul penahan gelombang. Penahan ombak yang semula tertata rapi melalui metode beronjong, terlihat rusak dan mengancam kerusakan yang lebih luas.
Obyek wisata yang tidak memiliki tanggul adalah lokasi yang paling merasakan dampak dari gelombang laut dengan makin curamnya pasir pantai dari tahun ke tahun. Kecuraman tersebut mempengaruhi daya estetis pantai yang semula berkedudukan landai.
Akademisi Harry Irawan Johari mengatakan kerusakan tepi laut memaksa warga membuat tanggul di belakang halaman untuk menghalau kekuatan gelombang. Persoalannya, kekuatan gelombang mampu merubuhkan pohon besar yang tertanam di pesisir sekali pun.
Robohnya sejumlah pohon di obyek wisata, karena gelombang laut periode lima tahun terakhir, terjadi di Gili Nanggu, Desa Sekotong Tengah, Sekotong, Lombok Barat. Pohon trembesi yang semula tegak berdiri di bibir pantai rubuh menghadap pantai. Tambatan perahu carter pun hilang dan mendesak pengelola parker di sektor barat pulau kecil ini.
Wisatawan di Gili Nanggu Yusnia Aeni mengaku kaget dengan perubahan akibat gelombang tersebut. Tegakan yang semula kokoh berdiri kemudian menyisakan potongan batang pohon hasil gergaji pengelola wisata Gita Nada.
Peristiwa robohnya pohon trembesi di Gili Nanggu, akibat gelombang laut terjadi pula di tempat lain. Bahkan, pada periode gelombang pasang 2020. Seperti di Gili Air, Pemenang, Lombok Utara. Menurut penuturan seorang kapten kapal di Gili Air, fenomena rubuhnya pohon melengkapi fenomena banjir rob di Gili Air.
Fenomena abrasi di obyek wisata, karena gelombang laut mendesak perhatian semua pihak agar mempertahankan kondisi atmosfer dari sifat anomali. Pemanasan suhu yang terjadi harus disikapi dengan aksi penanaman pohon di wilayah daratan.
Upaya penghijauan peredam abrasi juga ditempuh H. Agus Alwi, anggota Kelompok Sadar Wisata di Bagek Kembar, Desa Cendi Manik, Sekotong. Upaya Agus membuahkan hasil dengan ditetapkannya Bagek Kembar sebagai Kawasan Ekonomi Esensial Mangrove oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam NTB dan Pemkab Lombok Barat.
Dari 86 hektar total luas kawasan KEE, 30 hektar di antaranya telah tetanami mangrove.
Ekosistem mangrove di Bagek Kembar memberikan manfaat bagi kawasan ini dari ancaman abriasi, akibat gelombang laut. Konservasi ini disusul transformasi ekonomi dari perikanan laut menjadi perikanan budidaya. Dosen Ilmu Kelautan Universitas Mataram Sitti Hilyana mengatakan, fungsi remediasi mangrove benar-benar terwujud di Bagek Kembar dengan muncul ekosistem baru kepiting laut.
Mencegah abrasi pantai di obyek wisata di Nusa Tenggara Barat pada implementasinya tidak dapat dipisahkan dari fungsi dan kedudukan pepohon sebagai penyerap karbon dioksida di udara. Kemampuan pohon menyerap polusi mencegah terjadinya efek rumah kaca atau terperangkapnya suhu permukaan bumi penyebab anomaly cuaca. Kedudukan pohon di daratan pun begitu komplek, mampu mencegah erosi jatuh ke lauatan. Penyebab rubuhnya sejumlah pohon di obyek wisata.
Ketergantungan NTB terhadap sektor pariwisata mendesak semua pihak untuk mulai memikirkan strategi pencegahan abrasi di pesisir. Kerusakan obyek wisata akan berdampak pada tingkat kunjungan wisatawan sumber penerimaan masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....