Pelestarian Ekosistem Pesisir Melalui Tanaman Bakau
- 30 Sep 2026 17:25 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Pelestarian ekosistem pesisir berupa penanaman Tanaman Mangrove di Nusa Tenggara Barat telah menunjukan hal yang positif dengan terbentuknya kesadaran di dalam diri masyarakat. Meski demikian, kesadaran ini masih harus terus terjaga karena kerentanannya yang tersembunyi.
Gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Barat pada 2018 silam dapat dikata adalah kerentanan yan laten bagi kelangsungan tanama mangrove, sebab telah memberikan dampak yang serius terhadap infrastruktur milik warga di berbagai tempat. Tidak sedikit warga yang harus memulai membangun rumah dari dasar akibat kerusakan yang dialami saat gempa terjadi maupun gempa-gempa susulan berikutnya.
Kerusakan infrastruktur sedianya tidak boleh diremehkan, tetapi gempa kemudian bukan satu-satunya kerentanan yang tersembunyi yang dapat memengaruhi kelestarian ekosistem mangrove. Keretanan lainnya berupa perubahan iklim, dan pencemaran di sekitar habitat mangrove.
Pakar mangrove dari Universitas Mataram Prof Agil Al Idrus mengatakan, dibutuhkan aksi yang sama, dengan pemahaman yang sama untuk melakukan pelestarian ekosistem mangrove di kawasan pesisir. Di Nusa Tenggara Barat pelestarian terdapat di wilayah Lombok selatan dengan prakarsa warga di sekitar Gili Sulat.
Pelestarian tanaman Mangrove di Lombok Timur bagian selatan luasannya telah lebih dari 20 hektar. Luasan tersebut terbagi dua dalam mangrove sejati maupun mangrove yang ditanam warga dan menjadi bagian dari upaya pelestarian.
Selanjutnya untuk menjadi mangrove dewasa, dibutuhkan kesabaran hingga lima tahun dari masa pembibitan. Sebuah masa yang juga memiliki kerentanan terganggu oleh situasi maupun kondisi lingkungan di sekitarnya.
Namun melalui serangkaian pengalaman, tanaman mangrove memiliki peluang untuk terus tumbuh di wilayah pesisir NTB. Dibutuhkan peran warga untuk memperhatikan kondisi cadangan makana bagi mangrove.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....