Pokmaswas Poton Bako Manfaatkan Kawasan Mangrove Sebagai Ekowisata

  • 30 Sep 2026 17:15 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Timur - Selain untuk mencegah abrasi, kawasan penanaman mangrove juga dapat dimanfaatkan sebagai tempat wisata. Salah satu bukti pemanfaatan mangrove oleh sekelompok pemuda sebagai tempat wisata terdapat di Dusun Poton Bako, Desa Jerowaru, Lombok Timur.

Penanaman mangrove di Dusun Poton Bako diinisiasi oleh pemuda yang tergabung dalam Pokmaswas Poton Bako medio pertengahan 2021. Pokmaswas merupakan singkatan dari Kelompok Masyarakat Pengawas yang aktif berpartisipasi dalam pengawasan dan pemanfaatan sumberdaya kelautan dan perikanan.

Nama Ekowisata sendiri sebagaimana yang telah diketahui, berasal dari kata ekologi dan wisata // Eko merupakan akronim dari ekologi yang artinya lingkungan. Sedangkan bale diadopsi dari Bahasa Sasak yang berarti rumah // Sehingga Ekowisata Bale Mangrove dapat diartikan sebagai Wisata Lingkungan Rumah Mangrove.

Di lokasi, RRI menemukan, bahwa melalui Ekowisata Bale Mangrove, sejumlah pemuda di Poton Bako tak lagi bergantung pada pendapatan memelihara ikan dan memancing, melainkan sudah dapat mendulang rezeki melalui jasa fotografi, biaya ganti bibit mangrove, atau mengantar tamu untuk sekadar trip ke pulau-pulau kecil di sekitar Kawasan. Ekowisata Bale Mangrove Poton Bako didirikan atas sepengetahuan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Nusa Tenggara Barat selaku otoritas pengelolaan dan pengawasan kelautan di NTB.

Anggota Pokmaswas Poton Bako Andre Juanda Putra mengatakan, atas dasar itu pihaknya tidak mengajukan permohonan ke Dinas Pariwisata melainkan ke Dinas Kelautan dan Perikanan NTB.

Menurut Andre, ide membangun Ekowisata Bale Mangrove berlatar belakang hasil konsultasi ke Dosen Ilmu Kelautan Universitas Mataram dr. Siti Hilyana, yang kala itu menilai bahwa mangrove di Poton Bako adalah yang tersukses dari segi hasil penanaman. Sebab tak sedikit upaya rehabilitasi mangrove yang berujung pada gagal tanam karena kompleksitas habitat di sekitarnya.

Siti Hilyana memang tak keliru sebab penilaian itu tersambung dengan kekaguman pengunjung terhadap hasil penanaman bakau yang mampu tumbuh dewasa menutupi pesisir di sekitarnya. Kondisi yang ikut memudahkan anggota Pokmaswas untuk memasang tracking dari papan kayu untuk sampai ke tengah hutan.

Pembangunan Ekowisata Bale Mangrove berangkat dari kekawatiran pemuda Poton Bako tak lagi memiliki pekerjaan setelah pandemi global Covid-19 melanda Indonesia tahun 2020. Untuk itu, dengan bermodalkan dana awal sekitar Rp100.000, Pokmaswas setempat membeli ban bekas sebagai tanda terdapat proyek pemafaatan mangrove sebagai ekowisata. Selanjutnya sebagai pemantik, mulai mencari kayu hasil bongkaran rumah sebagai pijakan menuju ke tengah hutan. butuh sekitar 2 bulan untuk bisa mencapai tengah hutan.

Bagi Andre dan kelompok, mendapatkan pemasukan dari jasa ekowisata mangrove bukan tanpa tantangan karena untuk penanganan sampah bulanan saja kelompok bisa mengeluarkan dana sebesar Rp1.500.000 untuk bisa diangkut ke Tempat Pembuanga Sementara. Selain itu masih harus membangun kamar mandi umum serta lokasi parkir yang memadai.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....