Mahkota Kesombongan yang Menipu: Ketika Gelar dan Jabatan Menutup Mata Hati

  • 11 Sep 2026 16:11 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Manusia adalah makhluk yang mudah lupa. Di tengah hiruk-pikuk pencapaian duniawi, sering kali ada tirai tipis yang perlahan menutup kejernihan hati. Tirai itu bernama kesombongan, sebuah penyakit ruhani yang kerap menyamar dalam rupa kedudukan yang tinggi, deretan gelar pendidikan yang mentereng, serta status sosial yang dihormati banyak orang. Tanpa disadari, pencapaian-pencapaian tersebut melahirkan pandangan distruktif, merendahkan orang lain, merasa diri paling benar, dan menutup telinga rapat-rapat dari kebenaran yang meluncur dari lisan mereka yang dianggap "tidak sekelas".

Dalam Islam, fenomena ini bukanlah hal baru. Al-Qur'an dan Sunnah telah jauh hari mengingatkan tentang bahaya ujub (bangga diri) dan takabur (sombong). Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surah Luqman ayat 18:

"Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri."

Ayat ini merekam teguran abadi. Gelar profesor, direktur, pejabat tinggi, atau tokoh masyarakat terhormat hanyalah titipan, sebuah amanah fana di atas panggung sandiwara dunia. Ketika atribut-atribut ini mengubah cara pandang seseorang sehingga melihat sesama manusia sebelah mata, saat itulah ia sedang mengalami kebangkrutan moral yang sesungguhnya.

Kisah agung tentang ketelusuran hati pernah diajarkan oleh teladan terbaik, Nabi Muhammad SAW. Beliau, seorang pemimpin tertinggi umat Islam sekaligus manusia paling mulia di sisi Allah, tidak pernah risih mendengarkan pendapat dari kalangan bawah, kaum marginal, atau sahabat muda yang minim pengalaman.

Dalam Perang Khandak dan Perang Badar, Rasulullah kerap membuka ruang musyawarah (syura) dan menerima usulan taktis dari para sahabat seperti Salman al-Farisi yang status sosialnya saat itu bukan siapa-siapa di Makkah. Baginda Nabi memahami hakikat bahwa mutiara hikmah bisa datang dari mana saja, bahkan dari lisan seorang penggembala.

Menemukan Kembali Cermin Diri

Menjaga hati agar tetap rendah hati di tengah limpahan kehormatan membutuhkan latihan spiritual yang konsisten. Beberapa langkah bijak dapat merawat jiwa dari jerat kesombongan status:

- Mengingat Asal-Usul Penciptaan: Setiap manusia, tanpa terkecuali, berasal dari setetes air mani yang hina dan kelak akan kembali menjadi tanah. Tidak ada ruang sedikit pun untuk menyombongkan diri di hadapan Sang Pencipta.

- Memandang Ilmu sebagai Tanggung Jawab: Semakin tinggi pendidikan seseorang, seharusnya semakin luas pula samudera ketidaktahuannya yang ia sadari. Ilmu yang bermanfaat melahirkan khasyah (rasa takut dan tunduk kepada Allah), bukan arogansi intelektual.

- Membuka Telinga untuk Kebenaran: Kebenaran tidak pernah melihat dari lisan siapa ia keluar. Ia bisa hadir dari seorang anak kecil, tukang sapu jalanan, atau rekan kerja junior. Menolak pendapat semata-mata karena status sosial pembicaranya adalah bentuk kebodohan yang dibungkus rapi.

- Meneladani Kerendahan Hati Para Nabi: Para nabi dan orang-orang saleh terdahulu senantiasa hidup dekat dengan kaum dhuafa, tidak merasa risih duduk bersama orang miskin, dan menganggap jabatan sebagai ladang pengabdian, bukan alat untuk meninggikan diri.

Kemuliaan sejati di sisi Allah bukanlah ditentukan oleh seberapa tinggi kursi jabatan yang Anda duduki, seberapa tebal ijazah yang Anda bingkai di dinding ruang kerja, atau seberapa banyak orang yang berdiri menghormati Anda. Ukuran kemuliaan yang abadi di hadapan-Nya adalah ketakwaan dan kelembutan hati.

Mari sejenak menanggalkan jubah kebesaran ego kita. Karena pada akhirnya, ketika tirai dunia ini ditutup, yang tersisa bukanlah seberapa tinggi kita berdiri di atas manusia lain, melainkan seberapa rendah dan tulus hati kita di hadapan Sang Maha Pencipta.

Oleh : Solihin,S.H ( Pembina, Pengasuh Yayasasan dan TPQ Asmaul Husna Assolah lingk. Anaor Jempong Baru - Mataram)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....