Belajar dari Gempa NTT, Begini Mitigasi yang Tepat

  • 16 Agt 2026 08:17 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Gempa M7,7 guncang NTT dan sempat memicu peringatan tsunami hingga NTB. Ini pelajaran mitigasi bencana gempa bumi yang wajib diketahui setiap keluarga.

RRI.CO.ID, Mataram - Sabtu, 15 Agustus 2026 menjadi hari yang berat bagi warga Nusa Tenggara Timur (NTT). Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Mbay-Nagekeo pada pukul 04.58 WIB, dengan pusat gempa di kedalaman 15 kilometer. Dilaporkan BMKG, guncangan ini bahkan sempat memicu peringatan dini tsunami dengan status siaga di wilayah NTT, dan status waspada yang meluas hingga Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat (NTB).

Dampaknya cukup luas. Hingga pukul 17.45 WIB, Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto melaporkan sebanyak 43 orang meninggal dunia akibat gempa ini, tersebar di lima kabupaten: 21 orang di Manggarai, 17 orang di Manggarai Timur, tiga orang di Sikka, serta masing-masing satu orang di Manggarai Barat dan Ngada. Angka ini masih berpotensi berubah seiring proses pendataan yang terus berjalan. Selain korban jiwa, sekitar 2.000 warga tercatat mengungsi secara mandiri, sejumlah ruas jalan longsor, fasilitas kesehatan rusak, dan lima bandara turut terdampak meski landasan pacunya dilaporkan masih aman.

Dampak gempa turut merusak sejumlah fasilitas pelabuhan di NTT, termasuk dermaga dan bangunan terminal penumpang di Pelabuhan Laurentius Say, Maumere, yang membuat Kementerian Perhubungan memperketat pemeriksaan sebelum fasilitas itu kembali dioperasikan.

Gempa Tak Bisa Dicegah, tapi Dampaknya Bisa Diminimalkan

Peristiwa ini kembali menjadi pengingat penting, khususnya bagi warga NTB yang secara geografis juga berada di kawasan rawan gempa dan sempat masuk zona peringatan dini tsunami akibat kejadian ini. Gempa memang tidak bisa diprediksi kapan datangnya, tapi dampaknya bisa ditekan lewat kesiapsiagaan yang matang sejak sebelum bencana terjadi.

Dikutip dari panduan resmi BMKG, berikut langkah mitigasi yang perlu dipahami setiap keluarga.

Sebelum Gempa Terjadi

Pastikan struktur bangunan rumah kokoh dan tahan gempa, lakukan evaluasi atau renovasi bila diperlukan.

Periksa kestabilan benda-benda yang tergantung seperti lampu atau rak, agar tidak mudah jatuh saat terjadi guncangan.

Siapkan tas siaga bencana berisi makanan suplemen, air minum, obat-obatan, senter, serta dokumen penting seperti akta kelahiran, ijazah, dan sertifikat tanah.

Pelajari jalur evakuasi dan titik kumpul aman di lingkungan tempat tinggal maupun tempat kerja.

Ikuti pelatihan kedaruratan sederhana seperti merunduk, melindungi kepala, dan berlindung di bawah meja.

Saat Gempa Terjadi

Jika berada di dalam bangunan, lindungi kepala dan badan dari reruntuhan dengan bersembunyi di bawah meja atau perabotan kuat lainnya, lalu cari tempat paling aman dari potensi reruntuhan. Segera keluar ruangan apabila masih memungkinkan dilakukan dengan aman.

Bila berada di luar ruangan, menjauhlah dari bangunan, tiang listrik, dan pepohonan, serta perhatikan pijakan agar terhindar dari rekahan tanah. Bagi yang sedang berkendara, keluar dan menjauhlah dari mobil untuk menghindari risiko pergeseran kendaraan atau kebakaran.

Khusus warga pesisir, segera menjauh dari pantai untuk mengantisipasi potensi tsunami susulan.

Setelah Gempa Terjadi

Waspadai kemungkinan gempa susulan yang bisa terjadi kapan saja.

Periksa kemungkinan kebocoran gas atau sumber api guna mencegah kebakaran, serta matikan aliran listrik jika tidak digunakan.

Bagi warga di kawasan pesisir, tetap waspada terhadap potensi tsunami meski gempa sudah reda.

Hindari bangunan yang retak atau tampak rusak akibat guncangan.

Segera minta pertolongan apabila menemukan korban luka di sekitar lokasi.

Pastikan informasi yang diikuti hanya bersumber dari kanal resmi seperti BMKG, BNPB, dan BPBD, serta hindari menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya.

Kesiapsiagaan Adalah Kunci

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, sebagaimana dikutip dari Antara, menyampaikan bahwa edukasi dan sosialisasi mitigasi diharapkan mampu menekan risiko korban jiwa akibat gempa dan tsunami sekecil mungkin, bahkan menuju target zero victim.

Musibah yang menimpa saudara-saudara di NTT ini menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan bukan sekadar wacana, melainkan kebutuhan nyata bagi wilayah mana pun yang berada di jalur rawan gempa, termasuk NTB. Menyiapkan tas siaga bencana, mengenali jalur evakuasi, dan memahami langkah dasar penyelamatan diri bisa menjadi pembeda antara selamat atau tidaknya seseorang saat bencana benar-benar datang tanpa aba-aba.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....