Kebudayaan Tidak Boleh Berhenti Menjadi Pajangan
- 14 Jun 2026 18:29 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram: Selama bertahun-tahun, pendekatan pembangunan kebudayaan sering terjebak pada aktivitas seremonial. Festival diselenggarakan, pentas seni digelar, seminar dilaksanakan, dokumentasi dibuat, kemudian selesai. Kegiatan tersebut tentu penting, tetapi manfaatnya sering kali hanya dirasakan oleh kelompok yang terlibat secara langsung.
Padahal tantangan NTB hari ini jauh lebih besar.Bagaimana kebudayaan berkontribusi pada pengurangan kemiskinan?
Bagaimana kebudayaan menciptakan lapangan kerja?
Bagaimana kebudayaan menjadi identitas daerah yang memperkuat daya saing global? Bagaimana kebudayaan mampu menjaga lingkungan hidup? Bagaimana kebudayaan memperkuat karakter generasi muda?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang harus menjadi dasar inovasi kebudayaan ke depan.
Inovasi kebudayaan tidak cukup hanya menghasilkan kegiatan. Inovasi kebudayaan harus menghasilkan perubahan sosial, ekonomi, pendidikan, dan lingkungan yang dapat diukur.
NTB Memiliki Modal Besar. Tidak banyak daerah di Indonesia yang memiliki kekayaan budaya seperti NTB.Kita memiliki tiga entitas budaya besar: Sasak, Samawa, dan Mbojo. Kita memiliki 12 Objek Pemajuan Kebudayaan yang hidup dan berkembang.Kita memiliki ratusan karya budaya yang telah terdata. Kita memiliki kawasan adat Bayan, Sade, Ende, Maria, Sambori, Tepal, hingga berbagai komunitas tradisi lainnya. Kita memiliki manuskrip kuno, tradisi lisan, permainan rakyat, olahraga tradisional, ritus adat, rumah adat, dan situs cagar budaya yang tersebar hampir di seluruh wilayah.
Masalahnya bukan pada kurangnya sumber daya budaya.Masalahnya adalah bagaimana sumber daya budaya tersebut diubah menjadi sumber daya pembangunan.Di sinilah inovasi menjadi penting.
Oleh : Muhamad Ihwan
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....