Ilusi di Balik Layar Medsos: Kala Bumi Gora Terpapar Badai Disinformasi
- 03 Jun 2026 10:41 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Dahulu, layar kaca stasiun televisi nasional kerap menyuguhkan informasi penipuan digital yang terasa berjarak. Menonton warga di pulau seberang, histeris karena tabungannya amblas akibat mengeklik tautan palsu, atau melihat sekumpulan massa mengamuk akibat hoaks penculikan anak di luar daerah dan kasus pembunuhan orang tua yang begitu maraknya, selalu memosisikan kita di Nusa Tenggara Barat (NTB) sebagai penonton yang aman. Kita merasa benteng sosial kita terlalu kokoh untuk ditembus tipu daya digital yang klise.
Namun, kenyataan akhir-akhir ini, menampar kita tepat di wajah. Apa yang dulu hanya menjadi tontonan di berita kriminal nasional, kini nyata terjadi di tanah Bumi Gora. Badai disinformasi itu tidak lagi mengetuk pintu kita, ia sudah mendobrak masuk dan mengacak-acak ruang tamu kita.
Penulis yang merupakan mahasiswa aktif di Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram yang bergerak di lapangan melalui kegiatan sosial kemasyarakatan, tidak lagi sekadar membaca data statistik tentang literasi digital.
Penulis menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kepanikan massal pecah di sebuah desa di Lombok Barat, hanya karena sebuah video yang dipotong dan disebarkan tanpa konteks.
Saya melihat raut wajah cemas para ibu yang gemetar memegang gawai mereka, membaca pesan berantai di WhatsApp Group tentang ancaman keamanan yang sepenuhnya fiktif.
Efek domino dari hoaks ini telah merambah ke seluruh lapisan masyarakat. Dari kalangan akademisi di perkotaan hingga petani di pelosok Desa, tidak ada yang benar-benar imun.
Di platform digital lokal, ruang-ruang komentar Facebook kini beralih fungsi menjadi medan pertempuran caci maki atas informasi yang belum tervalidasi. Pola penyebarannya sangat masif, instan, dan emosional.
“FYP” dan WhatsApp Group: Kolaborasi Mematikan
Mengapa masyarakat kita begitu mudah tertipu daya?
Ada dua faktor utama yang mendominasi lanskap digital NTB hari ini: Oligarki WhatsApp Group dan Tren Konten Kreator demi Views.
WhatsApp Group Keluarga dan lingkungan menjadi inkubator hoaks paling subur. Di platform ini, sebuah informasi dianggap valid bukan karena bersumber dari media kredibel, melainkan karena yang membagikannya adalah sosok yang dituakan atau kerabat dekat. Logikanya adalah "siapa tahu benar" mengalahkan nalar kritis "apakah ini fakta?".
Disisi lain, Fomo dan Views Tren konten kreator lokal saat ini mengalami pergeseran yang cukup mengkhawatirkan. Demi mengejar algoritma agar masuk FYP (For Your Page) di TikTok atau viral di Facebook Reels, sebagian kreator kerap mengorbankan akurasi.
Konten berbasis prank, dramatisasi berlebihan, hingga eksperimen sosial yang manipulatif dibuat demi mendulang eksposur ekonomi. Sayangnya, audiens kita yang masih dalam tahap early adopter teknologi sering kali gagal membedakan mana konten hiburan (settingan) dan mana realitas.
Akibatnya? Masyarakat kita mengonsumsi kebohongan publik yang dikemas sebagai "konten kreatif".
Solusi: Membangun “Digital Immune System”
Menyalahkan teknologi atau memenjarakan setiap pembuat hoaks adalah jalan buntu yang melelahkan. Kita tidak bisa membendung arus digital, namun kita bisa memperkuat daya tahan tubuh digital masyarakat kita. Sebagai Gen Z yang hidup berdampingan dengan algoritma, kita butuh solusi yang taktis, organik, dan berdampak jangka panjang.
Edukasi literasi digital tidak boleh lagi sekadar menjadi seminar formal di hotel-hotel berbintang. Gerakan ini harus turun ke poskamling, pengajian, dan grup-grup WhatsApp RT. Komunitas anak muda di NTB harus mengambil peran sebagai fact-checker di lingkungan keluarga mereka sendiri. Ketika ada hoaks masuk ke grup keluarga, anak mudalah yang harus berani meluruskan dengan santun namun berbasis data.
Selain itu, kreativitas tidak boleh memakan korban. Perlu adanya ruang kolaborasi atau wadah berkumpulnya para konten kreator NTB untuk menyepakati jurnalisme warga yang sehat. Membuat konten yang viral itu legal, namun menyebarkan kepanikan adalah tindakan yang amoral. Komunitas kreatif harus mulai memberlakukan sanksi sosial bagi kreator yang hobi mengeksploitasi hoaks demi “views”.
Bumi Gora adalah tanah yang sarat akan nilai-nilai luhur dan persaudaraan. Sangat naif jika ikatan sosial yang telah kita bangun berabad-abad harus renggang dan hancur hanya karena beberapa kilobita teks hoaks dan video manipulasi di layar gawai kita.
Sudah saatnya kita berhenti menjadi korban pasif dari teknologi. Mari lebih pintar dari gawai yang kita genggam, karena sejatinya, jempol kita hari ini menentukan kedamaian daerah kita esok hari.
Naskah ditulis Oleh: Laela Ihda Jannati, Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....