Menteri Berlatar NU Ramai ke Lombok, Pertanda Muktamar di NTB?

  • 24 Apr 2026 15:27 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Dalam beberapa pekan terakhir, Nusa Tenggara Barat seolah menjadi pusat perhatian nasional. Bukan semata karena pesona alamnya yang memikat, melainkan juga karena silih bergantinya kunjungan sejumlah menteri serta gubernur berlatar belakang Nahdlatul Ulama ke provinsi yang dikenal sebagai Bumi Gora ini.

Tokoh-tokoh yang datang antara lain Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU sekaligus Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN Nusron Wahid, Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul), hingga Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi. Rangkaian kunjungan tersebut tentu memunculkan pertanyaan publik, apakah ini semata kunjugan kerja atau memastikan kesiapan NTB sebagai tuan rumah mukhtamar NU ke 35?

Untuk membaca arah kunjungan tersebut, mari dicermati satu per satu agenda yang berlangsung. Secara formal, seluruhnya memang dibingkai sebagai kunjungan kerja dengan fokus program pemerintahan dan pemberdayaan masyarakat. Namun, intensitas serta waktu kedatangannya di saat yang berdekatan membuat publik wajar menaruh perhatian lebih.

Pertama, Khofifah Indar Parawansa hadir di Mataram untuk mengukuhkan 10 Pengurus Cabang Muslimat NU se-NTB. Dalam sambutannya, ia mendorong Muslimat NU mengambil peran aktif dalam pencegahan pernikahan dini serta penguatan ketahanan keluarga. Ketua PWNU NTB, Prof. Masnun, turut mengapresiasi kiprah Khofifah sebagai teladan bagi perempuan.

Kedua, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN Nusron Wahid, yang juga dikenal sebagai kader NU dan mantan pengurus pusat GP Ansor, memimpin rapat koordinasi bersama gubernur, para bupati, dan wali kota se-NTB di Mataram. Ia menekankan percepatan penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) guna mengoptimalkan potensi daerah. Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, menyatakan kesiapan menindaklanjuti arahan tersebut.

Ketiga, Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) turun langsung meninjau pelaksanaan operasi katarak di Rumah Sakit Mandalika, Lombok Tengah. Ia menegaskan bahwa NTB menjadi salah satu prioritas nasional penanganan katarak dengan alokasi 500 pasien dari target nasional 6.000 penerima manfaat. Bupati Lombok Tengah, Lalu Pathul Bahri, menyambut positif langkah tersebut dan berharap sinergi pusat-daerah terus berlanjut.

Keempat, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi bersama Pemerintah Provinsi NTB meresmikan inisiatif “Ruang Bersama Indonesia” sebagai upaya memperkuat perlindungan perempuan dan anak di daerah.

Jika dilihat secara kasatmata, seluruh agenda itu memang berdimensi pemerintahan dan pelayanan publik. Namun, ketika sejumlah tokoh nasional berlatar NU datang hampir bersamaan ke NTB, sulit mengabaikan tafsir bahwa kunjungan ini bukan sekadar rutinitas birokrasi, melainkan juga momentum membaca dan memastikan kesiapan daerah menuju agenda besar Muktamar NU ke-35.

Membaca Sinyal di Balik Agenda

Secara kasatmata, keempat kunjungan tersebut memang memiliki agenda yang jelas dan berbeda-beda, yaitu percepatan tata ruang, penguatan peran perempuan, penanganan kesehatan mata, serta perlindungan perempuan dan anak. Namun, bila ditarik benang merahnya bahwa terdapat satu fakta yang sulit diabaikan, yaitu seluruh kunjungan itu berlangsung di NTB dalam rentang waktu yang relatif berdekatan, tepat ketika wacana daerah ini sebagai calon tuan rumah Muktamar NU ke-35 semakin mengemuka.

Di titik inilah pertanyaan publik menjadi semakin mengerucut, apakah semua ini hanya kebetulan, atau bagian dari proses sistematis untuk memastikan kesiapan NTB?

PWNU NTB sendiri telah menunjukkan langkah formal dengan mengajukan pencalonan sebagai tuan rumah Muktamar ke-35 NU tahun 2026 melalui surat resmi kepada PBNU. Ketua PWNU NTB, Prof. Masnun Tahir, menegaskan bahwa NTB “sudah siap lahir batin.” Pernyataan itu bukan tanpa dasar, melainkan merujuk pada soliditas dukungan internal NU, dukungan lintas organisasi mainsteam dan terkemuka, serta dukungan pemerintah daerah, hingga rekam jejak NTB yang pernah sukses menjadi tuan rumah Munas NU serta Pra-Muktamar sebelumnya.

Tidak hanya itu, sinyal kuat datang dari level tertinggi organisasi. Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar secara terbuka menyebut NTB sebagai salah satu opsi lokasi Muktamar. Statmen tersebut muncul saat menutup Muskerwil PWNU Jawa Timur di Tuban, bahwa pelaksanaan Muktamar bisa saja digelar di pesantren tertentu, termasuk “pesantren tuan guru di NTB yang juga sudah lama minta.” Pungkasnya.

Statmen tersebut penting dicatat, lantaran ketika nama NTB disebut langsung oleh Rais Aam PBNU seolah-olah menandakan bahwa posisi daerah ini bukan pengusul biasa, melainkan telah masuk dalam radar serius sebagai kandidat tuan rumah Muktamar NU ke-35.

Kunjungan atau Memastikan Kesiapan?

Jawaban atas pertanyaan itu bisa saja keduanya. Hanya saja, jika membaca rangkaian peristiwa yang ada, tentu arahnya lebih condong pada upaya memastikan kesiapan NTB.

Kunjungan para menteri berlatar NU tampak melampaui agenda seremonial pusat semata. Terlebih dalam tradisi NU yang kuat dengan nilai silaturahmi dan komunikasi kultural, kehadiran tokoh-tokoh pusat ke daerah menjelang muktamar kerap membawa makna ganda.

Pertama, sebagai sinyal politik-organisatoris. Kehadiran mereka dapat dibaca sebagai cara elegan untuk menunjukkan bahwa NTB masuk dalam peta utama calon tuan rumah. Tanpa perlu deklarasi terbuka, pusat memberi pesan bahwa daerah ini sedang diperhitungkan secara serius.

Kedua, dan lebih substansial, sebagai proses pemastian kesiapan. Kehadiran para tokoh nasional memungkinkan penilaian langsung terhadap infrastruktur, akomodasi, transportasi, keamanan, layanan kesehatan, hingga kesiapan sosial-politik masyarakat dan dukungan pemerintah daerah. Kunjungan Gus Ipul ke RS Mandalika, misalnya, bukan hanya soal operasi katarak, tetapi sekaligus memperlihatkan kapasitas fasilitas kesehatan dan logistik yang dimiliki NTB.

NTB Siap Lahir Batin

Tidak berlebihan jika NTB disebut memiliki daya tawar yang komprehensif sebagai calon tuan rumah Mukhtamar NU ke 35. Sebab, daerah ini menawarkan kombinasi antara infrastruktur yang memadai, destinasi pariwisata berkelas internasional, serta basis ulama dan pesantren yang kuat.

Ketua PWNU NTB, Prof. Masnun Tahir, menegaskan optimisme tersebut dengan menyebut bahwa jika event berskala internasional seperti MotoGP dapat diselenggarakan dengan baik, maka Muktamar NU pun sangat mungkin dilaksanakan secara maksimal.

Dari sisi teknis, berbagai unsur pendukung dinilai tersedia, seperti, antara lain, akses transportasi darat dan udara, kapasitas hotel, jaringan pondok pesantren besar, serta pengalaman NTB menjadi tuan rumah agenda nasional maupun internasional. Semua itu menjadi modal konkret, bukan hanya klaim!

Yang juga tak kalah penting adalah bahwa PWNU NTB menegaskan komitmennya menjaga netralitas sebagai tuan rumah. Posisi NTB di luar Pulau Jawa memberi nilai tambah tersendiri, karena relatif lebih netral dari tarik-menarik basis kekuatan besar yang kerap melekat pada wilayah tertentu. Oleh karena itu, NTB dapat hadir sebagai rumah bersama bagi seluruh elemen Nahdliyin.

Saatnya Timur Bersuara

Alih-alih membaca deretan kunjungan menteri berlatar NU ke NTB sebagai kebetulan administratif semata, lebih tepat jika memahaminya sebagai rangkaian pemantauan sekaligus sinyal bahwa NTB kini berada dalam jajaran terdepan calon tuan rumah Muktamar NU ke-35.

Ketika Rais Aam PBNU secara terbuka menyebut nama NTB sebagai salah satu opsi lokasi, lalu disusul kehadiran sejumlah tokoh nasional dengan agenda yang bersinggungan dengan kebutuhan daerah, maka arah pembacaan publik kian mengemuka bahwa NTB sedang dipertimbangkan secara serius.

Karena itu, waktu menuju pelaksanaan Muktamar NU ke-35 pada Agustus 2026 menjadi fase penting bagi PBNU untuk menimbang kesiapan seluruh kandidat secara objektif. Dalam konteks ini, NTB telah menampilkan modal yang kuat, baik dari sisi infrastruktur, pengalaman penyelenggaraan event besar, maupun dukungan sosial-keagamaan yang luas.

Bagi warga Nahdliyin di kawasan Timur Indonesia, peluang menjadi tuan rumah muktamar bukan semata soal prestise, melainkan momentum menegaskan bahwa pertumbuhan dan pengaruh NU tidak terpusat di satu kawasan saja. NTB telah menyatakan kesiapan, sinyal dukungan pun makin terlihat. Kini, tinggal menunggu keputusan apakah giliran Timur benar-benar akan tiba?

Oleh: Gde Upar (Honorer Kopi) dan Miptah Kher (Direktur Ceis)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....