Indeks Prestasi Kopi (IPK) dan Transformasi Ekonomi di Mataram

  • 14 Apr 2026 15:29 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Warung Kopi
  • Transformasi Ekonomi di Mataram
  • Indeks Prestasi Kopi (IPK)

RRI.CO.ID, Mataram - Dalam lima tahun terakhir, geliat warung kopi di Mataram menunjukkan lonjakan yang tidak hanya bersifat kultural, tetapi juga mencerminkan transformasi ekonomi perkotaan.

Fenomena ini dapat dibaca melalui gagasan Indeks Prestasi Kopi (IPK), yaitu ukuran tidak formal yang menggambarkan intensitas, kualitas, dan peran sosial ruang warkop dalam kehidupan masyarakat, khususnya kaula muda.

Secara ekonomi, pertumbuhan ini selaras dengan ekspansi sektor UMKM di Kota Mataram. Data menunjukkan bahwa jumlah UMKM di kota ini terus meningkat dalam lima tahun terakhir, dari sekitar 46 ribu unit usaha pada 2018 menjadi lebih dari 58 ribu unit usaha pada 2022, atau tumbuh sekitar 4,33 persen secara agregat dalam periode tersebut.

Di sisi lain, sektor usaha kuliner yang mencakup kafe dan warung kopi juga mengalami akselerasi signifikan. Pada 2023 terdapat sekitar 486 unit usaha kafe dan restoran, dan meningkat menjadi 878 unit pada 2024, hampir dua kali lipat hanya dalam satu tahun.

Kenaikan ini menunjukkan bahwa warkop tidak lagi hanya usaha mikro informal, tetapi telah menjadi bagian dari ekosistem ekonomi urban. Bahkan secara lebih luas, jumlah outlet kopi di NTB diperkirakan telah mencapai sekitar 1.000 unit, mencakup warung tradisional hingga kedai modern. Pertumbuhan ini memperkuat posisi kopi sebagai komoditas ekonomi sekaligus gaya hidup masyarakat perkotaan.

Dari perspektif ekonomi perkotaan, fenomena ini memiliki tiga implikasi utama. Pertama, warkop menjadi motor penggerak ekonomi mikro berbasis konsumsi harian dengan perputaran uang yang cepat dan menyebar.

Kedua, ia memperluas ruang kerja informal dan kewirausahaan baru, khususnya bagi anak muda yang masuk ke sektor F&B dengan modal relatif kecil. Ketiga, warkop berfungsi sebagai ruang publik ekonomi yang menyatukan aktivitas konsumsi, produksi ide, dan jejaring sosial dalam satu ruang yang sama.

Dalam konteks ini, Indeks Prestasi Kopi tidak hanya menjadi metafora budaya, tetapi juga indikator sosial-ekonomi baru, yaitu seberapa intens ruang warkop digunakan, seberapa besar kontribusinya terhadap ekonomi lokal, dan seberapa luas ia membuka ruang ekspresi bagi generasi muda.

Warkop di Mataram kini bukan hanya tempat minum kopi, tetapi telah berevolusi menjadi simpul ekonomi kreatif berbasis interaksi sosial.

Pertumbuhan warkop di Mataram dapat dibaca sebagai bentuk modernisasi ekonomi rakyat dari bawah, di mana kopi menjadi medium, warkop menjadi infrastruktur sosial, dan kaum muda menjadi aktor utama dalam pembentukan ruang publik yang semakin beragam dan inklusif.

Penulis : Honorer Kopi Gde Upar

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....