Organisasi yang Tertatih dan Ujian Konsistensi Pascapelantikan

  • 09 Apr 2026 09:09 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Langkah kaki yang gagah saat nama-nama dipanggil ke atas panggung pelantikan sering kali diiringi rasa bangga yang meluap. Namun, riuh rendah tepuk tangan tersebut hanyalah seremoni pembuka. Beban tanggung jawab yang sesungguhnya justru baru dimulai saat lampu panggung dipadamkan.

Fenomena yang kerap terjadi di berbagai organisasi menunjukkan pola yang memprihatinkan: semangat yang berkobar di awal pelantikan perlahan meredup seiring berjalannya waktu.

Satu demi satu pengurus mulai "berguguran" saat dihadapkan pada realitas kerja organisasi yang melelahkan dan tak jarang menguras energi serta materi.

Pada akhirnya, organisasi menjadi ajang seleksi alam yang paling jujur.

Hanya mereka yang memiliki keikhlasan dan niat tulus berjuanglah yang akan tetap bertahan, memastikan roda organisasi terus berputar melampaui euforia sesaat di atas podium.

Kerja Nyata vs Sekadar Nama

Dalam dinamika organisasi, kontribusi nyata jauh lebih berharga daripada deretan nama mentereng yang hanya tertera di atas kertas (pengurus "papan nama"). Organisasi membutuhkan individu yang memiliki keikhlasan untuk berkorban, bukan mereka yang sekadar menjadikan jabatan sebagai panggung untuk mencari popularitas atau kepentingan pragmatis.

Perlu ditekankan bahwa sumpah jabatan bukanlah sekadar formalitas protokoler. Ia adalah janji sakral yang pertanggungjawabannya melampaui batas manusia. Sebuah komitmen mendalam kepada Tuhan Yang Maha Esa dan dedikasi penuh bagi kepentingan masyarakat.

Perspektif Islam: Organisasi sebagai Amanah

Dalam pandangan Islam, mengelola organisasi bukan sekadar urusan manajerial atau pencapaian target duniawi, melainkan bentuk ibadah dan amanah yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Untuk menepis kelesuan organisasi, terdapat enam kunci sukses berdasarkan prinsip-prinsip Islam yang dapat diimplementasikan:

1. Niat yang Ikhlas (Lillah)

Segala sesuatu bermula dari niat. Pemimpin dan anggota harus menyadari bahwa berorganisasi adalah sarana dakwah dan mencari keridaan Allah. Tanpa keikhlasan, organisasi hanya akan menjadi beban yang menjenuhkan.

2. Kepemimpinan sebagai Amanah

Jabatan bukanlah kemuliaan untuk dibanggakan, melainkan tanggung jawab besar. Pemimpin adalah pelayan bagi anggotanya (Sayyidul qaumi khadimuhum). Karakter Siddiq, Amanah, Tabligh, dan Fathanah harus menjadi kompas dalam menavigasi arah organisasi.

3. As-Syura (Musyawarah)

Organisasi yang sehat tidak dijalankan secara otoriter. Keputusan strategis harus diambil melalui mekanisme musyawarah untuk mencapai mufakat. Hal ini penting untuk menumbuhkan rasa memiliki (sense of belonging) di antara anggota dan meminimalisir konflik internal.

4. Al-Adl (Keadilan)

Keadilan adalah napas organisasi. Pemimpin harus mampu menempatkan orang yang tepat di posisi yang tepat (the right man on the right place), serta menerapkan sistem penghargaan (reward) dan sanksi (punishment) secara objektif tanpa tebang pilih.

5. Itqan

(Profesionalisme)

Islam mencintai hamba-Nya yang bekerja secara tuntas dan berkualitas. Manajemen yang rapi—mulai dari perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), hingga pengawasan (controlling)—adalah wujud dari profesionalisme yang disebut Itqan.

6. Ukhuwah dan Mahabbah

(Persaudaraan & Kasih Sayang)

Ikatan antaranggota harus didasari oleh tali persaudaraan keimanan. Organisasi bukan sekadar kumpulan orang yang bekerja, melainkan keluarga yang saling menguatkan dan tolong-menolong (Ta'awun) dalam kebaikan.

Penutup

Menjalankan organisasi memang terkadang membuat kita merasa tertatih. Namun, dengan mengembalikan fungsi organisasi sebagai ladang pengabdian dan ibadah, setiap hambatan akan dipandang sebagai ujian naik kelas. Konsistensi pascapelantikan adalah pembuktian jati diri seorang pejuang organisasi sejati.

Oleh: Solihin, SH (Wakil Direktur Lembaga Bantuan Hukum & Advokasi DPW BKPRMI NTB)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....