Ekspresi Keagamaan Kaum Muda di Ruang Publik Kota Mataram
- 02 Mar 2026 06:54 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Dalam beberapa tahun terakhir, kota-kota di Indonesia menunjukkan perubahan penting dalam cara agama hadir di ruang publik. Jika dahulu ekspresi keagamaan cenderung terpusat di masjid, pesantren, atau ruang-ruang ritual yang jelas batasnya, namun kini semakin menyatu dengan ruang keseharian, seperti, antara lain, kafe, taman kota, pusat perbelanjaan, hingga lini masa media sosial.
Agama tidak lagi berdiri terpisah dari kehidupan urban, melainkan menjadi bagian dari ritme kota itu sendiri.
Di Mataram, dinamika ini terasa sangat kontekstual dan semakin mengemuka. Kota ini berada di Pulau Lombok, wilayah yang dikenal memiliki tradisi keislaman lokal yang kuat dan mengakar dalam budaya masyarakat.
Identitas keagamaan bukan hanya berbentuk simbol, tetapi bagian dari struktur sosial sehari-hari. Karena itu, ketika ekspresi keagamaan tampil di ruang publik kota, maka kehadirannya tidak hanya hadir sebagai sesuatu yang asing, melainkan sebagai kelanjutan dari tradisi yang memang hidup selama ini.
Kaum muda Muslim Mataram tumbuh dalam dua lanskap keagamaan, yaitu lanskap Islam lokal yang kokoh dan lanskap urban yang semakin modern.
Keduanya tidak hanya akrab dengan masjid, pengajian, dan momentum-momentum religius seperti Ramadan, tetapi juga akrab dengan budaya nongkrong, warkop, dan ruang-ruang sosial populer.
Di titik inilah ruang publik menjadi semakin dinamis tidak lagi membedakan mana ruang ibadah dan mana ruang sosial.
Kasus yang saya saksikan pada bulan Ramadan menjadi potret konkret dari dinamika tersebut. Selepas salat, anak-anak muda bermukena rapi berjalan menuju warkop populer di kota Mataram.
Mereka duduk santai, berbincang, memesan kopi, dan tetap nyaman dengan pakaian salat yang dikenakan. Tidak ada kesan transisi yang berlebihan dari masjid ke meja kopi berlangsung dalam satu alur waktu yang bersamaan.
Fenomena ini menggambarkan bahwa ekspresi keagamaan kaum muda Muslim Mataram berjalan natural di ruang manapun. Mukena di warkop bukan sekadar simbol ibadah, melainkan penanda bahwa pengalaman dan ekspresi keagamaan tidak hanya di tempat sakral seperti di masjid.
Ekspresi tersebut justru masuk ke ruang sosial, dan menjadi bagian dari interaksi, percakapan, dan kebersamaan kaum muda.
Dapat dikatakan bahwa ruang publik kota Mataram tidak anti terhadap agama maupun ekspresi keagamaan.
Warkop sebagai ruang populer menjadi saksi bagaimana ekspresi keagamaan dan kehidupan urban bertegur sapa tanpa harus saling mempersoalkan.
Karena bagi kaum muda Muslim saat ini, menjadi saleh dan menjadi bagian dari kultur kota bukanlah dua identitas yang bertentangan.
Dengan demikian, potret ini tidak dimaksudkan untuk menilai, melainkan untuk menggambarkan perubahan lanskap sosial ruang publik Mataram semakin terbuka terhadap ekspresi keagamaan, dan kaum muda menjadi pelaku uatama dalam proses tersebut.
Sebagai penutup, saya ingin mengatakan bahwa Ramadan menjadi momentum penting yang membuat dinamika keagamaan tersebut tampak lebih jelas. Dan, bahwa di kota Mataram saat ini, agama dan ekspresi keagamaan hidup, berjalan, dan berinteraksi langsung dengan ruang publik.
Oleh : Pengurus Lakpesdam NTB sekaligus Direktur CEIS, Miptahudin Khairi