Setahun Iqbal–Dinda: Peternakan NTB Bertransformasi, Fokus pada Nilai Tambah

  • 23 Feb 2026 09:49 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Sub sektor peternakan di Nusa Tenggara Barat memasuki babak baru. Dalam satu tahun kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur Iqbal–Dinda, sektor ini bergerak dari pola produksi konvensional menuju model industri berbasis nilai tambah.

Peternakan selama ini menjadi penopang protein hewani sekaligus sumber penghidupan masyarakat pedesaan. Di tengah pertumbuhan penduduk dan meningkatnya daya beli, kebutuhan daging dan telur terus naik. NTB mencoba menjawab tantangan itu dengan memperkuat produksi sekaligus membenahi tata niaga.

Surplus Daging dan Telur

Data 2025 menunjukkan produksi daging ruminansia mencapai 15.366,1 ton. Angka itu melampaui kebutuhan konsumsi masyarakat sebesar 13.687,8 ton, menghasilkan surplus 1.678,32 ton. Dibanding 2024, produksi naik 5,7 persen dari 14.537 ton.

Pada sektor unggas, produksi daging mencapai 57.998,4 ton, sementara kebutuhan 55.553 ton. Surplus tercatat 1.860,27 ton. Produksi ini meningkat 3,3 persen dibanding tahun sebelumnya.

Produksi telur juga tumbuh. Tahun 2025 tercatat 57.506,44 ton, naik 1,86 persen dari 56.434,86 ton pada 2024. Kenaikan didorong pertumbuhan populasi ayam buras yang mencapai 5.303.821 ekor atau naik 4 persen. Populasi itik juga naik 4 persen menjadi 444.410 ekor. Sementara populasi puyuh meningkat 14 persen menjadi 131.389 ekor dengan kontribusi produksi 227,83 ton telur.

Capaian ini menjaga ketersediaan protein hewani di tengah meningkatnya permintaan.

Modal Ekologis dan Posisi Nasional

Secara nasional, NTB menempati posisi penting dalam peta peternakan. Populasi sapi potong berada di peringkat keempat setelah Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan. Kerbau juga di posisi keempat, kuda peringkat ketiga, kambing ketujuh, ayam kampung ke-12 dari 38 provinsi, dan itik peringkat ke-13 nasional.

Keunggulan ini ditopang ketersediaan lahan sumber pakan ruminansia seluas 1.692.694 hektare. Sebanyak 20,85 persen berada di Pulau Lombok dan 79,15 persen di Pulau Sumbawa.

Daya tampung ternak herbivora diperkirakan mencapai 1.585.103 unit ternak atau setara 2.219.144 ekor. Potensi pengembangan tambahan masih terbuka hingga 419.640 unit ternak atau sekitar 587.496 ekor, sebagian besar berada di Pulau Sumbawa.

Hilirisasi Ayam Terintegrasi

Memasuki 2026, pemerintah pusat bersama pemerintah daerah melalui Kementerian Pertanian Republik Indonesia meluncurkan Program Hilirisasi Ayam Terintegrasi.

Program ini menggabungkan seluruh rantai produksi dalam satu klaster: pembibitan ayam pedaging dan petelur, industri pakan, budidaya, rumah potong unggas, hingga pengolahan daging dan telur menjadi produk bernilai tambah seperti karkas, sosis, nugget, dan tepung telur.

Setiap klaster diproyeksikan menyerap lebih dari 1.300 tenaga kerja. Lokasi program ditetapkan di Kabupaten Sumbawa, dengan pertimbangan ketersediaan lahan pemerintah dan jarak dari permukiman.

Langkah ini menandai perubahan arah pembangunan peternakan NTB, dari sekadar produksi primer menuju industri terintegrasi.

Penyakit Terkendali

Sepanjang 2025, seluruh wilayah NTB—10 kabupaten/kota dinyatakan terkendali dari Penyakit Hewan Menular Strategis. Tercatat 914 kasus yang meliputi antraks, Septichaemia Epizootica, Surra, rabies, Avian Influenza, dan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Seluruh kasus ditangani.

Penguatan sistem kesehatan hewan dilakukan melalui pengadaan alat PCR sehingga pemeriksaan PMK dapat dilakukan di dalam daerah. Pemerintah pusat juga mengalokasikan anggaran untuk vaksin dan operasional vaksinasi.

Keberhasilan ini ikut menjaga kelancaran lalu lintas ternak dan kepercayaan pasar.

Tata Niaga dan Kapal Ternak

Indikator tata niaga peternakan 2025 mencapai 77,85 persen, melampaui target 75 persen. Produk peternakan yang dipasarkan meningkat 9,22 persen dibanding 2024.

Distribusi diperkuat melalui dukungan Tol Laut. Sepanjang 2025 tercatat 17 voyage kapal ternak dengan rute Bima–Tanjung Priok, Bima–Kwandang Gorontalo, Bima–Basirih, dan Bima–Trisakti Kalimantan Selatan.

Pemanfaatan angkutan khusus ternak melonjak 455,95 persen dibanding tahun sebelumnya, setelah NTB memiliki kapal sendiri tanpa mekanisme deviasi.

Populasi Sapi dan Betina Produktif

Sebagai salah satu lumbung sapi nasional, populasi sapi NTB tahun 2025 mencapai 1.340.130 ekor, naik 2,44 persen dari 1.308.204 ekor pada 2024.

Kenaikan ini didorong inseminasi buatan, transfer embrio, vaksinasi PMK, serta pengendalian penyakit. Sepanjang 2025 juga tercatat nol kasus pemotongan betina produktif.

Dalam satu tahun, sektor peternakan NTB bergerak lebih sistematis. Produksi meningkat, penyakit terkendali, tata niaga menguat, dan hilirisasi mulai dijalankan. Peternakan tak lagi berhenti di kandang, tetapi diarahkan menjadi industri yang menyerap tenaga kerja dan memperkuat ketahanan pangan daerah.

Rekomendasi Berita