Setahun Iqbal–Dinda, Pasar Kerja NTB Bangkit

  • 19 Feb 2026 13:17 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Tahun pertama kepemimpinan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhamad Iqbal dan Wakil Gubernur Indah Dhamayanti Putri yang dikenal sebagai duet Iqbal–Dinda tidak dimulai dalam situasi ekonomi yang sepenuhnya nyaman. Memasuki 2025, NTB menghadapi tekanan di sektor pertambangan, kontraksi ekonomi pada dua triwulan awal, serta fase awal operasional industri hilirisasi yang belum stabil.

Namun justru di masa transisi itu, pasar kerja menunjukkan arah yang layak dicatat. Sepanjang 2025, ketenagakerjaan NTB bergerak positif. Dalam periode Agustus–November 2025 saja, tercatat penambahan sekitar 29,57 ribu tenaga kerja. Jumlah penduduk bekerja mencapai sekitar 3,14 juta orang. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada November 2025 turun menjadi sekitar 3,05 persen—lebih rendah dibanding Februari dan Agustus tahun yang sama.

Angka ini penting. Ia menunjukkan pemulihan ekonomi tidak berhenti pada statistik pertumbuhan, tetapi benar-benar menciptakan pekerjaan.

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) pun meningkat, terutama pada kelompok perempuan. Dua pesan terbaca: peluang kerja membaik dan kepercayaan rumah tangga terhadap kondisi ekonomi daerah menguat.

Lapangan Kerja Bergeser ke Sektor Produktif

Dari sisi lapangan usaha, peningkatan tenaga kerja tertinggi sepanjang 2025 terjadi di sektor akomodasi dan makan minum, konstruksi, serta jasa lainnya.

Kombinasi ini memberi gambaran yang jelas. Pariwisata mulai pulih, proyek konstruksi kembali bergerak, dan sektor jasa menggeliat. Mobilitas penumpang udara naik, tingkat hunian hotel membaik, konsumsi rumah tangga menguat.

Artinya, ekonomi NTB tidak hanya bertumpu pada aktivitas industri besar. Roda ekonomi lokal kembali berputar.

Sektor akomodasi dan makan minum kembali menjadi mesin pencipta kerja. Dampaknya merembes hingga UMKM, pedagang kecil, pekerja informal, dan pelaku jasa pendukung pariwisata. Konstruksi pun memainkan peran penting: setiap proyek menciptakan pekerjaan langsung sekaligus memicu permintaan material lokal, transportasi, dan konsumsi masyarakat sekitar.

Bukan Sekadar Bertambah, Tapi Lebih Berkualitas

Capaian 2025 tidak hanya soal kuantitas, tetapi juga kualitas tenaga kerja.

Proporsi pekerja formal meningkat, terutama dari kelompok buruh dan karyawan. Pergeseran ini menunjukkan peralihan dari pekerjaan rentan menuju hubungan kerja yang lebih stabil dan terlindungi.

Proporsi penduduk bekerja lulusan Diploma dan Universitas naik menjadi sekitar 14,20 persen. Ini menjadi sinyal awal bahwa kualitas SDM NTB mulai meningkat dan terserap ke sektor yang membutuhkan keterampilan lebih tinggi.

Pada periode Februari–November 2025, jumlah pengangguran juga turun sekitar 3,91 ribu orang.

Kombinasi meningkatnya pekerja formal, naiknya tenaga kerja terdidik, serta turunnya pengangguran menunjukkan bahwa pasar kerja NTB bukan sekadar pulih, melainkan mulai mengalami perbaikan struktur.

Ekonomi Rakyat Tetap Tulang Punggung

Struktur ketenagakerjaan 2025 menegaskan satu hal: kesejahteraan mayoritas warga NTB sangat bergantung pada sektor non-tambang.

Pertanian dan perikanan masih mendominasi dengan porsi 35,37 persen atau sekitar 1,1 juta tenaga kerja. Karakter agraris NTB tetap kuat. Peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP) yang secara kumulatif mencapai 125 pada 2025 memperlihatkan bahwa perbaikan sektor ini berdampak langsung pada jutaan rumah tangga.

Perdagangan besar dan eceran menyerap sekitar 18–19 persen tenaga kerja—sekitar 560 ribu hingga 600 ribu orang. Sektor ini menjadi simpul distribusi, menghubungkan produksi dan konsumsi, sekaligus menciptakan pekerjaan massal.

Industri pengolahan berada di kisaran 8–10 persen atau sekitar 280 ribu hingga 300 ribu tenaga kerja. Angkanya mulai meningkat seiring bergulirnya hilirisasi, menandai pergeseran dari ekonomi berbasis ekstraksi menuju pengolahan.

Akomodasi dan makan minum menyerap 6–8 persen atau sekitar 200 ribu hingga 240 ribu tenaga kerja. Potensi alam dan budaya NTB memberi sektor ini efek ganda terhadap UMKM dan ekonomi lokal.

Sebaliknya, pertambangan dan penggalian hanya menyerap sekitar 1,3–1,5 persen tenaga kerja sekitar 40 ribu hingga 50 ribu orang, termasuk proyek sementara. Kontribusinya terhadap PDRB besar, tetapi daya serap kerjanya relatif kecil dan kerap bersifat temporer.

Komposisi ini menegaskan: mayoritas warga NTB hidup dari pertanian, perdagangan, jasa, dan pariwisata. Maka, keberhasilan menciptakan lapangan kerja di sektor-sektor tersebut jauh lebih relevan bagi kesejahteraan rakyat ketimbang lonjakan pertumbuhan semata.

Tahun Transisi yang Produktif

Jika 2025 dibaca sebagai tahun transisi ekonomi, maka kinerja ketenagakerjaan menunjukkan transisi itu berlangsung relatif produktif.

Di tengah kontraksi awal tahun akibat penurunan produksi tambang, lapangan kerja tetap tumbuh. Ketika industri pengolahan mulai beroperasi lebih stabil di paruh kedua tahun, penyerapan tenaga kerja ikut meningkat.

Dalam konteks satu tahun kepemimpinan Iqbal–Dinda, capaian ini menjadi fondasi penting: investasi besar dikawal, sekaligus dipastikan pertumbuhan merembes ke sektor padat karya.

Tantangan 2026: Produktivitas dan Kualitas

Meski 2025 mencatat perbaikan, tantangan berikutnya tidak ringan.

Pertama, memperluas lapangan kerja bagi generasi muda dan lulusan baru. Kedua, meningkatkan kualitas pekerjaan melalui pendidikan vokasi, pelatihan berbasis industri, dan penguatan kewirausahaan. Ketiga, memperkuat keterkaitan antara industri besar dan ekonomi lokal agar investasi menciptakan efek berganda yang nyata.

Arah kebijakan 2026 yang menekankan pertanian bernilai tambah, industrialisasi pangan lokal, penguatan UMKM, serta pariwisata berbasis ekonomi rakyat akan menentukan apakah momentum ini terjaga.

Pertumbuhan ekonomi pada akhirnya bukan sekadar soal angka PDRB. Ukuran paling nyata adalah apakah masyarakat memperoleh pekerjaan yang layak, pendapatan meningkat, dan masa depan generasi muda makin terbuka.

Satu tahun pertama Iqbal–Dinda memperlihatkan bahwa di tengah fase koreksi ekonomi, NTB mampu menambah puluhan ribu pekerjaan, menurunkan pengangguran, meningkatkan pekerja formal, dan mulai mengangkat kualitas SDM.

Ini bukan akhir perjalanan. Baru fondasi awal.

Pemulihan 2025 tidak berhenti di grafik pertumbuhan. Ia hadir dalam bentuk pekerjaan nyata, meningkatnya partisipasi kerja, dan membaiknya kualitas tenaga kerja. Di situlah makna terpenting capaian tahun pertama ini: ekonomi NTB mulai bergerak kembali bersama rakyatnya.

Rekomendasi Berita