Kesadaran Bencana Melalui Kearifan Lokal Ekologi di Lombok
- 31 Jul 2025 21:17 WIB
- Mataram
KBRN, Mataram: Lombok, sebagai salah satu wilayah kepulauan di Indonesia bagian timur, memiliki posisi geografis dan geologis yang menjadikannya rentan terhadap berbagai bencana alam, seperti gempa bumi, tsunami, banjir, kekeringan, abrasi pantai, hingga degradasi lingkungan akibat perubahan iklim. Namun di balik kerentanannya, masyarakat Lombok memiliki kekayaan kearifan lokal yang secara turun-temurun diwariskan dan terbukti menjadi salah satu bentuk resiliensi (ketangguhan) masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana.
1. Pengelolaan Ekologi Berbasis Adat dan Tradisi Lokal
Masyarakat adat di Lombok, khususnya komunitas Sasak, telah lama mempraktikkan pengelolaan sumber daya alam yang bersifat ekologis dan lestari. Salah satunya adalah sistem perlindungan terhadap hutan tutupan, yaitu hutan yang dianggap sakral dan tidak boleh dieksploitasi sembarangan. Selain itu, masyarakat juga menjaga sumber mata air (disebut aiq nyet) dengan pendekatan spiritual dan sosial, di mana air dipandang sebagai anugerah Tuhan yang harus dijaga secara kolektif.
Praktik seperti ini tidak hanya menjaga ekosistem tetap stabil, tetapi juga mengurangi risiko bencana ekologis seperti longsor, kekeringan, dan hilangnya biodiversitas. Kesadaran ini berkembang dari relasi harmonis antara manusia dan alam, di mana alam bukan hanya sumber daya, tetapi juga bagian dari kehidupan yang harus dihormati.
2. Tradisi, Ritual, dan Nilai Spiritual sebagai Media Kesadaran Bencana
Berbagai upacara adat di Lombok juga menyimpan nilai-nilai kearifan dalam mitigasi bencana. Misalnya, upacara Bau Nyale, yang berkaitan dengan musim laut dan migrasi cacing laut, mencerminkan kearifan dalam memahami siklus alam. Upacara roah bumi dan selamatan desa dilakukan sebagai bentuk rasa syukur sekaligus permohonan perlindungan dari marabahaya. Dalam kegiatan tersebut, masyarakat diingatkan untuk menjaga keseimbangan antara aktivitas manusia dan kondisi alam sekitar.
Nilai-nilai spiritual ini sekaligus menjadi sarana edukasi lintas generasi mengenai pentingnya menjaga lingkungan sebagai bagian dari ikhtiar menghindari bencana. Perpaduan antara kepercayaan, budaya, dan ekologi menjadi modal sosial dalam memperkuat kesadaran kolektif terhadap ancaman alam.
3. Arsitektur Tradisional yang Adaptif terhadap Risiko Gempa
Setelah gempa besar yang melanda Lombok pada tahun 2018, muncul kembali kesadaran terhadap pentingnya membangun rumah yang tahan terhadap guncangan. Rumah tradisional Sasak, seperti bale tani, dirancang dengan bahan-bahan alami seperti bambu, kayu, dan atap jerami yang memiliki kelenturan tinggi. Struktur ini tidak mudah roboh saat terjadi gempa, berbeda dengan rumah beton tanpa struktur anti-gempa yang banyak digunakan saat ini.
Konstruksi tradisional ini mencerminkan pemahaman masyarakat akan kondisi geografisnya dan menjadi bukti bahwa kearifan arsitektural lokal dapat berkontribusi signifikan dalam strategi pengurangan risiko bencana.
4. Peran Lembaga Adat dan Solidaritas Sosial
Kelembagaan adat dan sistem gotong royong di desa-desa di Lombok juga menjadi pilar penting dalam membangun kesadaran dan respons bencana. Dalam banyak kasus, sebelum bantuan resmi dari pemerintah datang, masyarakat lokal telah saling membantu membangun hunian sementara, menyalurkan bantuan logistik, dan memberikan dukungan psikososial kepada korban bencana.
Tokoh agama, tokoh adat, dan pemangku budaya sering kali menjadi juru bicara yang dipercaya dalam menyampaikan informasi bencana serta mengedukasi masyarakat agar tidak panik namun tetap waspada. Kekuatan solidaritas dan jaringan sosial lokal ini menjadi bagian penting dari sistem peringatan dini berbasis komunitas (community-based early warning system).
Penutup
Kearifan lokal di Lombok bukan hanya warisan budaya, tetapi juga merupakan modal sosial dan ekologis yang sangat penting dalam membangun kesadaran dan kesiapsiagaan terhadap bencana. Integrasi antara pengetahuan lokal dengan ilmu pengetahuan modern sangat diperlukan agar strategi pengurangan risiko bencana menjadi lebih adaptif, partisipatif, dan berkelanjutan.
Dengan memanfaatkan kekayaan budaya dan nilai-nilai lokal, pendekatan mitigasi dan adaptasi bencana di Lombok bisa menjadi lebih kontekstual, membumi, dan mampu memperkuat ketangguhan masyarakat dari tingkat rumah tangga hingga kelembagaan desa.
Oleh: Harry Irawan Johari, S.Hut.,M.Si., Dosen Ilmu Lingkungan UMMat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....