Musim Hujan Sumbawa dan KSB Diprediksi Mundur
- 06 Okt 2026 15:35 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Sumbawa — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas III Sultan Muhammad Kaharuddin Sumbawa, memprediksi awal musim hujan di Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) mengalami kemunduran dibandingkan pola klimatologis normal. Hujan diperkirakan baru mulai turun secara bertahap pada pertengahan hingga akhir Desember 2026.
Kepala BMKG Sumbawa, Samriyanto, mengatakan perubahan pola tersebut menunjukkan awal musim hujan 2026/2027 datang lebih lambat, dengan periode musim hujan yang relatif lebih basah dan berlangsung lebih singkat dibandingkan pola normal.
“Prakiraan musim hujan untuk Sumbawa dan Sumbawa Barat menunjukkan adanya pergeseran pola musim hujan dibandingkan rata-rata klimatologis, yakni lebih mundur, lebih basah dan lebih pendek,” kata Samriyanto, Selasa 6 Oktober 2026.
Menurutnya, awal musim hujan di Sumbawa dan KSB tidak terjadi secara serentak. BMKG memprakirakan wilayah KSB memasuki awal musim hujan lebih dahulu, yakni pada Dasarian II Desember atau sekitar 11–20 Desember 2026.
Hampir seluruh wilayah kecamatan di KSB diprediksi memasuki awal musim hujan pada periode tersebut. Sementara di Kabupaten Sumbawa, hujan mulai memasuki sejumlah wilayah pada periode yang sama, terutama kawasan bagian barat dan selatan.
Wilayah tersebut meliputi Kecamatan Alas, Alas Barat, Batu Lanteh, Orong Telu, dan Lunyuk. BMKG juga memprakirakan sebagian kecil wilayah Buer, Utan, Unter Iwes, Moyo Hulu, Lenangguar, dan Rhee mulai memasuki musim hujan pada Dasarian II Desember.
Memasuki Dasarian III Desember atau sekitar 21–30 Desember 2026, awal musim hujan diprakirakan meluas ke wilayah bagian tengah dan timur Kabupaten Sumbawa.
Wilayah yang diprakirakan memasuki musim hujan pada periode tersebut meliputi Kecamatan Sumbawa, Moyo Utara, Moyo Hilir, Labuhan Badas, Lopok, Lape, Lantung, Ropang, Maronge, Plampang, Labangka, Empang, dan Tarano.
BMKG juga memprakirakan sebagian besar wilayah Buer, Utan, Unter Iwes, Moyo Hulu, Lenangguar, dan Rhee memasuki musim hujan pada Dasarian III Desember.
“Secara umum, kedatangan awal musim hujan 2026/2027 di kedua kabupaten mengalami penundaan atau mundur jika dibandingkan dengan rata-rata klimatologis periode normal 1991–2020,” jelas Samriyanto.
Di Kabupaten Sumbawa, BMKG mencatat sejumlah wilayah mengalami kemunduran awal musim hujan hingga dua dasarian. Wilayah tersebut mencakup Kecamatan Alas, Alas Barat, sebagian besar Buer dan Utan, sebagian Rhee, serta sebagian kecil Plampang dan Empang.
Sementara itu, sejumlah wilayah lainnya mengalami kemunduran tiga dasarian atau lebih. Wilayah tersebut antara lain Batu Lanteh, Orong Telu, Lunyuk, Unter Iwes, Sumbawa, Lenangguar, Moyo Utara, Moyo Hilir, Moyo Hulu, Labuhan Badas, Lopok, Lape, Lantung, Ropang, Maronge, Labangka, dan Tarano.
| Baca juga: Kukin dan Pungkit Dapat Giliran Air Bersih |
Kemunduran tiga dasarian atau lebih juga terjadi di sebagian besar wilayah Plampang dan Empang serta sebagian kecil Utan dan Buer.
Untuk KSB, BMKG memprakirakan kemunduran awal musim hujan selama dua dasarian di sebagian wilayah Poto Tano, Taliwang, Maluk, dan Sekongkang. Kondisi serupa juga terjadi di sebagian kecil wilayah Seteluk dan Jereweh.
Kemunduran tiga dasarian atau lebih terjadi di Kecamatan Brang Rea dan Brang Ene, sebagian besar Seteluk, serta sebagian wilayah Poto Tano, Taliwang, Maluk, dan Sekongkang. Sebagian kecil wilayah Jereweh juga masuk dalam wilayah yang mengalami kemunduran tersebut.
Meski awal musim hujan mundur, BMKG memprakirakan panjang periode musim hujan di Sumbawa dan KSB relatif seragam. Durasi musim hujan diperkirakan berkisar 10–12 dasarian atau sekitar tiga hingga empat bulan.
“Meskipun awal musim hujan mengalami penundaan, durasi atau panjang periode musim hujan di seluruh wilayah Sumbawa dan Sumbawa Barat diprakirakan relatif seragam, yaitu berkisar antara 10 hingga 12 dasarian atau sekitar tiga hingga empat bulan,” ujar Samriyanto.
BMKG juga mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat, agar menyesuaikan berbagai aktivitas dengan perubahan pola musim tersebut. Salah satu sektor yang perlu mendapat perhatian ialah pertanian dan ketahanan pangan.
| Baca juga: Data Tak Sesuai, Bonus Atlet KSB Tertunda |
Penundaan awal musim hujan hingga pertengahan dan akhir Desember, dapat memengaruhi jadwal tanam petani. Karena itu, petani perlu menyesuaikan waktu tanam dengan prakiraan datangnya hujan untuk mengurangi risiko gagal tanam.
Pengelolaan sumber daya air juga membutuhkan perhatian. Dengan durasi musim hujan yang relatif singkat, pemerintah daerah dan masyarakat perlu memaksimalkan pemanenan air hujan serta mengoptimalkan kapasitas penampungan di waduk, embung, dan bendungan.
BMKG memprakirakan, puncak musim hujan berlangsung sekitar Februari hingga Maret. Pada periode tersebut, masyarakat dan pemerintah daerah perlu memanfaatkan potensi hujan, untuk mengisi cadangan air yang dapat digunakan ketika memasuki periode lebih kering.
Selain sektor pertanian dan sumber daya air, BMKG meminta masyarakat meningkatkan mitigasi terhadap potensi bencana hidrometeorologi. Konsentrasi hujan dalam periode yang relatif singkat, dapat meningkatkan peluang terjadinya hujan lebat dalam durasi pendek.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko banjir dan tanah longsor, terutama di wilayah yang memiliki kerentanan terhadap bencana hidrometeorologi.
“Pemerintah daerah dan masyarakat di wilayah rawan banjir dan tanah longsor perlu meningkatkan kewaspadaan pada puncak musim di bulan Februari dan Maret. Sehingga hal yang tidak diinginkan bisa diminimalisir,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....