Museum NTB Pertemukan Dunia Balap dan Budaya di Mandalika

  • 06 Okt 2026 06:24 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Museum NTB buktikan sport tourism dan culture tourism bisa beririsan lewat pameran Sekardiyu di MotoGP Mandalika

RRI.CO.ID, Mataram - Di tengah deru mesin dan sorak penonton MotoGP Mandalika, ada satu gagasan yang sedang diuji oleh Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB): apakah dunia olahraga balap yang serba modern bisa benar-benar nyambung dengan warisan budaya masa lampau? Lewat pameran bertajuk Speed, Energy, and Connection, Museum NTB mencoba menjawabnya dengan cara yang tidak biasa.

Kepala Museum NTB, Ahmad Nuralam, mengatakan pameran ini dirancang untuk mengajak pengunjung MotoGP mengenal kebudayaan NTB secara lebih dekat, sekaligus membangun ketertarikan mereka terhadap wawasan budaya lokal yang lebih komprehensif.

"Pameran ini bertujuan mengajak pengunjung MotoGP untuk mengetahui kebudayaan kita. Dengan mengetahui kebudayaan kita, mereka diharapkan lebih tertarik dan memiliki wawasan yang lebih komprehensif tentang NTB," ujar Nuralam.

Lebih jauh, Nuralam menyebut kehadiran pameran ini sekaligus menjadi pembuktian bahwa sport tourism dan culture tourism, dua jenis wisata yang selama ini kerap dipandang berjalan sendiri-sendiri, sesungguhnya bisa saling melengkapi dalam satu momentum yang sama.

"Memang kita ingin menampilkan bahwa sport tourism dengan culture tourism itu juga bisa beririsan," katanya.

Gagasan ini tentu bukan perkara mudah diwujudkan, mengingat pengunjung yang datang ke Mandalika umumnya hadir dengan tujuan utama menyaksikan kecepatan dan teknologi balap kelas dunia, bukan untuk mempelajari sejarah kain songket atau tokoh wayang Sasak. Di sinilah tantangan sekaligus peluang bagi Museum NTB untuk membuat budaya lokal terasa relevan di tengah hingar-bingar olahraga modern.

Jawabannya ada pada pemilihan tema utama pameran tahun ini. Kurator Pameran MotoGP, Bunyamin, menjelaskan Sekardiyu dipilih bukan tanpa alasan, melainkan karena punya keterkaitan erat dengan gagasan besar yang ingin dibangun lewat tema Speed, Energy, and Connection, khususnya dalam melihat hubungan antara kendaraan, perjalanan, energi, dan kecepatan.

"Jadi Sekardiyu dipilih sebagai objek utama karena memiliki keterkaitan dengan gagasan yang ingin dibangun melalui pameran yaitu Speed, Energy, dan Connection," ujar Bunyamin.

Sekardiyu sendiri merupakan karya budaya yang sarat makna gerak, kekuatan, dan kepahlawanan, sekaligus mencerminkan hubungan manusia dengan tradisi leluhurnya. Lewat kerangka berpikir ini, konsep pameran menjadi jembatan yang menghubungkan narasi budaya masa lalu dengan perkembangan kendaraan bermotor dan olahraga balap masa kini, dua hal yang sekilas tampak berjarak namun ternyata punya benang merah yang sama: soal gerak, kekuatan, dan energi.

Tahun ini menjadi kali kedua Museum NTB menggelar pameran serupa bertepatan dengan MotoGP Mandalika, setelah tahun sebelumnya mengangkat tema Lombok-Sumbawa Civilization. Pergantian tema dari potret peradaban secara luas menjadi fokus pada satu karya budaya seperti Sekardiyu, menunjukkan upaya Museum NTB untuk terus mengasah cara bertutur yang lebih tajam dan mudah dicerna pengunjung, tanpa kehilangan kedalaman makna budaya yang ingin disampaikan.

⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠Lewat pameran ini, Museum NTB berharap kecepatan mesin balap yang jadi daya tarik utama MotoGP Mandalika bisa berjalan beriringan dengan pengenalan budaya lokal, sehingga pengunjung yang datang tidak sekadar menyaksikan balapan, tapi juga pulang membawa wawasan baru tentang NTB.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....