BI NTB Dampingi Petani Sembalun Kembangkan Bawang Putih untuk Konsumsi

  • 02 Okt 2026 12:35 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Bank Indonesia Perwakilan Nusa Tenggara Barat (NTB) memperkuat pendampingan kepada petani bawang putih di Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, sebagai upaya menjaga produksi dan mengendalikan inflasi.
  • Program pengembangan klaster bawang putih akan dimulai pada tahun 2026 dan melibatkan empat kelompok tani: Lendang Luar, Pelangi, Gumilang, dan Maju Wangi.
  • Bawang putih ditetapkan sebagai komoditas unggulan yang strategis bagi perekonomian wilayah Nusa Tenggara Barat.
  • Swasembada bawang

RRI.CO.ID, Lombok Timur — Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) memperkuat pendampingan kepada petani bawang putih di Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur. Program tersebut diarahkan tidak hanya untuk menjaga produksi bawang putih sebagai komoditas unggulan, tetapi juga mendukung pengendalian inflasi di NTB.

Manager Kantor Perwakilan BI NTB, Rahardian Lithfan Intifazuddin, mengatakan pada 2026 dan seterusnya pihaknya akan mengembangkan klaster bawang putih bersama empat kelompok tani, yakni Kelompok Tani Lendang Luar, Pelangi, Gumilang, dan Maju Wangi.

“Tujuan kita mengembangkan klaster bawang putih ini pertama karena bawang putih merupakan komoditas unggulan. Kedua, berkaitan dengan inflasi karena bawang putih salah satu komoditas penyumbang inflasi,” kata Rahardian di Sembalun, Jum'at 2 Oktober 2026.

Menurutnya, pola pendampingan ke depan akan diperkuat melalui kerja sama dengan Universitas Mataram (Unram). Fokusnya bukan lagi sekadar penyediaan benih, melainkan mendorong petani menghasilkan umbi bawang putih berukuran lebih besar untuk kebutuhan konsumsi.

BI juga telah menyalurkan bantuan Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) atau PKKDA kepada empat kelompok tersebut. Bantuan antara lain berupa alat dan mesin pertanian (alsintan).

Rahardian menjelaskan, bantuan alsintan diberikan untuk menekan biaya produksi petani. Pasalnya, biaya pengolahan lahan menggunakan jasa traktor masih cukup besar.

“Tujuannya untuk mengurangi cost biaya. Biasanya kelompok di sini untuk menggarap tanah harus menyewa hand tractor. Biayanya bisa sekitar Rp1,5 juta sampai Rp2 juta per hektare,” ujarnya.

Demplot 2 Hektare di 2027

BI bersama Unram juga menyiapkan demonstration plot (demplot) pengembangan bawang putih dengan total lahan sekitar dua hektare. Masing-masing kelompok akan mengelola sekitar setengah hektare.

Rahardian mengatakan pelaksanaan demplot yang sebelumnya direncanakan pada November 2026 akan digeser ke awal 2027.

Penyesuaian jadwal dilakukan setelah mempertimbangkan kondisi musim hujan yang dinilai kurang optimal untuk pertumbuhan bawang putih.

“November bukan bulan yang optimal untuk menanam bawang putih karena musim penghujan. Kita undur sampai awal tahun depan, menunggu musim yang memang optimal,” katanya.

Sebelum demplot dimulai, BI dan Unram juga akan menggelar capacity building bagi kelompok tani. Kegiatan tersebut diarahkan untuk memberikan pengetahuan dan pelatihan mengenai teknik pengembangan umbi bawang putih untuk konsumsi.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Bawang Putih Lendang Luar, Haji Rusfaini Efendi Sembahulun, menyambut baik pendampingan dan bantuan BI tersebut. Ia mengatakan, sebagian besar masyarakat Sembalun merupakan petani dengan komoditas utama bawang putih, cabai, dan berbagai jenis sayuran.

Menurut Rusfaini, penggunaan alsintan sangat membantu petani, terutama dalam pengolahan lahan yang selama ini membutuhkan banyak tenaga kerja.

“Yang paling terasa secara langsung, yang semula kita menggunakan cangkul, sekarang dengan traktor jauh lebih cepat. Kalau menggunakan traktor, dari pagi sampai sore bisa mengolah sekitar dua hektare,” katanya.

Potensi Produksi Besar

Rusfaini menyebut Kelompok Tani Lendang Luar saat ini menaungi sekitar 45-50 hektare lahan dengan jumlah anggota sekitar 60-70 orang. Produktivitas bawang putih di lahan petani rata-rata mencapai sekitar 13-14 ton basah per hektare, meski hasilnya berbeda berdasarkan kondisi lahan.

Ia menilai pengembangan bawang putih untuk konsumsi memiliki prospek besar. Salah satu kuncinya adalah memperlebar jarak tanam agar tanaman memiliki ruang yang cukup untuk membentuk umbi lebih besar.

“Kalau tujuan kita konsumsi, yang dicari itu bawang dengan umbi besar. Salah satu yang harus diperhatikan adalah jarak tanam. Kalau jaraknya lebih renggang, populasi per hektare lebih sedikit sehingga umbinya bisa lebih besar,” jelasnya.

Rusfaini mengatakan petani Sembalun selama ini mengembangkan varietas lokal, di antaranya Sangga Sembalun dan Lumbu Putih. Menurutnya, bawang putih lokal memiliki karakteristik dan cita rasa yang berbeda dibandingkan produk dari luar daerah.

Ia berharap pendampingan BI bersama Unram dapat mengembalikan kejayaan bawang putih Sembalun sekaligus memperkuat posisi petani lokal.

“Kalau semua menanam bawang putih seperti dulu, insyaallah swasembada itu di depan mata,” ujarnya.

Selain persoalan produktivitas, Rusfaini menyebut keterbatasan kepemilikan lahan menjadi salah satu tantangan pengembangan bawang putih di Sembalun. Lahan yang semakin terbagi akibat pewarisan membuat sebagian petani memilih komoditas lain yang dinilai lebih sesuai dengan lahan sempit.

Meski demikian, permintaan bawang putih Sembalun masih cukup luas. Produk petani tidak hanya dipasarkan di wilayah Lombok, tetapi juga dikirim ke sejumlah daerah di luar NTB.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....