BMKG Prediksi Musim Kemarau Panjang NTB hingga Desember

  • 02 Okt 2026 09:12 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • BMKG memprediksi musim kemarau di NTB akan berlanjut hingga Desember 2024 dan belum akan segera berakhir.
  • Sebagian besar wilayah NTB saat ini berada pada periode puncak musim kemarau dengan kondisi yang terus kering.
  • Penguatan fenomena El Nino dan dominasi sirkulasi Monsun Australia menjadi penyebab utama memperpanjang periode tanpa hujan di kawasan NTB.

RRI.CO.ID, Lombok Barat — Musim kemarau di Nusa Tenggara Barat (NTB) diperkirakan belum akan segera berakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) NTB memprediksi kondisi kering masih dapat bertahan hingga Desember akibat pengaruh dinamika atmosfer yang memperkuat periode tanpa hujan.

Hasil pemantauan BMKG terhadap perkembangan atmosfer menunjukkan sebagian besar wilayah NTB kini berada pada periode puncak musim kemarau. Kondisi tersebut turut dipengaruhi menguatnya fenomena El Nino serta dominasi sirkulasi Monsun Australia yang membawa massa udara kering ke wilayah Indonesia.

Kepala Stasiun Klimatologi NTB, Nuga Putrantijo mengatakan perkembangan terbaru atmosfer menunjukkan pengaruh El Nino masih cukup kuat, termasuk terhadap kondisi cuaca di NTB.

"El Nino yang menguat turut memberikan pengaruh terhadap berlangsungnya musim kemarau di wilayah NTB," ujarnya, Rabu 30 September 2026.

Menurut Nuga, pengaruh tersebut membuat periode kemarau berpotensi berlangsung lebih panjang dibandingkan kondisi normal. Berdasarkan perkembangan atmosfer yang dipantau BMKG, masyarakat diminta bersiap menghadapi kondisi kering hingga penghujung tahun.

"Kondisi ini menyebabkan musim kemarau diperkirakan masih berlangsung sampai Desember mendatang," katanya.

Selain El Nino, BMKG mencatat keberadaan sirkulasi Monsun Australia atau angin timuran pada lapisan atmosfer 850 milibar masih mendominasi wilayah Indonesia. Pola angin tersebut turut membawa karakter udara yang relatif kering ke kawasan NTB.

Kondisi perairan juga menjadi faktor yang diperhitungkan. Anomali suhu muka laut di sekitar perairan NTB yang cenderung lebih dingin menyebabkan kandungan uap air di atmosfer berkurang. Situasi itu membuat pembentukan awan hujan menjadi lebih terbatas.

"Pengaruh angin timuran dan kondisi suhu muka laut di sekitar NTB ikut menyebabkan pasokan uap air berkurang," ucapnya.

Dampaknya tidak hanya dirasakan selama puncak kemarau. BMKG juga memperkirakan datangnya musim hujan tahun ini berpotensi mengalami kemunduran. Ketika hujan mulai turun, durasinya diprediksi relatif lebih singkat, yakni sekitar 10 hingga 12 dasarian atau setara tiga sampai empat bulan.

Perubahan pola tersebut menjadi perhatian karena periode kering yang lebih panjang dapat meningkatkan tekanan terhadap ketersediaan air. Sektor pertanian menjadi salah satu bidang yang perlu mendapat perhatian, terutama wilayah yang bergantung pada pasokan air permukaan maupun sumber air lainnya.

BMKG pun mengingatkan pemerintah dan masyarakat agar tidak mengabaikan potensi dampak lanjutan dari kondisi tersebut. Risiko kekeringan dapat meningkat seiring berkurangnya curah hujan dan panjangnya periode kemarau.

"Yang perlu diwaspadai adalah berkurangnya ketersediaan air, baik untuk kebutuhan masyarakat maupun areal pertanian," menegaskan.

Selain persoalan air, kondisi kering berkepanjangan juga dapat meningkatkan potensi terjadinya kebakaran lahan dan hutan. Karena itu, kewaspadaan dinilai perlu ditingkatkan, terutama pada kawasan dengan vegetasi yang mulai mengering.

BMKG meminta masyarakat menggunakan air secara bijak dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran selama kondisi atmosfer masih didominasi pola kering.

"Kami mengimbau masyarakat dan pemerintah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak musim kemarau yang lebih panjang, termasuk ancaman kekeringan dan kebakaran lahan maupun hutan," katanya mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....