Dari Yogyakarta, NTB Belajar Hidupkan Taman Budaya
- 29 Sep 2026 15:11 WIB
- Mataram
Poin Utama
- NTB belajar dari Yogyakarta mengembangkan taman budaya bukan sekadar tempat pertunjukan, tetapi sebagai ruang belajar, berkarya, dan bertemunya seniman dengan masyarakat.
- Pengalaman tersebut akan menjadi bahan penguatan Taman Budaya NTB agar budaya Sasak, Samawa, dan Mbojo terus hidup, diwariskan, dan berkembang lintas generasi.
RRI.CO.ID, Yogyakarta — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) membawa pulang sejumlah pelajaran dari Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia ke-25 di Yogyakarta. Salah satunya, bagaimana menjadikan taman budaya sebagai ruang yang benar-benar hidup, bukan sekadar tempat pertunjukan.
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal bersama Kepala Dinas Kebudayaan NTB Muhamad Ihwan menghadiri pembukaan Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia ke-25 di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, Senin malam, 28 September 2026.
Iqbal menjadi satu-satunya gubernur dari luar Daerah Istimewa Yogyakarta yang diundang dalam malam pembukaan tersebut. Temu Karya tahun ini diikuti 17 taman budaya dari berbagai daerah. Kegiatan mengusung tema Gyaning Rasa Mantraning Nusantara dengan semangat Srawung Karya, Gulawenthah Budaya.
Panggung pembukaan menampilkan Orkestra Taman Budaya Yogyakarta di bawah arahan konduktor Oni Krisnerwinto. Pertunjukan juga melibatkan anak-anak Bimbingan Seni Art for Children, Tyok Satrio, Princessa Alicia, Marcella Dee, Ndarboy Genk, Sanggar Kancil Art hingga maestro Didik Nini Thowok.
Rangkaian kegiatan tidak hanya berisi pertunjukan. Ada Suluh Sumurup Art Festival yang memberi ruang bagi seniman difabel, Pojok Kreatif yang menampilkan kerajinan dan produk ekonomi kreatif, hingga pertunjukan delegasi taman budaya, karawitan dan kegiatan membatik.
Konsep tersebut menjadi perhatian bagi NTB. Taman budaya dinilai perlu dikembangkan sebagai ruang belajar, berkarya dan mempertemukan seniman dengan masyarakat.
Kekayaan budaya Sasak, Samawa dan Mbojo dinilai memiliki modal kuat untuk dikembangkan melalui pola tersebut. Para maestro, sanggar, komunitas, perajin dan seniman muda membutuhkan ruang untuk belajar, berlatih, bereksperimen dan tampil.
Pengalaman Yogyakarta kemudian menjadi bahan bagi penguatan Taman Budaya NTB. Ruang latihan, lokakarya bersama maestro, pameran, pertunjukan dan dialog publik dapat dikembangkan dalam satu ekosistem.
Penguatan itu juga membutuhkan kolaborasi antara Dinas Kebudayaan, Taman Budaya, museum, pemerintah kabupaten/kota, sekolah, perguruan tinggi dan komunitas.
Dengan begitu, taman budaya tidak hanya ramai ketika ada pertunjukan. Lebih jauh, taman budaya diharapkan menjadi rumah kebudayaan yang terus melahirkan karya, mewariskan pengetahuan dan menyiapkan generasi penerus.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....