Ketika Luka Gempa Lombok Menjadi Bahasa Tari di Panggung Malaysia 2026

  • 18 Sep 2026 05:30 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Sanggar Adeva Devayoni mempersembahkan karya tari kontemporer berjudul 'Cracked' yang mengekspresikan pengalaman menghadapi bencana melalui bahasa artistik.
  • Pertunjukan tari 'Cracked' akan ditampilkan dalam MAP – The Melaka Art and Performance Festival 2026 di Melaka, Malaysia, pada tanggal 24–31 Agustus 2026.
  • Karya seni ini menunjukkan bagaimana luka dan keretakan dapat menjelma menjadi ekspresi artistik yang mampu menembus batas negara dan berkomunikasi secara universal.

RRI.CO.ID, Lombok Barat – Pengalaman menghadapi bencana tidak selalu berakhir sebagai kenangan pahit. Di tangan seniman, luka dan keretakan justru dapat menjelma menjadi bahasa artistik yang mampu menembus batas negara.

Hal itu ditunjukkan Sanggar Adeva Devayoni melalui karya tari kontemporer bertajuk “Cracked” yang tampil dalam MAP – The Melaka Art and Performance Festival 2026 di Melaka, Malaysia, pada 24–31 Agustus 2026.

Karya tersebut membawa pengalaman masyarakat Lombok dalam menghadapi bencana ke ruang pertunjukan internasional. “Cracked” tidak sekadar menampilkan rangkaian gerakan tari, tetapi mencoba menerjemahkan sisi rapuh manusia setelah bencana, termasuk ingatan, ketakutan, kepercayaan dan upaya untuk kembali bangkit.

Di bawah pimpinan Ni Putu Ari Handayani, S.Sn., karya itu dikembangkan dengan pendekatan tari kontemporer yang menempatkan tubuh sebagai medium utama untuk menyampaikan pengalaman pascabencana.

Tiga penari, yakni Rahmad Oscar Ridho, Muhammad Amir Aldzano dan Alvin Reiko Gunawan, membangun narasi pertunjukan melalui gerakan tubuh yang terfragmentasi dan gemetar. Keheningan juga digunakan sebagai bagian penting untuk memperkuat suasana emosional yang ingin disampaikan kepada penonton.

Inspirasi awal “Cracked” berasal dari pengalaman gempa bumi di Padang, kemudian berkembang dengan akar pengalaman nyata masyarakat Lombok. Dari sana, karya tersebut diperluas menjadi refleksi tentang kerentanan manusia ketika berhadapan dengan situasi yang tidak terduga.

“Keretakan tidak hanya berbicara tentang bangunan atau sesuatu yang hancur secara fisik. Ada keretakan yang tinggal dalam ingatan dan perasaan manusia,” demikian pesan yang dibawa melalui karya tersebut.

Dalam pertunjukannya, kondisi manusia setelah bencana diterjemahkan melalui tubuh yang seolah kehilangan keseimbangan, terpecah dan mencari pijakan. Namun, fragmen-fragmen itu perlahan diarahkan pada gagasan tentang hubungan antarmanusia dan kekuatan untuk bertahan.

Pesan itu menjadi salah satu inti “Cracked”: bencana meninggalkan jejak pada tanah sekaligus pada manusia. Meski demikian, keretakan tidak selalu menjadi akhir. Dari kondisi tersebut masih terbuka kemungkinan untuk kembali terhubung, membangun kepercayaan dan menumbuhkan harapan.

Kehadiran Sanggar Adeva Devayoni di MAP 2026 sekaligus membuka ruang bagi pengalaman lokal Indonesia untuk dibaca melalui bahasa seni yang lebih universal. Kisah tentang bencana yang berangkat dari pengalaman daerah kemudian dipertemukan dengan penonton dari ruang budaya yang berbeda.

“Cracked” dengan demikian tidak hanya menawarkan estetika tari kontemporer. Karya ini membawa gagasan tentang resilience, yakni kemampuan manusia untuk menghadapi keretakan, saling menopang dan berusaha bangkit setelah melewati situasi sulit.

Panggung Melaka menjadi bagian penting dari perjalanan karya tersebut. Dari pengalaman yang berakar pada bencana, Sanggar Adeva Devayoni menunjukkan bahwa cerita daerah dapat memperoleh ruang di panggung internasional ketika diterjemahkan melalui kreativitas dan kekuatan seni pertunjukan.

“Setiap keretakan meninggalkan bekas, tetapi selalu ada ruang untuk bertahan, kembali terhubung dan menjemput harapan,” pesan yang menjadi napas utama karya “Cracked” itu mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....