Hultah NWDI ke-91, UAS Ungkap Tujuh Keteladanan Maulana Syekh

  • 13 Sep 2026 15:14 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Timur - Ustaz Abdul Somad (UAS) menyampaikan tujuh pelajaran penting yang dapat diteladani dari perjalanan hidup dan perjuangan Maulana Syekh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Hal itu diungkapkan saat menghadiri Hultah NWDI ke-91 di Pancor, Lombok Timur, Minggu, 13 September 2026.

Dalam tausiyahnya, UAS mengaku kedatangannya ke Lombok bukan sekadar untuk menyampaikan ceramah, melainkan untuk belajar dan mengambil keberkahan dari perjalanan hidup Maulana Syekh. Ia kemudian merangkum sejumlah keteladanan yang dinilainya penting diterapkan oleh jamaah, khususnya para orang tua dalam mendidik generasi.

Pelajaran pertama yang disampaikan UAS adalah pentingnya kesungguhan orang tua dalam mengantarkan anak menuntut ilmu. Ia mencontohkan perjalanan Tuan Guru Abdul Majid yang mengantarkan putranya ke Makkah untuk belajar kepada ulama.

Menurut UAS, orang tua tidak cukup hanya mendaftarkan anak ke sekolah atau pesantren, tetapi harus memberikan perhatian terhadap proses pendidikan, mendekatkan anak dengan guru, serta mendoakan agar ilmu dan akhlak anak berkembang dengan baik.

"Kalau saya mau anak saya menjadi orang alim seperti Maulana Syekh, maka caranya adalah saya mesti mengantar anak saya. Jangan hanya sekadar mengantar daftar, dapat kartu mahasiswa, kemudian pulang. Dekatkan dia dengan syekh," kata UAS.

Pelajaran kedua adalah pentingnya pengawalan orang tua terhadap pendidikan anak. UAS mengingatkan bahwa pendidikan anak membutuhkan kesepakatan dan kekuatan antara ayah dan ibu.

Ia menilai orang tua harus kuat ketika anak berada di pesantren dan tidak menjadikan rasa rindu sebagai alasan untuk melemahkan semangat belajar. Menurutnya, kesedihan saat berpisah dengan anak jauh lebih baik daripada penyesalan akibat anak tumbuh tanpa pendidikan dan pengawasan yang baik.

"Kalau mau anak menjadi orang hebat, bapaknya mesti hebat, ibunya mesti hebat, mesti tegar dan mesti kuat," ujarnya.

Pelajaran ketiga adalah kemauan kuat untuk belajar dan kekuatan doa. UAS menggambarkan perjuangan Maulana Syekh yang menjalani proses belajar dengan tekun, termasuk menghidupkan malam dengan salat, zikir, wirid dan membaca.

Ia mengingatkan jamaah agar tidak meremehkan kekuatan doa dalam membentuk karakter anak. Dikatakannya, orang tua harus terus mendoakan anak agar menjadi generasi saleh dan salehah.

"Doa itu senjatanya orang beriman," ucap UAS.

UAS juga mengingatkan pentingnya memastikan makanan yang diberikan kepada anak berasal dari sumber yang halal. Makanan yang masuk ke tubuh akan berpengaruh terhadap pembentukan karakter dan kehidupan seseorang.

Pelajaran keempat adalah menjaga keterikatan dengan guru dan para ulama. Seseorang yang telah selesai menuntut ilmu tidak boleh memutus hubungan dengan guru-gurunya.

Ia mencontohkan Maulana Syekh yang memiliki hubungan keilmuan dan sanad dengan banyak ulama. Karena itu, generasi penerus juga harus menjaga hubungan dengan para ulama dan orang-orang saleh.

"Jangan pernah jauh dari ulama. Kita bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa, tetapi kita cukup dengan iman dan takwa serta keterikatan dengan orang-orang saleh," katanya.

Pelajaran kelima yang disampaikan UAS adalah pentingnya meninggalkan warisan bagi generasi berikutnya. Ilmu yang dimiliki seseorang tidak cukup hanya disimpan untuk dirinya sendiri, tetapi harus diwariskan melalui lembaga pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat.

Ia mengajak para pejabat dan tokoh masyarakat yang memiliki kesempatan dan kemampuan agar menggunakan jabatan serta sumber daya yang dimiliki untuk membangun lembaga pendidikan.

"Jangan mati sebelum meninggalkan warisan. Apa yang bisa kita tinggalkan untuk orang setelah kita?" ujar UAS.

Pelajaran keenam adalah pentingnya silaturahmi. UAS menilai Maulana Syekh merupakan sosok yang tidak pernah memutus hubungan dengan para ulama dan tokoh agama.

Hubungan tersebut bahkan terus dijaga dengan mengirimkan murid dan penerus untuk menyambung silaturahmi. Kehadiran sejumlah ulama dalam Hultah NWDI ke-91 juga menjadi bukti kuatnya jaringan silaturahmi dan hubungan keilmuan yang telah dibangun sejak masa Maulana Syekh.

"Ini bukan sekadar haul, tetapi ini adalah menyambung lagi tali silaturahmi," ujar UAS.

Pelajaran ketujuh adalah menjaga wirid, hizib dan zikir yang telah diwariskan para ulama. UAS menilai amalan tersebut menjadi bagian penting dari tradisi keagamaan yang diwariskan Maulana Syekh kepada generasi NWDI.

Ia menyebut Maulana Syekh tidak hanya meninggalkan lembaga pendidikan, tetapi juga karya-karya keagamaan, syair, nasihat, wirid dan hizib yang hingga kini terus diamalkan oleh jamaah. UAS juga mengapresiasi hubungan silaturahmi yang terus terjalin antara keluarga besar NWDI dengan para ulama dari berbagai daerah dan negara.

Dikatakannya Hultah NWDI ke-91 menjadi momentum untuk kembali memperkuat hubungan tersebut sekaligus mengambil pelajaran dari perjalanan panjang perjuangan Maulana Syekh. "Semoga kita bertemu karena Allah dan berpisah pun karena Allah," ucap UAS.

Melalui tujuh pelajaran tersebut, UAS mengajak jamaah untuk tidak hanya mengenang Maulana Syekh secara seremonial, tetapi meneladani semangat pendidikan, kesungguhan belajar, doa, hubungan dengan ulama, silaturahmi, serta kepedulian terhadap keberlanjutan pendidikan dan dakwah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....