PLN EPI dan Pemkot Mataram Kolaborasi Kelola Sampah Jadi Bernilai Ekonomi
- 10 Sep 2026 14:13 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram – PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) memperkuat kontribusinya dalam pengelolaan lingkungan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pengolahan Sampah Terpadu (TPS3R) di kawasan Project Gasifikasi PLTMGU Lombok Peaker, Kota Mataram.
Program tersebut diresmikan pada Kamis, 10 September 2026 dan menjadi bagian dari kolaborasi PLN EPI bersama Pemerintah Kota Mataram untuk mengurangi persoalan sampah sekaligus menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Direktur Gas dan BBM PLN EPI, Erma Melina Sarahwati, mengatakan pengelolaan sampah tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah. Dibutuhkan kolaborasi berbagai pihak, termasuk dunia usaha dan masyarakat.
“PLN tentu bekerja sama dengan Pemerintah Kota Mataram untuk bagaimana bersama-sama menanggulangi sampah. Ini salah satu wujud nyata kolaborasi PLN EPI dengan Pemerintah Kota Mataram,” ujar Erma.
Menurutnya, persoalan sampah merupakan tantangan yang terjadi hampir di seluruh wilayah seiring meningkatnya jumlah penduduk dan konsumsi masyarakat. Karena itu, sampah harus dikelola agar tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga dapat memberikan manfaat ekonomi.
Erma menegaskan, intervensi PLN EPI tidak berhenti pada pembangunan fasilitas TPS3R. Masyarakat juga diberikan pelatihan agar mampu mengelola fasilitas tersebut secara mandiri dan berkelanjutan.
“Untuk pembangunan dari sisi lokasi ini kemudian juga pelatihan bersama masyarakat sekitar. Kita harus memastikan bahwa program ini akan sustain. Harapannya tidak hanya sekali membangun kemudian selesai, tetapi ada kesinambungan dengan masyarakat,” katanya.
Pemilihan lokasi program di sekitar Lombok Peaker, menurut Erma, tidak terlepas dari keberadaan proyek gasifikasi pembangkit tersebut. Ke depan, PLTMGU Lombok Peaker akan beralih dari penggunaan bahan bakar minyak (BBM) menuju gas sehingga pembangkit menjadi lebih ramah lingkungan.

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Mataram, H. Lalu Martawang, mengapresiasi dukungan PLN EPI dalam membantu pemerintah kota menangani persoalan sampah.
Ia mengatakan Kota Mataram saat ini menghadapi keterbatasan kapasitas pembuangan sampah ke TPA Kebon Kongok. Kondisi tersebut mendorong pemerintah mencari pola pengelolaan sampah yang tidak lagi mengandalkan sistem kumpul, angkut, dan buang.
“Kita lebih dari itu sekarang. Sampah diambil, diproses menjadi komoditas yang memiliki produktivitas,” kata Martawang.
Menurutnya, keberadaan TPS3R dan maggot center dapat menjadi sarana edukasi bagi masyarakat untuk meningkatkan kesadaran dalam memilah sampah sejak dari sumbernya.
Sampah plastik dan anorganik dapat dipilah untuk mendapatkan penanganan sesuai jenisnya, sementara sampah organik, termasuk sisa makanan, dapat dimanfaatkan melalui budidaya maggot.
Pola tersebut dinilai mampu mengurangi volume sampah yang harus dibuang ke TPA Kebon Kongok sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Martawang juga menyebut kolaborasi tersebut sejalan dengan upaya penataan kawasan sekitar Lombok Peaker. Termasuk rencana penataan 43 pedagang kaki lima (PKL) yang berada di kawasan pinggir pantai.
Sebagian besar PKL tersebut bergerak di sektor makanan sehingga menghasilkan sampah organik cukup besar. Dengan adanya TPS3R, limbah makanan tersebut dapat diolah sehingga tidak seluruhnya berakhir di TPA.
“Core-nya PKL ini adalah makanan. Kalau tidak diintervensi, makanan ini akan menjadi limbah yang sangat banyak yang harus kita buang ke Kebon Kongok. Dengan yang sekarang diresmikan ini, kita bisa mengintervensinya menjadi sesuatu yang produktif,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua TPS3R Tanjung Karang Permai, Ridwan, mengatakan pengelolaan sampah saat ini telah melibatkan sejumlah sumber sampah di sekitar kawasan, termasuk 43 warung di kawasan wisata Pantai Viral, Bagik Kembar.
Sampah dari warung-warung tersebut mulai dipilah menjadi sampah organik dan anorganik. Sampah organik kemudian dimanfaatkan untuk pengolahan menggunakan maggot, sedangkan sampah anorganik dipisahkan untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Selain dari kawasan wisata, TPS3R juga menerima sampah dari lingkungan sekitar yang dikumpulkan menggunakan kendaraan operasional dan kemudian dipilah di fasilitas TPS3R.
Ridwan menilai program tersebut mulai memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
“Ekonominya sangat luar biasa. Sudah ada mata pencaharian baru untuk warga, khususnya masyarakat di lingkungan Bagik Kembar,” katanya.
Saat ini, pengelolaan sampah tersebut telah mempekerjakan sejumlah warga. Untuk pengelolaan sampah di kawasan Pantai Viral, terdapat sekitar 10 orang yang telah mendapatkan upah.
TPS3R juga mulai menerima limbah organik dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan sekolah di sekitar lokasi.
Ridwan menambahkan, masyarakat yang terlibat dalam pengelolaan TPS3R telah mendapatkan pelatihan sebelum program dijalankan. Pelatihan tersebut diberikan dengan dukungan PLN.
“Sudah ada pelatihan dari PLN. Sebelum ini kita ada pelatihan dulu, baru kita mulai bergerak,” ujarnya.
Program TPS3R tersebut diharapkan tidak berhenti di satu kawasan. Ke depan, pola pengelolaan sampah berbasis masyarakat itu dapat direplikasi di wilayah lain sehingga semakin banyak sampah yang dapat diolah menjadi sumber daya produktif dan semakin sedikit yang berakhir di TPA.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....