Air Bersih di Kenawa Diangkut dari Daratan

  • 08 Sep 2026 19:44 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Sumbawa — Kebutuhan air bersih di kawasan wisata Pulau Kenawa, Kecamatan Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), masih mengandalkan pasokan dari daratan. Setiap hari, pedagang mengangkut air menggunakan galon dari Poto Tano menuju Pulau Kenawa dengan perahu.

Ketua Pokdarwis Bua Lawah Poto Tano, Kamiollah, mengatakan pedagang selama ini membawa sendiri air bersih untuk memenuhi kebutuhan wisatawan, maupun aktivitas sehari-hari di Pulau Kenawa.

“Setiap hari seperti itu,” kata Kamiollah, Selasa 8 September 2026.

Menurutnya, pola distribusi tersebut menyulitkan pedagang yang berjualan di Pulau Kenawa. Pedagang harus mengeluarkan biaya, untuk membeli air sekaligus membayar ongkos angkut menggunakan perahu.

Pedagang membeli air di Poto Tano dengan harga sekitar Rp5 ribu per galon. Mereka kemudian membayar ongkos perahu sebesar Rp5 ribu untuk setiap galon yang dibawa ke Pulau Kenawa. Setibanya di lokasi wisata, pedagang menjual air tersebut kepada wisatawan dengan harga Rp15 ribu per galon.

Pedagang memanfaatkan air galon itu untuk kebutuhan minum maupun mandi wisatawan. Karena itu, kebutuhan air bersih terus berjalan seiring dengan aktivitas wisata di Pulau Kenawa.

“Air galon yang dijual bisa langsung untuk diminum dan untuk mandi,” ujarnya.

Kamiollah mengatakan, pemerintah sebenarnya dapat mengangkut air bersih dari daratan menggunakan tandon. Cara tersebut bisa mengurangi beban pedagang dalam memenuhi kebutuhan air di Pulau Kenawa.

Namun, skema itu juga berpotensi menghilangkan salah satu sumber pendapatan pedagang setempat. Selama ini, pedagang tidak hanya menjual makanan dan minuman, tetapi juga memperoleh pendapatan dari penjualan air galon kepada wisatawan.

“Pedagang masing-masing menjual air galon," jelasnya.

Pokdarwis bersama pedagang setempat, juga pernah membahas alternatif pemenuhan air bersih melalui pembangunan sumur bor. Upaya tersebut belum menghasilkan air yang dapat langsung digunakan, karena sumber air yang ditemukan memiliki rasa payau.

Kamiollah mengatakan, pihaknya harus melakukan proses penyulingan apabila ingin memanfaatkan air hasil sumur bor tersebut sebagai air bersih.

“Airnya payau. Jadi, harus disuling kembali jika ingin langsung digunakan,” katanya.

Persoalan air bersih tersebut, lanjut Kamiollah, sudah berulang kali disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat. Pokdarwis menyampaikan kebutuhan itu dalam sejumlah forum resmi bersama pemerintah daerah.

Selain air bersih, pihaknya juga mendorong pemerintah memperhatikan kebutuhan mandi, cuci, kakus (MCK) serta fasilitas listrik di Pulau Kenawa. Saat ini, pedagang masih mengandalkan panel surya untuk memenuhi kebutuhan listrik di lokasi wisata tersebut.

“Kita sering menyampaikan terkait air bersih dan MCK di Kenawa pada forum resmi. Tahun ini, kami dapat pembangunan MCK di Kenawa,” ujarnya.

Meski pembangunan MCK mulai berjalan, Kamiollah menilai kebutuhan dasar di Pulau Kenawa masih memerlukan penanganan lebih lanjut. Pemenuhan air bersih menjadi salah satu kebutuhan yang harus mendapat perhatian karena berkaitan langsung dengan aktivitas pedagang dan wisatawan.

Di sisi lain, Kamiollah meminta Pemkab KSB menata keberadaan pedagang di Pulau Kenawa. Penataan diperlukan untuk menjaga kawasan wisata tetap tertib dan tidak berkembang menjadi kawasan kumuh, akibat aktivitas perdagangan yang tidak teratur.

Ia berharap pemerintah daerah melibatkan pedagang dalam penataan kawasan. Sehingga, kebutuhan usaha tetap berjalan bersamaan dengan penyediaan fasilitas dasar di Pulau Kenawa.

“Kita berharap Pemda KSB bisa melakukan penataan pedagang di Kenawa. Kalau tidak ditata, kita khawatir lokasi tersebut menjadi kumuh,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....