Wakil Bupati Lombok Barat Minta ASN Berani Koreksi Pimpinan Keliru
- 08 Sep 2026 10:39 WIB
- Mataram
Poin Utama
- Wakil Bupati Lombok Barat mengingatkan ASN untuk tidak memaknai loyalitas hanya sebagai kepatuhan mutlak kepada pimpinan.
- ASN memiliki tanggung jawab untuk berani menyampaikan koreksi ketika kebijakan atau instruksi pimpinan berpotensi menyimpang dari aturan yang berlaku.
- Pesan ini menekankan pentingnya integritas dan keberanian ASN dalam menjaga kepatuhan terhadap hukum dan peraturan, bukan hanya kepada otoritas personal.
RRI.CO.ID, Lombok Barat — Wakil Bupati Lombok Barat Hj. Nurul Adha menyampaikan pesan keras kepada aparatur sipil negara (ASN) agar tidak memaknai loyalitas sebagai kepatuhan mutlak kepada pimpinan.
Menurutnya, ASN justru harus memiliki keberanian menyampaikan koreksi ketika kebijakan atau instruksi pimpinan berpotensi menyimpang dari aturan yang berlaku.
Pesan tersebut disampaikan Nurul Adha saat memberikan arahan dalam pelantikan H. Saeful Ahkam sebagai Penjabat Sekretaris Daerah (Pj Sekda) Lombok Barat di Ruang Senggigi, Kantor Bupati Lombok Barat, Senin 7 September 2026.
Pelantikan itu dihadiri sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD) serta para camat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Lombok Barat.
Nurul Adha menegaskan, keberanian mengingatkan pimpinan ketika terjadi kekeliruan bukan bentuk pembangkangan. Sebaliknya, sikap tersebut merupakan bagian penting dari integritas seorang aparatur negara.
“Kalau ada perintah saya sebagai pimpinan yang kemudian menyalahi aturan, saya meminta Bapak dan Ibu jangan sungkan untuk mengingatkan. Sampaikan dengan benar kepada saya bahwa itu salah,” tegasnya.
Ia mengingatkan ASN agar tidak mengambil keputusan yang keliru hanya karena merasa takut kepada atasan. Menurutnya, kepatuhan terhadap pimpinan tetap harus ditempatkan dalam koridor aturan dan tanggung jawab sebagai aparatur pemerintahan.
“Jangan sampai karena takut kepada pimpinan, kemudian kita melakukan sesuatu yang salah. Kalau ada yang keliru, harus kita luruskan,” ujarnya.
Bagi Nurul Adha, pemerintahan yang sehat tidak cukup hanya ditopang oleh aparatur yang memiliki kemampuan teknis. Dibutuhkan pula keberanian moral untuk menjaga aturan, memperbaiki kesalahan dan mempertahankan prinsip dalam menjalankan tugas.
Ia bahkan mengingatkan agar integritas tidak berhenti sebagai jargon yang kerap disampaikan dalam berbagai forum pemerintahan.
“Integritas jangan hanya menjadi slogan. Integritas inilah yang paling kuat dalam membangun sistem pemerintahan kita. Kalau integritas kita jaga, insya Allah sistem dan tata kelola pemerintahan juga akan berjalan dengan baik,” katanya.
Nurul Adha juga menekankan bahwa kesadaran untuk bekerja secara berintegritas semestinya tidak hanya muncul ketika aparatur berhadapan dengan lembaga pengawasan maupun penegak hukum.
Ia mengajak ASN memiliki kesadaran moral bahwa seluruh tindakan manusia tetap berada dalam pengawasan Allah SWT.
“Kenapa kita takut sekali ketika dipanggil KPK, tetapi kita lupa bahwa setiap saat dan di setiap tempat Allah mengetahui dan mencatat amal perbuatan kita,” ungkapnya.
Selain berbicara mengenai integritas, Nurul Adha meminta seluruh ASN terus memperbarui pengetahuan, terutama menyangkut regulasi pemerintahan dan ketentuan kepegawaian.
Menurutnya, dinamika jabatan dan perubahan tanggung jawab menuntut pejabat maupun aparatur untuk tidak berhenti belajar.
Ia mengakui dirinya juga harus terus meningkatkan pemahaman setelah memasuki lingkungan pemerintahan eksekutif.
“Saya sendiri dalam posisi ini harus banyak meng-upgrade pengetahuan. Kalau sebelumnya saya menjadi anggota DPR, tidak semua aturan pemerintahan maupun aturan kepegawaian saya pahami. Karena itu kita semua harus terus belajar dan menambah kapasitas,” jelasnya.
Ia berharap budaya belajar dan peningkatan kompetensi tersebut menjadi bagian dari keseharian ASN di lingkungan Pemerintah Kabupaten Lombok Barat, bukan sekadar dilakukan ketika menghadapi perubahan jabatan atau tanggung jawab baru.
Khusus kepada Pj Sekda Lombok Barat H. Saeful Ahkam, Nurul Adha mengingatkan bahwa tanggung jawab utama bukan terletak pada prosesi pelantikan, melainkan amanah yang harus dijalankan setelah menerima jabatan.
Ia menyebut Lombok Barat tengah menghadapi masa transisi yang membutuhkan koordinasi kuat serta kerja pemerintahan yang mampu menjawab ekspektasi masyarakat.
“Yang berat bukan pelantikannya, tetapi amanah dan tanggung jawabnya. Kita sedang berada dalam masa transisi dan masyarakat menunggu bukti bahwa pemerintah mampu keluar dari masa yang berat ini,” katanya.
Karena itu, Pj Sekda diminta memastikan koordinasi antarlembaga pemerintahan berjalan efektif. Perangkat daerah juga didorong tetap berkonsentrasi pada pelayanan publik serta program yang berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat.
Nurul Adha turut mengingatkan seluruh pejabat agar tidak menjadikan jabatan sebagai sesuatu yang harus dipertahankan dengan berbagai cara.
Menurutnya, pergantian posisi merupakan bagian dari dinamika pemerintahan. Jabatan pada hakikatnya merupakan amanah yang dapat diberikan maupun dicabut sesuai kehendak Allah SWT.
“Jabatan itu amanah. Allah memberikan jabatan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Allah juga dapat mencabutnya. Karena itu, yang harus kita jaga adalah bagaimana amanah tersebut kita laksanakan dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.
Pelantikan H. Saeful Ahkam sebagai Pj Sekda Lombok Barat pun menjadi momentum untuk memperkuat kembali fondasi tata kelola pemerintahan di tengah masa transisi.
Pesan Nurul Adha mempertegas bahwa ASN tidak hanya dituntut bekerja berdasarkan kompetensi, tetapi juga harus memiliki keberanian menjaga aturan.
Dalam pandangan tersebut, loyalitas bukan berarti selalu membenarkan pimpinan. Loyalitas justru ditunjukkan dengan keberanian menyampaikan kebenaran ketika terjadi kekeliruan, demi memastikan roda pemerintahan tetap berjalan sesuai ketentuan.
“Yang harus kita jaga adalah amanah tersebut kita laksanakan dengan sebaik-baiknya,” katanya mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....