Pemda Lombok Utara Andalkan PDAM Atasi Krisis Air Bersih di Gili Tramena
- 08 Sep 2026 10:38 WIB
- Mataram
Poin Utama
- Gili Tramena menghadapi krisis air bersih dengan kebutuhan mencapai 60-70 meter kubik per hari.
- Untuk sementara, Pemkab Lombok Utara mengandalkan PDAM Amerta Dayan Gunung untuk menjaga pasokan air di tiga gili.
RRI.CO.ID, Mataram -Gili Tramena menghadapi persoalan serius soal air bersih. Setiap hari, kawasan yang terdiri dari Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air itu membutuhkan 60-70 meter kubik air, sedangkan pasokan dari PT TCN masih terkendala sejumlah proses perizinan.
Pemerintah Kabupaten Lombok Utara kini mengandalkan PDAM Amerta Dayan Gunung sebagai solusi sementara. Pasokan air mulai dialirkan untuk mencegah krisis semakin parah dan memastikan kebutuhan dasar warga serta aktivitas wisata tetap berjalan.
Bupati Lombok Utara Najmul Ahyar mengatakan penggunaan PDAM menjadi langkah sementara agar kebutuhan dasar masyarakat di tiga gili tetap terpenuhi.
“Pemerintah Kabupaten Lombok Utara sementara mengandalkan PDAM untuk memenuhi kebutuhan air di kawasan Gili Tramena,” kata Najmul, di Mataram, Senin, 7 September 2026.
Menurut dia, pasokan air melalui PDAM sudah mulai dialirkan. Pemerintah daerah berharap langkah tersebut dapat membantu mengatasi persoalan pasokan air sembari menunggu penyelesaian persoalan perizinan PT TCN.
Persoalan PT TCN berkaitan dengan sejumlah proses perizinan, termasuk pemanfaatan ruang laut. Najmul menegaskan, persoalan tersebut bukan terletak pada teknologi pengolahan air laut atau sea water reverse osmosis (SWRO).
Menurut dia, masih ada sejumlah persyaratan dalam proses perizinan yang harus diperbaiki dan diselesaikan oleh perusahaan.
“Ada beberapa item terkait dengan proses ini yang masih belum dilaksanakan,” ujarnya.
Pemerintah Provinsi NTB bersama Pemerintah Kabupaten Lombok Utara sebelumnya memberikan diskresi selama enam bulan kepada PT TCN. Diskresi tersebut diberikan agar perusahaan tetap dapat membantu memenuhi kebutuhan air bersih sembari menyelesaikan proses perizinannya.
Najmul mengatakan jangka waktu enam bulan itu bukan berarti PT TCN harus menunggu sampai batas waktu tersebut untuk menyelesaikan persoalan.
Jika proses perizinan dapat diselesaikan lebih cepat, kata dia, maka persoalan tersebut dapat segera dituntaskan.
“Kalau dua-tiga bulan selesai, ya sudah selesai. Kalau satu bulan selesai, sudah,” katanya.
Menurut Najmul, proses perizinan menjadi panjang karena pengelolaan kawasan Gili Tramena berkaitan dengan sejumlah kewenangan dan lembaga. Pengaturan ruang laut, misalnya, melibatkan pemerintah pusat, sementara kawasan darat memiliki ketentuan tersendiri.
“Makanya izin yang diurus itu banyak sekali,” ujar Najmul.
Pemerintah daerah berharap seluruh pihak dapat membantu mempercepat proses perizinan tanpa mengabaikan aturan. Langkah itu dinilai penting agar persoalan pasokan air di Gili Tramena tidak kembali menjadi masalah yang berulang.
Selain persoalan air bersih, Pemerintah Kabupaten Lombok Utara juga tengah menyiapkan rencana menjadikan Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air sebagai satu kecamatan.
Najmul mengatakan proses regulasi untuk pembentukan kecamatan tersebut sedang berjalan. Menurut dia, penyatuan administrasi tiga gili diharapkan dapat mempermudah pengelolaan kawasan yang memiliki karakteristik khusus tersebut.
Sementara itu, terkait biaya air yang disalurkan melalui PDAM Amerta Dayan Gunung, pemerintah daerah masih membahas mekanismenya.
Untuk sementara, Najmul menyebut pemerintah mempertimbangkan pemberian air secara gratis untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat di tengah persoalan pasokan air bersih.
Kebutuhan air hingga 70 meter kubik per hari membuat keberadaan sumber pasokan yang stabil menjadi penting bagi Gili Tramena. Selain untuk kebutuhan warga, air bersih juga menopang kegiatan usaha dan pariwisata di tiga pulau kecil tersebut.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....