Laporan Kebakaran ternyata Prank, Damkarmat Lobar Tetap Siaga Penuh

  • 05 Sep 2026 16:24 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Barat — Satu laporan kebakaran cukup untuk membuat personel Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Lombok Barat meninggalkan pos dan bergerak menuju lokasi. Namun, setelah tiba di wilayah Lamper, Kecamatan Kuripan, petugas justru mendapati situasi yang berbeda.

Laporan yang sempat membuat petugas bergerak cepat itu diduga merupakan prank. Kendati tidak menemukan kebakaran, respons tersebut memperlihatkan satu hal penting: bagi petugas Damkarmat, setiap informasi tetap harus dianggap serius sebelum kondisi di lapangan dipastikan aman.

Peristiwa itu berlangsung Jumat malam, 4 September 2026. Pada waktu bersamaan, Pelaksana Harian (PLH) Sekretaris Daerah Lombok Barat, H. Saiful Ahkam, berada di lingkungan Damkarmat untuk melihat secara langsung kesiapan personel sekaligus mendengar berbagai kebutuhan dalam menjalankan tugas.

Menurut Saiful, kecepatan respons menjadi bagian yang tidak dapat ditawar dalam penanganan kebakaran. Sebab, ketika laporan benar-benar terjadi, keterlambatan beberapa menit dapat menentukan keselamatan warga maupun keberhasilan proses pemadaman.

Karena itu, kesiapsiagaan Damkarmat menurutnya harus diperkuat bukan hanya dari sisi pemerintah, tetapi juga melalui keterlibatan masyarakat.

Salah satu gagasan yang didorong adalah pembentukan kelompok masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap penanggulangan kebakaran atau Barisan Relawan Kebakaran (Balakar). Kelompok tersebut dapat dibekali kemampuan untuk melakukan pencegahan, mitigasi, hingga penanganan awal sebelum armada Damkarmat tiba.

“Bisa tiru daerah lain, adanya Balakar sangat membantu mengantisipasi, mencegah, serta melakukan penanganan awal kebakaran,” tegas Saiful.

Keberadaan kelompok masyarakat semacam itu dinilai strategis karena warga biasanya menjadi pihak pertama yang mengetahui munculnya api. Dengan pengetahuan dan pelatihan yang memadai, tindakan awal dapat dilakukan sambil menunggu petugas profesional tiba di lokasi.

Namun, penguatan sistem pemadam kebakaran tidak cukup hanya dengan mengandalkan respons masyarakat. Kecepatan armada dan ketersediaan personel juga menjadi faktor penting.

Dalam kondisi tertentu, petugas harus menembus jalan sempit maupun medan yang tidak mudah dilalui kendaraan besar. Karena itu, mobilitas kendaraan operasional menjadi salah satu kebutuhan yang harus terus diperhatikan.

Kepala Dinas Damkarmat Lombok Barat, H. Suherman, mengungkapkan adanya rencana penambahan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Damkarmat di wilayah Narmada dan Sekotong.

Penambahan dua titik pelayanan tersebut diharapkan mampu memperluas jangkauan petugas sekaligus memangkas waktu tempuh ketika terjadi kebakaran maupun keadaan darurat lainnya.

Setiap UPT diproyeksikan membutuhkan sekitar 20 personel terlatih. Saiful Ahkam menyambut baik rencana tersebut, tetapi meminta kebutuhan tenaga nantinya dikoordinasikan dengan Badan Kepegawaian Daerah (BKD).

Menurutnya, penambahan anggota tidak boleh sekadar mengejar kuantitas. Kemampuan teknis harus menjadi perhatian utama karena petugas Damkarmat menghadapi situasi yang berisiko tinggi.

“Personel yang nantinya ditempatkan juga harus langsung mendapatkan pelatihan,” ujarnya.

Pelatihan juga diperlukan untuk meningkatkan kemampuan petugas menggunakan peralatan khusus, termasuk Self-Contained Breathing Apparatus (SCBA). Perangkat tersebut menjadi bagian penting ketika petugas harus masuk ke lokasi dengan kepulan asap tebal atau lingkungan yang membahayakan sistem pernapasan.

Tugas Damkarmat bukan pekerjaan yang mengenal waktu. Ketika panggilan darurat masuk, personel harus segera bersiap meski berada di luar jam kerja.

Risiko yang dihadapi pun tidak ringan. Petugas dapat berhadapan langsung dengan api, asap beracun, bangunan yang rawan runtuh, hingga perubahan kondisi lokasi yang sulit diprediksi.

Persoalan jam kerja juga menjadi salah satu tantangan yang turut disoroti.

“Petugas Damkarmat ini memiliki risiko sangat tinggi,” ucap Syahabudin.

Sementara itu, Suherman menjelaskan bahwa pola kerja Damkarmat memang menuntut setiap anggota selalu siap dihubungi. Telepon anggota tidak boleh dimatikan agar ketika kejadian membutuhkan tambahan kekuatan, personel dapat segera bergabung.

“Ketika terjadi kejadian, seluruh anggota harus siap bergabung untuk memperkuat tim di lapangan,” jelasnya.

Laporan kebakaran di Lamper yang berakhir tanpa kobaran api akhirnya menjadi pengingat tersendiri bagi jajaran Damkarmat Lombok Barat. Sebuah panggilan yang ternyata tidak sesuai kenyataan tetap membutuhkan respons karena petugas tidak dapat mengambil risiko dengan mengabaikan laporan darurat.

Di balik laporan yang diduga prank tersebut, muncul pekerjaan rumah yang jauh lebih besar: memperkuat jaringan pelayanan, menambah personel berkualitas, meningkatkan keterampilan, memastikan kesiapan armada, sekaligus membangun kesadaran masyarakat.

Dengan langkah tersebut, Damkarmat Lombok Barat diharapkan tidak hanya mampu datang lebih cepat ketika api membesar, tetapi juga memiliki sistem pencegahan dan penanganan awal yang lebih kuat sejak kejadian pertama kali diketahui.

“Yang terpenting adalah kesiapan personel dan kemampuan memberikan respons terbaik ketika masyarakat membutuhkan,” katanya mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....