Kekeringan Berdampak Pada Area Pelepasan Ternak Doroncanga
- 05 Sep 2026 11:49 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Dompu — Kawasan Doroncanga di Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, mulai kehilangan aktivitas peternakan. Hamparan sabana yang selama ini dipenuhi ternak warga, dalam sepekan terakhir mulai terlihat sepi akibat kemarau ekstrem yang membuat ketersediaan pakan alami semakin menipis.
Kawasan yang berada di lereng Gunung Tambora tersebut sejak tahun 2005 telah ditetapkan sebagai area pelepasan ternak bagi masyarakat Kabupaten Dompu. Luasnya hamparan sabana, ditambah kondisi alam yang selama ini mendukung ketersediaan pakan, menjadikan Doroncanga sebagai salah satu kawasan favorit masyarakat untuk melepasliarkan ternak.
Ribuan ternak warga dari berbagai wilayah di Dompu selama bertahun-tahun memanfaatkan kawasan tersebut sebagai lokasi penggembalaan. Peternak tidak harus menyediakan pakan secara penuh karena ternak dapat mencari rumput dan tumbuhan alami yang tumbuh di kawasan sabana.
Namun, kondisi tersebut mulai berubah seiring datangnya musim kemarau yang berlangsung ekstrem tahun ini.
Rumput-rumput yang menjadi sumber pakan utama ternak mulai mengering. Sebagian kawasan sabana yang sebelumnya hijau kini berubah menjadi kering dan minim vegetasi. Kondisi itu membuat peternak mulai mengambil langkah antisipasi dengan membawa pulang ternaknya.
Salah seorang peternak asal Kelurahan Bali Satu, Kecamatan Dompu, Yakup Sueb, mengatakan, sejak sekitar sepekan terakhir dirinya mulai membawa pulang ternak yang sebelumnya dilepas di kawasan Doroncanga.
Langkah tersebut dilakukan bukan karena aktivitas pelepasan ternak dihentikan, tetapi sebagai upaya mencegah ternak mengalami kekurangan pakan yang berujung pada kematian.
“Ini untuk menghindari terjadinya kematian ternak akibat kekurangan pakan,” kata Yakup, Sabtu, 5 September 2026.
Menurut Yakup, kekhawatiran para peternak bukan tanpa alasan. Mereka masih mengingat kejadian pada 2015 ketika ratusan ternak yang berada di kawasan Doroncanga dilaporkan mati akibat kekurangan pakan.
Peristiwa tersebut menjadi pengalaman pahit bagi peternak. Sejak kejadian itu, sebagian peternak mulai mengubah pola pemeliharaan ternak ketika musim kemarau tiba.
Yakup mengatakan, sejak 2016 dirinya bersama sejumlah peternak lainnya mulai rutin membawa pulang ternak dari Doroncanga ketika kondisi pakan di kawasan tersebut mulai menurun.
Ternak yang sebelumnya dilepasliarkan di kawasan sabana kemudian dipelihara lebih dekat dengan pemilik. Dengan cara tersebut, peternak dapat mengontrol kondisi kesehatan ternak sekaligus memastikan kebutuhan pakan tetap terpenuhi.
Bagi peternak, langkah tersebut memang membutuhkan biaya dan tenaga tambahan. Jika ternak berada di kawasan pelepasan, kebutuhan pakan sebagian besar dapat dipenuhi secara alami. Sebaliknya, ketika dibawa pulang, peternak harus menyediakan pakan secara mandiri.
Namun, risiko kematian ternak dinilai jauh lebih besar jika tetap dibiarkan berada di kawasan Doroncanga ketika stok pakan sudah tidak mencukupi.
“Selain persoalan pakan, membawa pulang ternak juga memberikan keuntungan lain, terutama dalam pelaksanaan program kesehatan hewan,” katanya.
Yakup menjelaskan, selama ternak masih dilepasliarkan di kawasan Doroncanga, pelaksanaan vaksinasi, termasuk vaksinasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), tidak dapat dilakukan secara maksimal.
Petugas maupun pemilik ternak harus terlebih dahulu menangkap ternak yang jumlahnya cukup banyak dan tersebar di hamparan kawasan yang luas.
“Proses penangkapan bahkan dapat membutuhkan waktu hingga sekitar satu minggu,” katanya.
Kondisi ini membuat pelaksanaan vaksinasi terhadap ternak yang dilepasliarkan menjadi tidak mudah. Ternak yang berada jauh dari jangkauan pemilik maupun petugas akan sulit dikumpulkan dalam waktu singkat.
Karena itu, membawa ternak pulang pada saat musim kemarau tidak hanya menjadi langkah penyelamatan dari ancaman kekurangan pakan, tetapi juga memudahkan peternak melakukan pengawasan dan perawatan terhadap ternak.
Peternak dapat mengetahui secara langsung kondisi kesehatan masing-masing hewan, memberikan pakan tambahan, serta memastikan ternak mendapatkan vaksinasi sesuai program pemerintah.
Kawasan Doroncanga sendiri selama ini memiliki peran penting bagi peternakan masyarakat Dompu. Penetapan kawasan tersebut sebagai area pelepasan ternak sejak 2005 memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha peternakan dengan memanfaatkan potensi alam yang tersedia.
Model pelepasan ternak juga menjadi bagian dari kebiasaan peternak Dompu dalam memanfaatkan padang penggembalaan alami.
Namun, ketergantungan terhadap pakan alami membuat sistem tersebut sangat rentan terhadap perubahan kondisi cuaca.
Ketika musim hujan tiba dan sabana kembali menghijau, Doroncanga menjadi kawasan yang ideal bagi ternak. Sebaliknya, ketika kemarau berlangsung panjang, ketersediaan rumput menurun drastis dan peternak harus mencari alternatif untuk mempertahankan kondisi ternaknya.
Kemarau ekstrem tahun ini kembali menguji ketahanan sistem peternakan berbasis pelepasan tersebut.
Peternak kini dihadapkan pada pilihan antara tetap mempertahankan ternak di kawasan pelepasan dengan risiko kekurangan pakan atau membawa pulang ternak dengan konsekuensi harus menanggung tambahan biaya pakan dan perawatan.
Bagi Yakup dan sejumlah peternak lainnya, membawa pulang ternak menjadi pilihan yang lebih aman.
Pengalaman kematian ratusan ternak pada 2015 menjadi pelajaran bahwa kondisi pakan di Doroncanga harus menjadi perhatian serius ketika musim kemarau berlangsung panjang.
Peternak tidak ingin kejadian serupa kembali terulang. Karena itu, sebelum kondisi ternak semakin buruk, mereka memilih melakukan langkah antisipasi dengan mengurangi jumlah ternak yang dilepas di kawasan tersebut.
Kondisi ini sekaligus menjadi sinyal bahwa persoalan kekeringan di Dompu tidak hanya berdampak terhadap kebutuhan air bersih dan lahan pertanian, tetapi juga mulai mengancam sektor peternakan.
Jika kemarau terus berlangsung dan pakan alami tidak kembali tersedia, peternak berpotensi menghadapi beban lebih besar untuk menyediakan pakan tambahan bagi ternaknya.
Doroncanga yang selama ini dikenal sebagai salah satu pusat pelepasan ternak masyarakat Dompu, kini harus menghadapi tekanan perubahan kondisi alam. Sabana yang menjadi sumber kehidupan ternak perlahan mengering, sementara peternak mulai menarik ternaknya kembali ke permukiman.
Langkah tersebut menjadi upaya preventif agar kemarau ekstrem tahun ini tidak kembali meninggalkan cerita kelam seperti yang pernah terjadi lebih dari satu dekade lalu.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....