Kekeringan Meluas, 10 Desa di Dompu Krisis Air

  • 05 Sep 2026 11:50 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Dompu — Kekeringan melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat. Sedikitnya 10 desa di empat kecamatan terdampak kekeringan, tidak hanya menyebabkan krisis air bersih, tetapi juga mengancam lahan pertanian warga.

Empat kecamatan yang masuk dalam data wilayah terdampak yakni Kecamatan Woja, Dompu, Manggelewa dan Pajo. Dari seluruh wilayah tersebut, Kecamatan Pajo menjadi salah satu daerah dengan dampak kekeringan paling parah, terutama terhadap lahan pertanian.

Plt Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Dompu, Wan Muntajul, mengatakan kondisi kekeringan terus menjadi perhatian pemerintah daerah, terutama untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat yang terdampak.

Di Kecamatan Woja, warga terdampak tersebar di Desa Baka Jaya sebanyak 302 kepala keluarga (KK), Desa Nowa 195 KK, Kelurahan Kandai Dua 307 KK, dan Kelurahan Simpasai 125 KK.

Sementara di Kecamatan Pajo, kekeringan berdampak terhadap 40 KK di Desa Ranggo dan 467 KK di Desa Temba Lae.

Di Kecamatan Dompu, warga terdampak berada di Dusun Karaku, Desa Manggenae sebanyak 75 KK, Desa Mbawi 355 KK, serta Desa Dorebara yang baru masuk dalam pendataan dengan jumlah 322 KK.

Sedangkan di Kecamatan Manggelewa, kekeringan berdampak terhadap 47 KK di Desa Kampasi Meci.

“Untuk mengatasi krisis air bersih tersebut, pemerintah mengerahkan empat mobil tangki milik BPBD, PDAM, Dinas Sosial dan Dinas Lingkungan Hidup untuk mendistribusikan air kepada masyarakat,” katanya, Sabtu, 5 September 2026.

Air bersih yang didistribusikan tersebut bersumber dari sumur bor dalam di Kantor BPBD Dompu, sebelum kemudian disalurkan ke wilayah yang membutuhkan.

Namun, persoalan kekeringan di Dompu tidak hanya menyangkut kebutuhan air rumah tangga. Sejumlah lahan pertanian juga mulai terdampak, khususnya di wilayah yang mengandalkan curah hujan.

Di Kecamatan Pajo, kondisi tersebut dinilai cukup serius. Wilayah pertanian yang berada di kawasan perbukitan membuat akses terhadap sumber air menjadi terbatas. Kecamatan ini juga tidak memiliki sumber air permanen seperti embung maupun bendungan yang dapat menopang kebutuhan pertanian saat musim kemarau.

Sebagian besar petani di Pajo masih mengandalkan sistem pertanian tadah hujan, sehingga perubahan musim dan minimnya curah hujan langsung berdampak terhadap produktivitas lahan.

Kondisi diperparah dengan kerusakan hutan di wilayah perbatasan Kecamatan Pajo dan Hu'u yang disebut mengalami kerusakan cukup parah akibat alih fungsi hutan. Berkurangnya tutupan hutan turut dikhawatirkan memengaruhi kemampuan kawasan dalam menyimpan dan menyediakan sumber air.

“Selain empat kecamatan tersebut, Kecamatan Kilo juga mengalami dampak kekeringan, meski persoalannya lebih dominan menyasar lahan pertanian,” katanya.

Kondisi geografis lahan pertanian yang berada di kawasan perbukitan membuat wilayah tersebut memang menjadi salah satu daerah yang rentan mengalami kekeringan setiap musim kemarau.

Di sisi lain, petani di Kecamatan Kilo juga telah memiliki kebiasaan mengistirahatkan lahan pertanian ketika musim kemarau tiba, terutama pada lahan yang tidak memiliki sumber pengairan permanen.

Kondisi ini menunjukkan bahwa kekeringan di Dompu bukan hanya persoalan ketersediaan air bersih bagi masyarakat, tetapi mulai menjadi ancaman terhadap keberlanjutan sektor pertanian yang menjadi salah satu sumber penghidupan warga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....