Limbah Lumpur PDAM Batujai Disorot Dewan, Diminta Segera Cari Solusi
- 30 Agt 2026 15:34 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Lombok Tengah – Persoalan limbah lumpur hasil pengolahan air PDAM di Desa Penujak, Kecamatan Praya Barat, Lombok Tengah, kembali mendapat sorotan DPRD setempat. Limbah yang mengalir ke sungai dinilai berpotensi mengganggu ekosistem dan berdampak terhadap aktivitas warga.
Wakil Ketua DPRD Lombok Tengah, Lalu Akhyar, mengatakan persoalan tersebut sebenarnya telah berlangsung selama bertahun-tahun. Namun, dampaknya lebih terlihat saat musim kemarau karena tidak adanya suplai air dari Bendungan Batujai yang dapat mengencerkan endapan lumpur di aliran sungai.
“Ini sudah lama, bertahun-tahun. Kelihatan ketika musim panas karena tidak ada air suplai dari Bendungan Batujai,” kata Lalu Akhyar belum lama ini.
Menurutnya, saat musim hujan kondisi tersebut relatif tidak terlihat karena endapan lumpur terbawa oleh debit air dari Bendungan Batujai. Sebaliknya, ketika kemarau, lumpur mengendap dan membuat air sungai berubah keruh hingga mengental.
Akhyar menilai kondisi tersebut perlu mendapat perhatian serius karena tidak hanya menyangkut persoalan lingkungan, tetapi juga berpotensi mengganggu habitat di sungai.
“Kalau masalah ekosistem, sudah rusak. Lumpur itu bisa merusak ekologi, habitat yang ada di sungai bisa mati, bahkan bisa hilang,” ujarnya.
Ia juga menyoroti dampak limbah tersebut terhadap kawasan yang selama ini dikenal sebagai sentra kerajinan gerabah dan menjadi salah satu tujuan wisatawan. Bau yang ditimbulkan dari aliran sungai disebut dapat mengganggu kenyamanan wisatawan yang berkunjung.
“Di sana itu kampung gerabah yang memang sering dimasuki wisatawan. Baunya sampai ke sana, sehingga tamu-tamu tidak datang. Itu yang tidak enak,” katanya.
Akhyar meminta PDAM tidak membiarkan persoalan tersebut berlarut-larut. Menurutnya, perlu ada langkah teknis untuk menampung limbah lumpur sebelum dialirkan ke sungai.
“Segera. Paling tidak ada penampungan. Kalau sudah ditampung, kemudian disedot lagi, dibuang ke mana, itu urusan teknis. Intinya harus ditunjukkan dulu bahwa ini harus ada solusinya,” tegasnya.
Terkait adanya usulan agar lumpur hasil pengolahan tersebut dimanfaatkan kembali sebagai bahan gerabah, Akhyar menyerahkan persoalan itu kepada pihak teknis. Namun, ia menegaskan bahwa aspek lingkungan tetap harus menjadi prioritas.
Ia juga mengaku telah menyampaikan persoalan tersebut sejak 2019. Karena itu, ia berharap PDAM segera mengambil langkah konkret untuk menyelesaikan persoalan limbah tersebut.
“Ini sudah saya sampaikan sejak 2019, semenjak saya masuk di sini sampai sekarang. Secara teknis mereka mesti memikirkan itu,” ujarnya.
Akhyar mendorong adanya pengecekan langsung di lapangan untuk melihat dampak limbah terhadap kondisi sungai, termasuk membandingkan kondisi air sebelum dan setelah lokasi pembuangan limbah.
“Bisa dicek di lapangan, bandingkan mana yang ada lumpurnya dan tidak. Apakah di sini ada ikannya, di sini tidak ada,” katanya.
Menurutnya, pelayanan air bersih kepada masyarakat tetap harus berjalan, tetapi persoalan limbah dari proses pengolahan juga tidak boleh diabaikan.
“PDAM tetap jalan di pusat pengolahan. Cuma limbah ini juga harus menjadi pemikiran dan segera dicari jalan keluarnya, jangan berlarut-larut seperti ini,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....