Bekantan, Primata Endemik yang Hanya Ada di Pulau Borneo

  • 28 Agt 2026 16:13 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram – Bekantan atau dengan nama ilmiah Nasalis larvatus adalah salah satu satwa ikonik yang dimiliki Indonesia. Satwa ini sering dijuluki sebagai si hidung panjang dari Kalimantan dan menjadi maskot fauna provinsi Kalimantan Selatan. Namun yang menarik, bekantan hanya dapat ditemukan secara alami di Pulau Borneo yaitu wilayah yang saat ini terbagi antara Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam.

Hewan ini termasuk dalam kelompok primata atau mamalia yang masih berkerabat dengan monyet. Ciri paling khas dari bekantan tentu saja adalah hidungnya yang panjang dan besar. Pada pejantan dewasa ukuran hidungnya dapat mencapai lebih dari 10 sentimeter dan menggantung hingga menutupi sebagian mulut. Para peneliti meyakini hidung Panjang tersebut berfungsi untuk menarik perhatian betina, serta membantu menghasilkan suara yang lebih nyaring saat berkomunikasi.

Selain hidungnya yang unik, bekantan juga memiliki perut yang terlihat buncit. Hal ini bukan karena kelebihan berat badan, melainkan karena sistem pencernaannya yang dirancang khusus untuk mencerna daun daunan yang menjadi makanan utama mereka.

Bekantan hidup berkelompok dan dikenal sebagai satwa yang aktif di siang hari. Mereka menghabiskan sebagian besar waktunya di atas pohon terutama di kawasan hutan dekat sungai dan pesisir. Dalam YouTube RRI Net Official menjelaskan, karena kondisi evolusi lingkungan yang sangat khas, selama jutaan tahun Pulau Borneo berkembang sebagai habitat yang cocok bagi nenek moyang bekantan.

Pulau ini memiliki hutan rawa dan hutan mangrove serta kawasan sungai, lingkungan luas yang tentu saja sangat disukai oleh bekantan. Berbeda dengan banyak primata lain yang lebih menyukai hutan pegunungan atau hutan dataran tinggi, bekantan justru bergantung pada ekosistem lahan basah.

Mereka membutuhkan pepohonan yang tumbuh di sekitar sungai sebagai tempat berlindung mencari makan dan berkembang biak. Karena terisolasi secara geografi selama ribuan bahkan jutaan tahun, populasi bekantan berkembang secara khusus di Pulau Borneo dan tidak menyebar secara alami ke pulau-pulau besar lainnya di Indonesia. Hal ini yang membuat bekantan menjadi satwa endemik Borneo, yakni hanya hidup secara alami di wilayah tersebut.

Ada satu kemampuan bekantan yang cukup mengejutkan, bekantan dikenal sebagai perenang yang sangat baik, sangat berbeda dengan monyet pada umumnya yang menghindari air. Mereka mampu berenang menyeberangi sungai dengan jarak yang cukup jauh untuk berpindah dari satu area hutan ke area lainnya.

Bahkan bekantan memiliki selaput tipis di antara jari-jari tangan dan kakinya yang membantu mereka bergerak lebih efisien di dalam air. Kemampuan ini menjadi keunggulan penting karena habitat mereka memang banyak berada di kawasan sungai, rawa, dan mangrove. Tak jarang pula bekantan sering terlihat melompat dari pohon lalu berenang menuju tepian lainnya. Kemampuan unik inilah yang membuat bekantan berbeda dari primata lainnya di dunia.

Meski menjadi salah satu satwa paling khas di Kalimantan, bekantan saat ini meengalami berbagai macam ancaman. Kerusakan habitat akibat pembukaan lahan, penebangan hutan, kebakaran hutan, perubahan fungsi kawasan mangrove menjadi faktor utama berkurangnya populasi mereka.

Ketika hutan di sekitar sungai hilang, bekantan akan kehilangan tempat mencari makan, berlindung, dan berkembang biak. Selain itu pemecahan habitat membuat kelompok bekantan menjadi terpisah sehingga menyulitkan mereka untuk mempertahankan populasi yang sehat.

Dengan kondisi tersebut bekantan kini termasuk satwa yang dilindungi dan menjadi perhatian berbagai program konservasi di Indonesia. Pelestarian bekantan tidak hanya penting untuk spesies tetapi juga untuk melindungi ekosistem hutan dan sungai yang menjadi rumah bagi makhluk hidup lainnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....