Produksi Gabah Surplus, beras Penyumbang Inflasi Tertinggi
- 27 Agt 2026 11:06 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Dompu – Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, memang bukan daerah yang menjadi sampel penghitungan inflasi secara langsung. Namun, kenaikan harga sejumlah komoditas pangan serta persoalan pasokan tetap menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
Komoditas seperti cabai dan tomat masih menjadi kebutuhan yang kerap mengalami kelangkaan di pasaran, disamping minyak goreng dan tepung terigu. Pasalnya, pasokan komoditas ini, masih bergantung pada daerah lain, sehingga harga di tingkat konsumen mudah bergejolak ketika pasokan berkurang.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Dompu, Armansyah, mengatakan kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam menjaga stabilitas harga pangan di daerah.
Ironisnya, Dompu yang selama ini tercatat memiliki produksi pangan melimpah, khususnya padi, justru masih menghadapi persoalan harga beras. Dalam catatan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), beras menjadi komoditas penyumbang inflasi tertinggi di Kabupaten Dompu.
“Beras tercatat memberikan andil sebesar 0,15 persen, disusul bawang merah sebesar 0,10 persen. Sementara tomat dan cabai rawit masing-masing menyumbang sekitar 0,08 persen terhadap inflasi,” katanya, Kamis, 27 Agustus 2026.
Padahal, dari sisi produksi, Kabupaten Dompu masih mengalami surplus pangan. Kondisi ini dinilai menunjukkan adanya persoalan dalam mata rantai perdagangan dan distribusi hasil pertanian.
Harga sejumlah kebutuhan pokok di Dompu saat ini juga masih cukup tinggi. Beras premium berada pada kisaran Rp14.675 per kilogram, sedangkan beras medium sekitar Rp12.807 per kilogram. Bawang merah dijual dengan kisaran harga Rp31.136 per kilogram, sementara bawang putih bonggol mencapai sekitar Rp34.864 per kilogram.
Pemerintah pun berharap adanya kepedulian dan keberanian dari pengusaha lokal untuk mengambil peran lebih besar dalam menyerap hasil produksi petani Dompu. Pengusaha daerah didorong berani mengambil risiko membeli gabah petani dengan harga yang mengikuti perkembangan pasar.
“Jika pengusaha local mau sedikit berkorban, saya yakin beras dapat dikendalikan penuh,” katanya.
Selama ini, perdagangan gabah hasil produksi petani Dompu masih banyak didominasi oleh pengusaha dari luar daerah, terutama dari Kabupaten Sumbawa. Akibatnya, nilai ekonomi dari produksi pertanian Dompu dinilai belum sepenuhnya berputar dan memberikan dampak maksimal bagi pelaku usaha di daerah sendiri.
Persoalan lain yang juga menjadi perhatian adalah pola konsumsi masyarakat. Sebagian warga Dompu disebut masih lebih memilih membeli beras produksi dari Sumbawa dibandingkan beras yang dihasilkan petani lokal.
Kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah bersama. Dompu tidak hanya membutuhkan peningkatan produksi pangan, tetapi juga keberanian membangun sistem perdagangan yang berpihak kepada petani dan pelaku usaha lokal.
Sebab, surplus produksi tidak akan sepenuhnya menjamin harga tetap stabil apabila pasokan, penyerapan hasil panen, distribusi dan kepercayaan masyarakat terhadap produk lokal belum berjalan secara kuat.
Di tengah ancaman gejolak harga pangan, kepedulian untuk membeli dan mengembangkan produk Dompu menjadi salah satu kunci agar hasil pertanian daerah benar-benar mampu menjadi kekuatan ekonomi masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....