SMPN 1 Labuapi Atur Waktu Pemberian MBG Siswa agar Pelajaran Tetap Berjalan
- 24 Agt 2026 16:52 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Lombok Barat — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMPN 1 Labuapi, Kabupaten Lombok Barat, berjalan lancar. Pihak sekolah bersama Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mengatur mekanisme pembagian makanan agar program nasional tersebut tetap terlaksana tanpa mengganggu kegiatan belajar mengajar.
Kepala SMPN 1 Labuapi, Ahmad Ansori, mengatakan jadwal pembagian MBG telah disesuaikan berdasarkan kesepakatan antara sekolah dan SPPG. Menu makanan basah dibagikan setiap Senin hingga Jumat, sedangkan pada hari Sabtu siswa menerima menu MBG kering.
“MBG di SMPN 1 Labuapi berjalan dengan lancar sebagaimana yang sudah kita sepakati dengan SPPG,” ujarnya. Senin 24 Agustus 2026.
Untuk menjaga proses belajar tetap efektif, sekolah menyediakan satu jam pelajaran khusus bagi pelaksanaan program tersebut. Pembagian makanan dijadwalkan pada jam kelima, sekitar pukul 09.35 hingga 10.10 Wita, sebelum siswa memasuki waktu istirahat.
Menurut Ansori, pengaturan waktu itu sengaja diterapkan agar kegiatan MBG tidak berbenturan dengan proses pembelajaran di kelas.
“Kami siapkan satu jam pelajaran di jam kelima. Setelah anak-anak selesai menikmati MBG, mereka langsung keluar main. Waktu istirahat itu juga kami manfaatkan untuk menyiapkan dan menangani sisa makanan,” katanya.
Ia menegaskan, pola tersebut dipilih demi menciptakan pembagian makanan yang lebih tertib sekaligus memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berjalan sebagaimana mestinya.
“Tujuannya supaya proses belajar mengajar tidak terganggu dan pembagian MBG lebih tertib. Jadi tidak ada tumpang tindih antara kegiatan pembelajaran dengan program MBG,” katanya menegaskan.
Sebagai bentuk dukungan terhadap program tersebut, SMPN 1 Labuapi membentuk sejumlah tim khusus. Tim itu bertugas mendistribusikan makanan, mengawasi siswa selama kegiatan berlangsung di kelas, hingga menyiapkan dan mengatur ompreng setelah makanan dibagikan.
“SMPN 1 Labuapi sangat mendukung program ini. Kami sudah menyiapkan tim distribusi, tim pengawasan siswa, sampai tim yang menangani ompreng. Itu bentuk dukungan kami terhadap pelaksanaan MBG,” ucapnya.
Meski pelaksanaan program berjalan lancar, sekolah juga menerima sejumlah masukan dari para siswa terkait cita rasa makanan yang disajikan. Ansori menjelaskan, persoalan tersebut bukan terletak pada kandungan atau jenis makanan, melainkan selera siswa terhadap rasa masakan.
Menurutnya, sebagian siswa menilai makanan terasa kurang kuat karena penggunaan garam, cabai, maupun bumbu lainnya tidak sebanyak makanan yang biasa mereka konsumsi.
“Anak-anak sebenarnya bukan tidak suka dengan isi menunya. Kalau dilihat dari isinya, makanannya bagus. Hanya mungkin dari segi rasa, karena bumbunya lebih sedikit, garamnya kurang, cabainya kurang, sehingga ada anak-anak yang merasa rasanya kurang cocok,” ujarnya.
Namun demikian, Ansori memastikan komposisi makanan yang diberikan telah memenuhi kebutuhan gizi siswa. Menu MBG juga dilengkapi dengan buah dan susu sebagai bagian dari pemenuhan asupan nutrisi.
“Kalau dari sisi asupan gizinya sudah lengkap. Bahkan ada buah dan susu. Jadi persoalannya lebih kepada selera rasa anak-anak, bukan pada kandungan gizinya,” katanya mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....