Tradisi Maulid Dompu Tak Picu Inflasi Pangan Berlebihan

  • 18 Agt 2026 09:58 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Dompu — Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, memiliki tradisi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang berbeda dengan tradisi masyarakat di Pulau Lombok. Perbedaan tersebut membuat perayaan Maulid di Dompu tidak secara signifikan mendorong lonjakan permintaan bahan pangan seperti yang biasa terjadi di daerah yang memiliki tradisi Maulid lebih besar.

Di sejumlah wilayah di Pulau Lombok, tradisi Maulid biasanya dirayakan dengan kegiatan masyarakat yang melibatkan penyediaan berbagai jenis makanan dan kebutuhan pangan dalam jumlah besar.

Kondisi tersebut dapat meningkatkan permintaan terhadap sejumlah komoditas dan berpotensi memengaruhi harga.

Sementara di Dompu, peringatan Maulid umumnya berlangsung lebih sederhana dengan memadukan nilai-nilai keagamaan Islam, zikir, silaturahmi, serta tradisi budaya lokal yang diwariskan sejak masa Kesultanan Dompu.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Dompu, Armansyah, mengatakan pola perayaan Maulid di Dompu membuat kebutuhan pangan masyarakat tidak mengalami peningkatan secara berlebihan.

Meski demikian, aktivitas Maulid tetap memberikan pengaruh terhadap kebutuhan sejumlah komoditas pangan, terutama di wilayah yang memiliki komunitas masyarakat asal Lombok.

“Di Kecamatan Pekat dan Manggelewa, banyak dihuni suku Sasak yang menjalankan tradisi Maulid seperti di Pulau Lombok,” katanya, Selasa 18 Agustus 2026.

Menurutnya, aktivitas masyarakat tersebut tetap menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam menjaga ketersediaan pangan. Apalagi, sejumlah kebutuhan pokok masyarakat Dompu masih dipasok dari luar daerah.

Komoditas seperti cabai, sayur-mayur dan buah-buahan banyak didatangkan dari Pulau Lombok. Ketergantungan terhadap pasokan luar daerah tersebut menjadi tantangan tersendiri ketika permintaan meningkat.

Armansyah mengatakan kelangkaan pangan sebenarnya dapat diantisipasi apabila petani dan pelaku usaha lokal lebih aktif meningkatkan produksi dan mempersiapkan stok menghadapi momentum tertentu, termasuk perayaan keagamaan.

“Kelangkaan bahan pangan tidak akan terjadi jika petani dan pengusaha lokal lebih bergerak melakukan antisipasi dengan memproduksi bahan pangan sendiri,” ujarnya.

Ia menilai penguatan produksi pangan lokal menjadi penting, bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat saat perayaan Maulid, tetapi juga untuk mengurangi ketergantungan Dompu terhadap pasokan komoditas dari daerah lain.

Di sisi lain, tradisi Maulid di Dompu tetap menjadi momentum penting bagi masyarakat. Perayaan tidak hanya diisi dengan kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi ruang mempererat hubungan sosial antarwarga.

Di sejumlah kampung, masyarakat menggelar berbagai kegiatan yang melibatkan anak-anak hingga orang dewasa. Tradisi tersebut kemudian berpadu dengan berbagai hiburan dan lomba rakyat yang menjadi bagian dari kemeriahan perayaan.

Salah satunya adalah lomba panjat pinang yang digelar di sejumlah desa. Kegiatan tersebut menjadi hiburan masyarakat sekaligus memperkuat semangat kebersamaan dan gotong royong.

Kemeriahan lomba rakyat juga terlihat di sejumlah wilayah, terutama di Kecamatan Kempo, yang menjadikan momentum perayaan sebagai ruang berkumpul dan bersilaturahmi antarwarga.

Dengan karakter perayaan yang memadukan nilai keagamaan, budaya lokal dan hiburan rakyat, Maulid di Dompu tetap berlangsung meriah tanpa harus mendorong konsumsi pangan secara berlebihan.

Kondisi tersebut sekaligus menjadi peluang bagi petani dan pelaku usaha lokal untuk meningkatkan produksi komoditas pangan, sehingga kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi dari dalam daerah dan ketahanan pangan Dompu semakin kuat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....