Pertanian Jadi Penopang Ekonomi di Tengah Kemarau Ekstrem
- 18 Agt 2026 09:59 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Dompu — Sektor pertanian dinilai tetap menjadi salah satu penggerak utama perekonomian daerah, termasuk ketika kondisi ekonomi menghadapi tekanan. Ketangguhan sektor ini terlihat saat pandemi COVID-19, ketika berbagai aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat dibatasi, sementara kegiatan pertanian tetap berjalan.
Namun, ketangguhan tersebut tidak berarti sektor pertanian dapat dikelola tanpa memperhatikan kondisi alam. Pengelolaan yang tidak tepat, terutama ketika menghadapi perubahan musim dan keterbatasan air, justru dapat membuat sektor pertanian mengalami tekanan meski kondisi ekonomi secara umum relatif stabil.
Ekonom dari Indeks, Dr. Dodo Kurniawan, mengatakan sektor pertanian memiliki posisi strategis karena menjadi sumber penghidupan bagi sebagian besar masyarakat.
“Sekitar 40 persen bergantung hidup di sektor pertanian, sehingga perlu langkah-langkah pencegahan yang dilakukan oleh pemerintah provinsi maupun pemerintah daerah,” katanya, Selasa, 18 Agustus 2026.
Menurut Ketua STKIP Yapis Dompu ini, kondisi kemarau ekstrem saat ini telah memberikan dampak terhadap sejumlah lahan pertanian di Kabupaten Dompu. Beberapa wilayah seperti Kecamatan Kilo, Pajo dan Hu’u terpaksa mengistirahatkan sebagian lahan karena keterbatasan sumber pengairan.
Kondisi tersebut, kata dia, perlu diantisipasi melalui intervensi pemerintah, terutama dalam mengatur pola tanam yang disesuaikan dengan kondisi ketersediaan air.
“Terutama bagaimana mereka melakukan intervensi pada pola tanam,” ujarnya.
Dodo menilai, tidak semua komoditas pertanian memiliki kebutuhan air yang sama. Karena itu, pada musim kemarau ekstrem seperti saat ini, petani dapat diarahkan untuk memilih komoditas yang relatif tidak banyak membutuhkan air.
Strategi tersebut dinilai penting agar lahan pertanian tetap produktif tanpa semakin membebani sumber daya air yang tersedia.
Selain penyesuaian pola tanam, pemerintah juga perlu memastikan sarana pengairan yang telah diberikan kepada petani dapat berfungsi optimal. Salah satunya melalui pengaktifan kembali pompa-pompa air yang mengalami kendala mesin.
Menurut Dodo, intervensi tersebut memang membutuhkan anggaran. Namun, investasi pemerintah terhadap sarana pengairan akan menjadi penting untuk menjaga keberlangsungan produksi pertanian ketika terjadi kekeringan.
Ia menilai persoalan tersebut seharusnya tidak hanya ditangani ketika kemarau sudah terjadi. Sejak awal, pemerintah perlu mengaktifkan kelompok tani penerima manfaat bantuan pompa air dan membekali mereka dengan manajemen pemeliharaan mesin.
Dengan demikian, kelompok tani tidak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk merawat dan mengoperasikan sarana tersebut secara mandiri.
Beberapa tahun sebelumnya, pemerintah juga telah menggelontorkan bantuan mesin pompa air kepada kelompok tani. Bantuan tersebut, menurut Dodo, semestinya menjadi modal penting bagi petani dalam menghadapi kondisi kekeringan.
“Pada saat inilah petani seharusnya bisa mandiri dengan mengoptimalkan segala bantuan pemerintah yang siap digunakan pada saat kemarau ini untuk menaikkan air tanah,” ujarnya.
Dodo menambahkan, ketahanan sektor pertanian tidak hanya ditentukan oleh besarnya bantuan pemerintah, tetapi juga bagaimana bantuan tersebut dikelola dan dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Di tengah ancaman kemarau ekstrem, sinergi pemerintah dan kelompok tani menjadi penting. Pemerintah berperan memastikan kebijakan, anggaran dan infrastruktur pengairan tersedia, sementara petani dituntut menjaga dan mengoptimalkan sarana produksi yang telah diberikan.
Dengan pola tanam yang menyesuaikan kondisi iklim serta optimalisasi sumber air, sektor pertanian diharapkan tetap menjadi penopang ekonomi masyarakat Dompu, sekaligus mampu bertahan menghadapi tekanan perubahan cuaca dan keterbatasan sumber daya air.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....