Ketika Sirene Siaga Karhutla Menggema di Sigerongan
- 12 Agt 2026 20:37 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID Mataram – Lapangan Desa Sigerongan Selasa, 11Agustus 2026 pagi tidak hanya dipenuhi deretan kendaraan dinas dan personel berseragam. Di tengah hamparan lapangan, suara komando terdengar tegas, menandai dimulainya Apel Kesiapan Personel dan Peralatan Penanganan Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang digelar Direktorat Samapta Polda NTB.
Bagi sebagian orang, apel seperti ini mungkin terlihat sebagai rutinitas tahunan. Namun di balik barisan kendaraan pemadam, mobil operasional Karhutla, armada Brimob, hingga kendaraan BPBD Kota Mataram, tersimpan satu pesan penting, yakni kesiapsiagaan adalah benteng pertama sebelum bencana datang.
Musim kemarau yang identik dengan cuaca panas dan minim curah hujan selalu membawa ancaman kebakaran hutan dan lahan. Ketika api mulai menjalar, waktu menjadi faktor yang sangat menentukan. Karena itu, memastikan personel dan peralatan siap bergerak kapan saja menjadi langkah yang tidak bisa ditawar.
Di lapangan, sinergi antarlembaga tampak nyata. Personel Direktorat Samapta Polda NTB berdampingan dengan anggota Brimob, Polresta Mataram, petugas Pemadam Kebakaran, hingga Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram. Berbagai peralatan penanganan Karhutla juga ditampilkan untuk memastikan seluruh sarana pendukung dalam kondisi siap digunakan.
Bukan sekadar pemeriksaan kendaraan dan perlengkapan, kegiatan ini menjadi ajang memperkuat koordinasi antarinstansi. Sebab pengalaman menunjukkan, penanganan Karhutla tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kerja sama yang solid agar respons terhadap kebakaran dapat berlangsung cepat dan terarah.
Direktur Samapta Polda NTB, Kombes Pol. Joko Adi Nugroho, S.I.K., M.T., yang memimpin apel tersebut menegaskan bahwa kesiapan merupakan bagian dari komitmen Polri dalam melindungi masyarakat.
“Apel kesiapan ini merupakan bentuk ketanggapsegeraan kita dalam memastikan seluruh personel dan peralatan yang kita miliki siap untuk digerakkan kapan saja ketika terjadi bencana. Dengan kesiapan ini, kita harapkan setiap kejadian dapat ditangani dengan cepat, tepat, dan terkoordinasi,” ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan penanganan Karhutla tidak hanya bergantung pada kemampuan personel di lapangan, tetapi juga pada kuatnya sinergi seluruh unsur pemerintah dan stakeholder terkait. Karena itu, keterlibatan berbagai instansi dalam apel kesiapan menjadi langkah strategis untuk memastikan penanganan bencana dapat dilakukan secara terpadu.
Di tengah meningkatnya kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan, upaya pencegahan dan kesiapsiagaan menghadapi Karhutla menjadi investasi penting bagi masa depan. Kebakaran hutan dan lahan bukan hanya mengancam kawasan hijau, tetapi juga berdampak pada kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, hingga kualitas udara.
Karena itu, pesan yang mengemuka dari Lapangan Desa Sigerongan pagi itu bukan sekadar tentang kesiapan armada atau kelengkapan peralatan. Lebih dari itu, apel tersebut menjadi simbol komitmen bersama bahwa keselamatan masyarakat dan kelestarian lingkungan adalah tanggung jawab yang harus dijaga secara kolektif.
Saat ancaman Karhutla dapat muncul kapan saja, kesiapsiagaan seluruh unsur—mulai dari aparat, pemerintah daerah, hingga masyarakat—menjadi kunci utama. Sebab dalam menghadapi bencana, kecepatan merespons dan kekuatan bekerja bersama sering kali menjadi penentu antara ancaman yang membesar atau bencana yang berhasil dicegah sejak dini.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....