Mengulik Kisah Heroik "Perang Manggelewa"
- 11 Agt 2026 09:54 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Dompu - Kalahnya pasukan sekutu, yang di dalamnya ada penjajah belanda, atas pasukan Jepang dalam perang pasifik, disambut suka cita segenap bangsa Indonesia, termasuk masyarakat Kesultanan Dompu. Hadirnya “Dai Nipon”, sebutan bangsa Jepang, yang mengenalkan diri sebagai saudara tua Asia, mematik perlawanan-perlawanan milisi rakyat, untuk segera mengusir penjajah Belanda, yang sudah bercokol labih dari 3 setengah abad.
Meski kalah dalam perang pasifik, ternyata pasukan belanda yang di back up tentara Nika, juga tidak mau rugi. Pasukan Belanda yang bermarkas di Sumbawa, sebelum hengkang dari tanah air, bermaksud mengeruk seluruh harta kekayaan daerah bekas jajahannya.
Di Kabupaten Dompu, yang saat itu masih dalam wilayah administrasi kesultanan Dompu, upaya licik penjajah belanda yang di bantu pasukan dari Inggris, Amerika dan Australia atau biasa disebut Nika ini, berhasil di endus tilik sandi, Jeneli Kempo, Muhammad Amin atau Dae Emo.
Jeneli yang merupakan jabatan penguasa wilayah setingkat gubernur dalam tatanan kesultanan Dompu, segera mengatur strategi, untuk menghadang pasukan Nika disebuah wilayah yang kini di kenal dengan nama Kecamatan Manggelewa.
KH. Mokh. Nasuhi, Ketua MUI Kabupaten Dompu, yang juga wartawan senior dalam bukunya berjudul "Kisah Heroik Perang Menggelewa" menuturkan, perang manggelewa itu terjadi pada Bulan Maret tahun 1942. “Dimana pada tahun itu, Pasukan Jepang sudah mendarat di berbagai daerah di Indonesia, dan sudah menuju ke Pulau Sumbawa, yang saat itu masih bernama Sunda Kecil,” katanya, Selasa, 11 Agustus 2026.
Nasuhi, mengisahkan, kabar tentara Nika yang juga dibantu polisi pribumi itu, telah memasuki Nanga Tumpu, sebuah perbukitan perbatasan masuk Wilayah Dompu, sudah di dengar Jeneli Kempo.
Pasukan Nika dengan dua truk bersenjatakan modern itu, dipimpin dua petinggi Belanda, yakni Seorang berpangkat controler yang dipercayai untuk mengepalai pemerintah kerjaan Bima-Dompu dan seorang lagi bernama Hafd Boswesen atau kepala kehutanan Kerajaan yang terkenal dengan pangggilan Tuan Komba.
Jeneli Kempo, segera mengumpulkan pemuda-pemuda dari Kempo dan Kilo. Dengan menggunakan taktik perang gerilya, milisi rakyat pimpinan Jeneli Kempo itu, langsung menyusun strategi.
Sebuah pohon asam besar, dijadikan benteng bagi milisi rakyat ini. Lokasi stategis untuk melakukan penghadangan pasukan Nika, juga didukung lokasi sekitar pohon asam besar yang dipenuhi ilalang.
“Ternyata, misi yang dilakukan secara diam-diam itu, juga mendapat simpati dari petani-petani yang berladang di wilayah yang kini bernama Desa Soriutu,” katanya.
Setelah milisi rakyat berada pada posisi masing-masing, strategi penghadangan pun, dijalankan. Dengan mengunpankan tiga milisi yang menghadang dua peleton pasukan nika ditengah jalan, memaksa pasukan Nika Belanda ini, berhenti.
Masih dalam bukunya, Nasuhi mengisahkan, Tuan Komba pimpinan pasukan Nika Belanda, melihat ada tiga orang yang menghadang, turun dan mengusir tiga orang milisi ini, sambil mengacungkan senjata.
Kejadian itu terjadi pada malam hari, sehingga memberi kesempatan milisi rakyat pimpinan Jeneli Kempo dengan dibantu petani disekitar lokasi itu, untuk bergerak cepat.
“Sebelum peluru Tuan Komba melesat, tiga orang milisi itu sudah tidak berada di tempatnya,” katanya.
Merasa masuk jebakan, pasukan Nika belanda ini, bermaksut memutar balik mobilnya, kembali ke Sumbawa, dan mengurungkan niatnya. Namun, saat truk yang dikendarai pasukan Nika Belanda itu mundur, tiba-tiba ban belakang kendaraan, masuk lubang.
Kesempatan itu tidak disia-siakan pasukan milisi pimpinan Jeneli Kempo bersama laskar rakyat, untuk menghabisi pasukan nika belanda. Sayangnya, tidak ditemukan data yang kuat, berapa milisi rakyat yang gugur dalam pertemuran itu, namun yang pasti, dua petinggi Nika Belanda itu, tewas.
“Pertempuran sengit antara milisi rakyat pimpinan Jeneli Kempo yang bersenjatakan parang, tombak, panah dan bambu runcing melawan pasukan bersenjata modern, dimenangkan oleh pasukan milisi. Perang itu, dikenal dengan Manggelewa,” katanya.
Nasuhi menjelaskan, Menggelewa itu beranomin Asam Perang, karena menjadikan Pohon Asam besar dipinggir jalan, menjadi benteng pertahanan milisi rakyat pimpinan Jeneli Kempo.
Ternyata tidak hanya di wilayah soriutu, rencana penghadangan pasukan belanda nika itu, juga dilakukan milisi rakyat yang lain. Nasuhi mencatat ada 4 lapis pasukan yang menghadang dari titik Pohon Asam itu, hingga sampai ke wilayah Kandai dua, yang saat ini, masuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Woja.
Ketua Legium Veteran Republik Indonesia (LVRI) Cabang Dompu, A Rasul menambahkan, saksi sejarah Perang Manggelewa itu, tidak hanya milisi pimpinan Jeneli Kempo.
Satu orang anak pedagang alat pertanian bernama Mansur, turut berjuang dalam penghadangan itu. Veteran pejuang kemerdekaan itu, sayangnya sudah wafat tahun 2019 lalu. Dikisahkan, mansur belia yang saat itu diajak orang tuanya berdagang alat pertanian, saat penghadangan, sudah berada di sekitar lokasi penghadangan.
“Perang Manggelewa ini, masuk dalam arsip nasional Legium Veteran RI dan tercatat sebagai perang untuk persiapan kemerdekaan,” katanya.
Sayangnya, pohon asam besar yang menjadi saksi bisu perang manggelewa, kini sudah lenyap akibat pelebaran jalan nasional. Baik Nasuhi maupun A Rasul, meski saksi sejarah itu sudah tidak dinikmati lagi, namun semangat perjuangan warga Dompu, untuk mempertahankan kemerdekaan, tidak boleh lenyap.
Perang Manggelewa itu, kini diabadikan menjadi sebuah kecamatan yang masuk wilayah adminsitrasi kabupaten dan ditetapkan sebagai daerah agro bisnis, bernama Manggelewa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....