Kekeringan Mulai Kepung Permukiman Warga Pajo dan Kilo

  • 11 Agt 2026 09:59 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Dompu — Kecamatan Pajo dan Kecamatan Kilo, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, kembali menjadi wilayah yang terdampak bencana kekeringan. Tidak hanya mengancam lahan pertanian, kemarau tahun ini mulai berdampak langsung terhadap permukiman warga, terutama kebutuhan air bersih.

Plt. Kalak BPBD Kabupaten Dompu, Wan Muntajul, mengatakan sebanyak 535 kepala keluarga (KK) di dua kecamatan tersebut kini terdampak bencana kekeringan.

Dari jumlah tersebut, Desa Tembalae, Kecamatan Pajo, menjadi wilayah dengan dampak paling parah. Sebanyak 320 KK di desa tersebut mengalami kesulitan mendapatkan air bersih akibat sumber air yang mulai mengering.

Menurut Wan Muntajul, kondisi geografis Desa Tembalae yang sebagian wilayahnya berada di kawasan perbukitan menjadi salah satu faktor yang menyebabkan wilayah tersebut lebih cepat mengalami krisis air bersih saat musim kemarau.

Untuk memenuhi kebutuhan warga, BPBD Kabupaten Dompu bersama Polres Dompu meningkatkan distribusi bantuan air bersih ke Desa Tembalae.

"Untuk Desa Tembalae, distribusi air bersih lebih banyak kami alokasikan karena jumlah warga yang terdampak cukup besar dan kondisi wilayahnya memang berada di perbukitan," ujar Wan Muntajul, Selasa, 11 Agustus 2026.

Dalam sepekan, distribusi air bersih ke Desa Tembalae dilakukan hingga empat kali. Frekuensi tersebut lebih tinggi dibandingkan wilayah terdampak lainnya yang rata-rata mendapatkan distribusi air bersih sebanyak dua kali dalam sepekan.

BPBD bersama Polres Dompu terus memantau perkembangan kondisi di dua kecamatan tersebut, terutama terhadap wilayah yang mulai mengalami kesulitan memperoleh air untuk kebutuhan sehari-hari.

Wan mengatakan, distribusi air bersih akan terus dilakukan selama kondisi kekeringan dan krisis air masih terjadi. Penyaluran diprioritaskan bagi permukiman yang sumber airnya telah mengering atau tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.

Kecamatan Pajo dan Kilo selama ini menjadi wilayah yang cukup sering terdampak kekeringan. Selain kondisi geografis, keterbatasan sumber air juga membuat masyarakat di sejumlah desa cukup rentan ketika musim kemarau berlangsung panjang.

Pemerintah daerah mengimbau masyarakat untuk menggunakan air secara hemat dan melaporkan kepada pemerintah desa maupun BPBD apabila kondisi sumber air semakin kritis.

Penanganan kekeringan tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat, tetapi juga untuk mengantisipasi dampak yang lebih luas terhadap sektor pertanian dan kehidupan sosial warga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....